Semua acuh. Dan aku masih menangis. Menangis menahan sakit. Tergeletak. Dibiarkan begitu saja. Kursi hijau dari kayu berukuran 1,5 m itu menjadi dipannya. Semua sibuk sendiri. Semua yang berseragam putih tidak peduli. Mereka masih menagih kartu jaminan kesehatan. Kartu yang orangtuaku belum pernah tau bagaimana bentuknya.

Hidup memang tidak selalu dalam kondisi sehat. Orang berseragam putih itu tentunya sangat tau itu. Tapi… kenapa justru aku masih dibiarkan disini. Apa mereka kebanyakan menghirup obat bius, sehingga aku juga belum masuk ruang rawat. Tuhan, aku sedang sakit, Aku tau Engkau tidak buta membiarkanku tergeletak di dipan yang tidak empuk ini. Aku tau Engkau tidak tuli,menelantarkanku yang masih menangis terisak.

Lama juga kami duduk disini. Sudah lebih dari 30 menit. Sudah kupanggil berkali-kali suster itu, dengan tangisan merintih. Mungkin, ‘kiriman’ doa dari ibu yang mampu membuatku bertahan. Begitu juga ibu, diantara ucapan doa, ia memohon agar aku segera diberi bantuan pengobatan. Namun ternyata suster itu juga tidak luluh. Mungkin empatinya sudah menguap bersama alkohol yang tiap hari ia gunakan.

ADA APA? ADA APA?
Masukkan ke ruang rawat sekarang juga!
Saya bisa jamin untuk pembayarannya.

Suara tegas itu berteriak dengan lantangnya. Membuat seluruh seragam putih seakan berjalan secara otomatis. Tanpa basa basi menanyakan kartu. Suara lantang tersebut berasal dari pamanku. Dengan seragam kedinasan yang dikenakan, si seragam putih bisa percaya. Biaya rumah sakit akan mampu dilunasi si seragam dinas yang berteriak lantang itu.

Aku akhirnya dibawa ke ruang rawat. Semua alat kesehatan sudah siap bertugas. Siap diberi perintah dokter  dengan bantuan operasional dari perawat.  Aku tak tau pasti nama alat tersebut. Satu dokter dan dua perawat membantu proses perawatan. Memberikan penindakan dan perlakuan yang dibutuhkan. Aku akhirnya bisa dirawat juga. Rasa sakitnya perlahan berkurang.  Aku mulai tak awas akan keadaan sekitar. Terbuai dengan obat penenang yang mungkin terkandung di obat yang baru ku minum. Penglihatan mulai buram dan sadar yang mulai habis, kulihat ibu sedang duduk menghapus peluh di keningnya. Mari istirahat dulu Bu, ujarku dalam hati.

***

Kisah itu adalah sekelumit cerita di masa lampau. Hampir 25 tahun yang lalu. Cerita yang sangat kuat terpatri di ingatan. Cerita ibu tentangku yang dulu pernah sakit muntah sekaligus demam disertai diare akut. Cerita tentang saat dimana kedua orangtuaku belum pernah mengenal nama asuransi kesehatan.

Mungkin jika dulu sudah bergabung dengan salah satu asuransi kesehatan seperti produk dari Allianz, penanganan yang terlambat itu tidak akan aku alami. Kisah pilu di dipan itu, semoga tidak akan terulang. Denganmenjadi pemakai asuransi, mungkin cerita akan berbeda. Dengan asuransi akan bersahabat lebih baik dengan seragam putih kala sakit datang mengampiri.