Belakangan ini, ada beberapa cerita lucu  (menurut saya) yang saya alami sebagai blogger. Dibilang blogger sebenarnya saya masih berasa belum pantas sih. Karena masih ‘sangat’ baru banget  terjun bebas di dunia yang bersentuhan dengan menulis dan terus menulis ini. Tapi, urusan tulis menulis ini ternyata sangat menyenangkan buat saya pribadi. Kembali ke topik yang ‘lucu’ tadi ya. Belakangan ini berbagai undangan, dan ajakan teman, saya hadiri dan semuanya itu bertema keuangan, “finansial”. Sebuah tema yang saya sendiri butaaa’ banget. Kalo sudah bersentuhan dengan kata-kata ekonomi, kok saya berasa alergi. Entah ini mungkin karena diawali dari  nilai mata kuliah wajib ‘ekonomi’ saya yang tidak mumpuni. Atau saya yang memang membatasi diri. Satu atau dua faktor tadi, saya sadari menjadi faktor penyebabnya.  Hah, semoga gak telat banget deh.

Salah satu event berbicara tentang “Kenapa harus asuransi?”, lainnya, “Pentingnya berinvestasi”, atau yang lain lagi menyinggung tentang properti.  Dengan latar belakang pendidikan pangan dan gizi, mual-mual deh saya dengerinnya.  Ini ujung pembicaraan kemana ya?.. Ora mudeng sayah. Kan kalo ngomongin makanan, efeknya ke badan begini atau begitu. Itu jelas ceritanya. Kalo ngomongin ekonomi, kayak meraba dalam kegelapan. Hmm.. derita banget saya.

Tapi.. seiring kabut kelam yang sedang bersemayam di dalam fikiran. Ada semilir angin sejuk yang menanamkan paham baru untuk saya. Berbagai informasi yang saya dapat itu, membuat saya jadi melek. “Hellooow.. buka tuh mata, buka”, jadi monolog dalam hati.

“Dear Desi, kamu tuh harus melek finansial, harus ngerti tentang keuangan, gimana bisa makan dengan baik dan bergizi, kalo gak punya duit. Duit emang bukan segalanya, tapi kalo gak punya duit, terserang  psikosomatis, yang diserang lambung kamu, dan bisa menjalar ke jantung, dan semua organ tubuhmu. Tinggal nunggu waktu aja.  Boro-boro bisa ngomongin gizi.  Sadarlah, kamu butuh ilmu ini, katanya kamu pengen nularin melek gizi ke masyarakat Indonesia. Ada yang satu yang terlupa, kamu juga harus nularin virus sehat ini. Keluarga, teman-teman, sahabat, dan kalo bisa seluruh masyarakat Indonesia harus melek finansial.  Kalo udah melek kedua virus ini, yakinlah seluruh komponen bangsa akan merangkak maju menjadi masyarakat yang sukses, sehat dan mandiri”.

 

Belakangan ini kisah pergolakan batin itu menggoyah idealismeku. Angin sejuk itu ternyata membawaku sebuah paham yang harus bisa kupahami, bahwa setiap kita harus melek finansial. Setiap diri harus mengerti bagaimana cara mengelola keuangan, dalam skala rendah  dalam hal mengurus  keuangan pribadi, keluarga, keuangan UKM yang sedang dirintis, atau skala tinggi mengenai pengelolaan keuangan. Kayaknya aku terlalu lama tidur nyenyak di duniaku sendiri. Urusan  keuangan sepenting ini, yang menyangkut urusan perut hingga urusan tanah pekuburan, kenapa bisa terlewat ya. Oh God, semoga tidak terlambat.

 

Blogger  harus melek finansial

Blogger juga manusia lho, yaiyalah^^. Naahh, karena jawabannya iya.., seorang blogger bisa saja sakit, karena kelamaan atau berlama-lama di depan layar, jadi kurang olahraga. Seorang blogger bisa juga tua, kelamaan di depan layar, suka gak inget waktu, pagi udah berganti pagi lagi, umur makin bertambah. Seorang blogger  juga punya anak, yang butuh biaya  pendidikan yang tentu saja butuh rekening yang tidak saja gendut tetapi cenderung obesitas. Seorang blogger juga bakal punya cucu, yang akan lebih asyik kalo bisa berbagi ngebahagiain dan nyeneng-nyenengin cucu. Tuh, macem-macem kan kebutuhannya. Mulai menyangkut nyawa, kesehatan, pendidikan hingga cerita di hari tua. Gak salah lagi, kalo setiap blogger harus bisa bijak mengelola keuangan. Setiap blogger perlu perlindungan keuangan.

Dengan pendapatan atau pemasukan yang tidak tetap, seorang blogger harus bijak mengelola keuangan. Saat rekening sedang melimpah tidak tergiur untuk hura-hura. Saat kantong lagi tipis, bijak untuk mengelola pengeluaran.  Passive income yang diperoleh juga perlu ditangani dengan bijak. Godaan syaiton untuk menghamburkan uang terasa sangat kuat saat kondisi keuangan baik. Pasti ada saja keinginan  yang minta hak untuk dikabulkan.  Apalagi seperti saya yang punya ‘hobi’ belanja online.  Waahh, godaannya berat euy 🙁

Bermula dari ketidaksengajaan ikut beberapa event bertema finansial, saya sangat merasakan bahwa setiap kita wajib melek finansial. Banyak kejadian hidup terjadi diluar kendali kita.  kebutuhan  tersebut bisa berupa kecelakaan, sakit, kehilangan pasokan dari sumber keuangan, biaya pendidikan yang terus meningkat. Dan saat itu terjadi kita tidak oleng, tidak kehilangan pegangan. Pengetahuan finansial itu perlu. Perlindungan keuang an itu kudu.

Salah satu bentuk perlindungan keuangan adalah dalam bentuk asuransi. Asuransi menjadi pilihan tepat untuk mengendalikan risiko keuangan saat terjadi hal yang tidak diinginkan, kerugian, atau peristiwa yang mengurangi nyaman hati.  Dari hal tersebut, perencanaan pengelolaan keuangan perlu dilakukan sejak dini.  Menurut pemahaman saya, sejak muda (seperti saya^^), juga butuh asuransi. Jangan dikira semakin muda, gak butuh asuransi. Tetapi justru dapat double benefit. Selain dapat manfaat asuransi, premi yang dibayarkan juga semakin ringan. Sunlife Financial Syariah salah satu produk asuransi yang bisa dijadikan pilihan asuransi teman-teman. Untuk informasi lebih  lengkap bisa kunjungi di www. sunlife.co.id.

Naah, berasa lebih banyak manfaatnya bukan?..  Sebagai blogger, mari melek finansial dan kalo sempat mari menyebarkan virus positif ini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba SUN ANUGERAH CARAKA KOMPETISI MENULIS BLOG 2014

Related Post