Sebut saja namanya Kue. Eh, Bolu saja deh. Hmm, tampak bukan awalan yang baik untuk memulai menulis kisah yang ‘berat’ ini. Nenek Bolu, begitu 50 cucu-cucunya memanggilnya. Panggilan sayang untuk nenek yang awalnya dipanggil dengan Nenek Boru. Boru dalam bahasa batak berarti perempuan. Nenek perempuan begitulah terjemahan sederhana dari panggilan tersebut. Panggilan tersebut berubah menjadi Bolu, mengingat dulu cucu-cucunya yang masih kecil, dan belum bisa melafalkan huruf ‘R’ dengan baik.

Nenek Bolu, sudah lama ditinggal suami tercinta, yang meninggal karena mengalami penyakit jantung. Kini ia hidup bersama dengan anak dan menantu serta 5 cucunya. Yang dilakukannya kini hanya bercengkrama bersama cucu, ikut menghadiri beberapa pengajian, atau berbincang dengan anak-anaknya yang bergantian mengunjunginya setiap minggu. Tongkat di tangan kanan yang membantunya berjalan yang membuat ia kelihatan tak lagi mampu melakukan banyak hal.  Gurat wajah senja nan tegas terlukis di wajahnya. Dalam pandangan dari orang luar, hidupnya nikmat banget. Semua kebutuhannya diurusin menantu, anak, dan cucu-cucu.  Semua siap dengan ringan membantunya. Di usianya, kini ia hanya perlu menangani urusannnya sendiri.

Kini usianya sudah kepala tujuh, 75 tahun. Namun, nilai nominal rekeningnya di usia senja tersebut tidak turut ‘senja’.  Aliran rupiah demi rupiah  terus mengalir dari puluhan kontrakan yang dimilikinya. Kontrakan tersebut menjadi pemberian terindah dari sang suami. Aliran cinta sang suami mampu ia rasakan dan nikmati hingga kini. Ia memang sudah berumur senja, namun kondisi ekonominya tampak terus menunjukkan peningkatan. Di era inflasi yang tidak segan-segan naik, turut mempengaruhi nilai seluruh barang dan jasa. Seiring dengan hal tersebut,  nilai sewa kontrakan juga turut naik.  BINGO banget bukan. Nenek Bolu sekarang tinggal menikmati hidup. Urusan keuangan juga sudah dilimpahkan kepada anak-anaknya mengenai pengaturan manajemennya.  Ia sangat suka berbagi. Berbagi sekian nominal rupiah  pada setiap cucu saat kunjungan menjadi hal yang disukainya. Terlebih saat momen lebaran, uang THR dari Sang Nenek menjadi penyemarak saat hari besar itu.

Sekilas tampak, dunia sang nenek begitu bahagianya. Sejahtera di masa tua. Hal yang diidam-idamkan oleh setiap orang. Berbahagia dan mampu membahagiakan orang lain hingga ujung usia. Mozaik hidup yang happy ending bukan..

Namun dibalik itu semua, di masa-masa lalu, saat menjadi keluarga muda, ia didampingi seseorang yang memiliki konsep hidup yang baik, yang  memiliki perencanaan hidup yang jelas. Sang suami memiliki pengetahuan melek finansial. Usaha dijalankan dengan pengelolaan keuangan yang terencana. Setiap keuntungan yang diterima disisihkan dengan baik dalam bentuk investasi. Investasi dalam bentuk pembangunan kontrakan atau rumah sewa. Investasi  yang nyatanya dapat membuat sang istri sejahtera, dan dapat menikmati masa tua.

Saat ini, salah satu pelaku industri seperti Sun Life Financial dapat menjadi partner perencanaan keuangan keluarga. Perencanaan ini penting untuk mewujudkan masa tua yang bahagia dan mampu membahagiakan orang lain.

Tulisan ini diikutsertakan untuk Sun Anugerah Caraka Kompetisi Menulis Blog 2014

Related Post