“Ini kisah tentang perjalanan. Kisah ini lebih sederhana, tapi tetap bersejarah-setidaknya bagi semua orang yang terlibat di dalamnya. Dan sebagaimana lazimnya sebuah perjalanan, selalu disertai dengan pertanyan-pertanyaan. Lima pertanyaan yang dibawa oleh lima penumpang  dalam Kapal Blitar Holland. Timbulnya sebuah pertanyaan, tidak otomatis selalu ada jawabannya. Terkadang tidak ada jawabannya. Pun penjelasannya.

Perjalanan hidup adalah sebuah misteri Sang Perencana Kehidupan. Setiap insan pasti memiliki sebuah pertanyaan dalam kehidupannya. Berjuang untuk menemukan makna kehidupan, makna  perpisahan, penolakan, kebencian, kehilangan, kemunafikan, dan kepiluan sebagai pelengkap dari mozaik kehidupan manusia. Membaca Novel Rindu ini , kita akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Perjalanan tentang tokoh-tokoh  yang ditakdirkan untuk bertemu demi menjawab semua keraguan dan pertanyaan yang selama ini disimpan rapi di sudut hati. Perjalanan mulai dari Makassar, hingga ke ujung Aceh yang berhenti di setiap pelabuhan untuk mengangkut penumpang lain yang ingin berhaji.

Setting tempatnya berada di sebuah kapal besar, serupa kapal dalam film Titanic. Setting tempat  dan cerita sejarah, as always,  menjadi kekuatan sang penulis menggambarkan setiap peristiwa dan kegiatan yang terjadi di kapal besar ini. Sebut saja, novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah yang juga dikarang oleh Tere Liye, novel tersebut  bercerita tentang pasang surut cinta yang terjadi di sebuah sepit ‘perahu kecil’ milik Borno.  Novel Rindu ini juga memiliki latar tempat yang masih  berada di sekitar kelautan.

Adalah Ahmad Karaeng, tokoh sentral,  yang lebih dikenal seantero Makassar hingga Pare-Pare dengan sebutan Gurutta. Seorang kakek, berusia 75 tahun, ulama masyhur yang masih memiliki darah biru,  keturunan dari raja Gowa Pertama, Sultah Hasanuddin. Gurutta menjadi tokoh sentral, sebagai pemimpin dalam perjalanan selama 30 hari itu, dan berperan besar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tokoh  lainnya.

Pertanyaan pertama berasal dari seorang Bou (Bonda Upe), perempuan berusia empat puluh tahun yang melakoni sebagai guru mengaji anak-anak di kapal besar itu. Wanita yang yang belum bisa menerima masa lalunya dengan utuh seperti penerimaan dan pengertian yang baik dari suaminya, Enlai. Seorang perempuan yang ingin mencapai versi hebat dari seluruh manusia, namun belum selesai dengan dirinya sendiri.  Apa yang terjadi di masa lalu Bou? Mengapa ia begitu takut untuk menikmati santap bersama di Kota Batavia? Apa yang membuat ia akhirnya begitu tenang untuk keluar kabin bersama suaminya dan bersantap di restauran kapal?

Daeng Andipati, seorang pedagang besar di kota Makassar. Masih muda, kaya raya, pintar, punya dua anak pintar, Anna dan Elsa, serta istri yang sedang hail selama dalam perjalanan. Dengan kriteria selengkap itu, semua memandang keluarga Daeng Andipati adalah sebuah keluarga bahagia, keluarga yang patut mendapat tempat iri di mata orang luar. Orang memandang semua kriteria keluarga bahagia ada di keluarga Andipati. Namun, suatu malam, ketika berkumpul bersama dengan Ruben, Ambo, Gurutta, chef Lars di ruang restauran, pertanyaan kedua terkuak. Ruben-lah yang memicu pertanyaan tersebut keluar dari mulut Daeng Andipati.

Kisah tentang sebuah kesuksesan yang tidak berarti hidup yang bahagia. Pertanyaan yang hampir sama yang ditanyakan oleh tokoh Megamind dalam sebuah film. Hey, kenapa jadi bawa2 film kartun kesini.  Ketika ia sudah memiliki segalanya tetapi ia bingung dan hampa, mengapa ia tidak bahagia. Sebuah pertanyaan yang bersinggungan dengan kehidupan tokoh lainnya. Pertanyaan yang meluruhkan citra ‘bahagia’ dari keluarga Andipati. Pertanyaan tersebut juga sempat  menimbulkan perkelahian sehingga menyeret seseorang untuk di penjara di ruang bawah kapal. Apa pertanyaan dari Daeng Andipati sehingga ia tergugu menerima penjelasan dari Gurutta?

Kisah ini juga dihiasi tentang keromantisan Mbah Kakung dan istrinya. Saat – saat romantis dalam keseharian tiba-tiba berubah menjadi sebuah cerita sedih ketika sebuah peristiwa pilu terjadi saat perjalanan sudah mendekati kota tujuan, Jeddah. Gurutta berhati-hati menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Mbah Kakung. Usia yang tidak terpaut begitu jauh, membuat Gurutta takut salah pilih kata dan khawatir menyebabkan  pilu Mbah Kakung semakin bertambah.

Tokoh berikutnya adalah seorang Ambo Uleng. Seorang pemuda yang baru saja meninggalkan pekerjaannya sebagai juru mudi pertama di sebuah kapal Phinisi. Jabatan tertinggi yang ia miliki setelah berlayar selama 25 tahun di lautan, dan ia tinggalkan begitu saja. Seorang pemuda yatim piatu yang berkarakter pendiam, to the point, dan membawa ‘batu besar’ yang mengganjal di hatinya. Ia ingin pergi hingga keujung dunia meninggalkan jauh masa lalu dibelakangnya.  Banyak kejadian yang membuat pemuda ini berubah dan menjadi begitu dicintai oleh seisi penumpang kapal. Terlebih bagi Kapten Phillips yang awalnya sangat ragu, apakah Ambo Uleng akan membawa manfaat atau tidak saat perekrutan tenaga kelasi kapal.  Apa yang membuat Ambo Uleng berubah? Mengapa ia menjadi begitu dicintai yang lainnya? Pertanyaan apa yang mengganjal di hati pemuda itu? Pertanyaan tentang ia kehilangan orang tuanyakah? Atau pertanyaan tentang masa lalunya? Apakah perjalanan panjang ini mampu membuat Ambo Uleng melupakan masa lalunya?

Lalu, bagaimana dengan pertanyaan yang kelima? Pertanyaan yang dimiliki oleh Gurutta sendiri? Siapa yang akan menjawab pertanyaan Gurutta ? Apa yang menjadi pertanyaan dan resah hati orang yang sangat disegani, didengarkan ucapan dan nasehatnya?  Bagaimana ia menjadi tokoh yang munafik dalam kisah ini?

“Hari demi hari adalah pemberhentian kecil. Bulan demi bulan itu pun sekedar pelabuhan sedang. Pun tahun demi tahun, mungkin itu bisa kita sebut dermaga transit besar. Tapi itu semua sifatnya pemberhentian semua. Dengan segera kapal kita berangkat kembali, menuju tujuan yang paling hakiki”.

Kisah-kisah sentral tersebut didampingi beberapa tokoh yang menunjang kesempurnaan cerita. Seperti tokoh Anna, putri bungsu Daeng Andipati, memainkan peranan yang bersinggungan dengan setiap tokoh dalam novel ini. Kepolosannya dan kemurnian hatinya dalam memandang dunia menunjukkan sisi yang berbeda ditengah kerumitan dan kesemrawutan dunia yang dihadapannya.

Guru sekolah, Bapak Soerjaningrat dan Bapak Mangoenkoesoemo menjadi guru yang brillian yang mengusir jauh kebosanan anak-anak selama perjalanan. Contoh nyata  tentang bagaimana idealnya seorang pengajar dan berperan sebagai pendidik yang baik serta tidak membosankan khususnya tentang mata pelajaran sulit. Sentilan khusus yang ditujukan bagi seluruh pemilik profesi tanpa tanda jasa itu.  Hadirnya prajurit kerajaan Ternate, yang dari awal kemunculan mereka, saya bingung apa peran khusus untuk mereka. Dan ternyata  tampak kegagahannya berperan pada peristiwa  menjelang akhir kisah panjang itu.

Semua kisah itu berpadu dalam sebuah kapal uap kargo terbesar di zaman itu. Setiap tokoh merindukan kedamaian hati sehingga melakukan perjalanan panjang menuju sumber kedamaian, perjalanan untuk berhaji.  Seiring lama perjalanan tersebut, satu-persatu tokoh menunjukkan identitas aslinya, masalah yang dibawa sengaja atau tidak sengaja terbawa ke dalam perjalanan panjang ini, tiba-tiba terkuak dan menemukan muaranya. Kisah bahwa setiap orang akan diuji pada setiap hal yang dicintainya. Setiap manusia tidak akan terlepas dari ujian. Kisah tentang bahwa akan selalu ada orang yang menorehkan luka di hati. Yang mungkin akan menjadi penyulut kebencian. Kisah tentang memaafkan orang yang telah menaruh kebencian itu.

Selalu ada klimaks dalam setiap bab, sehingga susah sekali untuk terlepas meninggalkannya, karena setiap bab menyisakan tanya yang memaksa pembaca untuk terus membaca dan membaca. Novel ini memberi poin penting dan utama, khususnya untuk jiwa-jiwa yang ingin menjadi penulis. Novel ini wajib dibaca, bagaimana cara menjadi seorang penulis yang baik, dan bagaimana idealnya menggunakan waktu yang dihabiskan seorang yang bercita-cita menjadi penulis. Kesalahan pengetikan di novel ini terdapat  pada satu kata “pepohonan” di halaman 137. Namun tidak mengurangi esensi atau makna dari cerita dan  tidak terlalu berpengaruh.

Pemilihan bahasa dan penyampaian pesan sangat terasa dan menjadi kelebihan sekaligus kekurangan dari novel ini. Menjadi kelebihan, jika pembaca merupakan kaum muslim, sehingga pengaplikasian kandungan hadits dan beberapa ayat Al-qur’an menjadi lebih gampang dicerna. Tanggapan ‘pilih kasih’ terhadap pembaca bisa saja ditemui, jika kebetulan bertemu dengan pembaca novel yang anti genre religi yang tidak tergambar di judul novel.  Namun di sisi lain, akan tetap menjadi sisi kekuatan dari novel ini mengingat cara penyampaian pertanyaaan  di setiap bab yang pasti mengundang dahaga jawaban bagi siapapun yang membacanya.

Kisah yang dipadu dalam cerita dengan genre lengkap, bernafaskan action, humor, romansa, sarat religi, dan misteri. Buku ini sangat cocok dibaca bagi Anda yang ingin memperoleh ketenangan hati, bagi jiwa-jiwa yang gagal untuk move on, bagi jiwa-jiwa yang pernah memiliki pertanyaan kepada Tuhan, why me, atau, why now, bagi jiwa-jiwa yang ingin tahu apa yang disebut dengan kebahagiaan sejati dan cinta sejati.

Really worth to read, Trust me 🙂

Judul Buku : Rindu
Penerbit : Republika
Penulis : Tere Liye
Editor : Andriyati
ISBN : 978-602-8997-90-4
Tebal : ii+  544 halaman ; 13.5 x 20.5 cm
Tahun terbit : 2014
Cetakan Pertama : Oktober 2014

Related Post