Lomba Menulis · Resensi

(Resensi) How Aubrey Thaught Love

Judul buku : Letters to Aubrey
Jenis buku : Non-fiksi, Kisah inspiratif
Nama penulis : Grace Melia
Nama penerbit : Stiletto Book
Tahun terbit : Mei 2014
Jumlah halaman : 266 halaman

Buku ini lahir sebagai bukti cinta untuk Ubii (panggilan sayang untuk Aubrey).  Ubii adalah  princess yang sangat dicintai dan dibanggakan kedua orangtuanya. Ubii butuh perlakuan khusus, karena kompleksitas penyakit yang singgah di Ubii akibat terinfeksi virus rubella.

Buku ini merupakan ungkapan cinta yang dikemas dalam bentuk kumpulan surat. Surat menjadi media penyampai pesan cinta yang langsung ditujukan kepada seseorang yang lebih personal, hanya untuk Ubii. Lebih mendapat tempat ‘eksklusif’ kelak di hati Ubii ketika ia nanti bisa membaca buku cinta ini.  Lebih terasa romantisnya ^^.  Dan menjadi bukti cinta tertulis dari kedua orangtua yang tidak hanya dirasakan oleh Ubii, tetapi juga seluruh pembaca.

Setiap surat diakhiri dengan gambaran rasa yang sedang dirasakan oleh Mami Grace. Ungkapan rasa  yang sangat ekspresif, ‘your proud mommy’, ‘your hoping mommy’ , ‘your confused mommy’, ‘your disappointed mommy’, dan berbagai bentuk rasa lainnya. Setiap ungkapan tersebut, bentuk paling jujur yang mengajak pembaca untuk turut merasakan hal yang sama.

Ubii itu spesial. That’s the way you have to see your self
What’s wrong with you Princess? 🙁

Beberapa bentuk perasaan yang melarutkan pembaca ke dalam cerita.

“Love is a verb”

letters to aubrey.jpg

Kalimat cinta itu yang sedang diajarkan oleh Ubii  untuk mami dan papi-nya. Ikut tes echocardiography,  tes Brainstem Evoked Response Audiometry,  USG otak, bolak balik fisioterapi, agenda minum obat, tes rontgen paru, rentetan tes yang wajib dilewati Ubii sejak melihat dunia. Rangkaian ‘prosesi’ tes demi tes wajib dilakukan Ubii. Bentuk cinta yang Ubii terima berupa pendampingan yang tak mengenal ujung dari kedua orangtua.

Berbagai istilah kedokteran disampaikan penulis dengan bahasa sederhana, sehingga pembaca dengan latar belakang apapun, dapat dengan  mudah mengerti apa yang dialami Ubii. Yang membuat buku ini lebih menarik  adalah bahwa penulis memiliki dokumentasi pribadi dan menambah nyawa dari setiap kisah yang dialami Ubii.

Setiap perkembangan Ubii ‘sekecil’ apapun menjadi  benih cinta baru dan kekuatan tanpa akhir bagi kedua orang tuanya. Buku ini mengajarkan kita dengan sendirinya untuk  bersyukur lebih banyak dan lebih ‘rajin’. Perkembangan anak yang biasanya dianggap normal terjadi, memberi nilai dan makna yang tak biasa dan lebih ber’nyawa’ untuk Ubii sendiri. Setiap detik perkembangan datang dengan ‘anggun’nya. Dan semuanya menjadi sebuah keajaiban yang sarat sensasi rasa.

Penyampaian yang jujur dan apa adanya sangat terasa. Penulis menceritakan gamblang seluruh pergolakan batin, rasa lelah, atau kembali bersemangat  dari perjalanan perjuangan bersama Ubii. Surat demi surat mampu  mengajak pembaca seakan berada di tengah-tengah kegiatan perjuangan dan kegiatan Ubii. Rasa haru biru menguasai saat membayangkan Ubii melewati rangkaian tes yang tak sedikit.

Buku ini menjadi satu-satunya buku di Indonesia yang mengulas sebab dan akibat terinfeksi virus Rubella.  Tulisan berupa kisah nyata yang langsung dialami oleh penulis sendiri. Buku ini juga menyediakan informasi tentang TORCH, yang memberi wawasan dan kesadaran baru khususnya bagi wanita. Ungkapan cerita yang lengkap dan detail juga jadi nilai plus buku ini. Nilai tambah lainnya adalah informasi tentang berbagai jenis sensory play yang bisa diaplikasikan untuk merangsang perkembangan motorik halus anak.  Namun  beberapa pernyataan yang disampaikan dalam bahasa Inggris mengurangi keterjangkauan dan kepahaman pembaca yang kurang untuk kemampuan tersebut.

Buku yang sangat layak dibaca oleh siapapun, khususnya remaja putri yang akan menjadi calon ibu, yang sudah menjadi ibu, seorang ayah, inspirator, dan yang bergerak di bidang kesehatan. Remaja putri wajib membaca buku ini agar aware terhadap kesehatan reproduksinya. Buku ini dapat menjadi penyulut semangat bagi seorang ibu untuk tetap dan terus semangat dalam mendampingi, mengasuh, dan membesarkan anak di tengah kelelahan atau ketidaksabaran yang mendera.  Peran dan dukungan seorang ayah dalam merawat anak juga digambarkan di buku ini. Buku ini juga dapat menjadi pencerahan untuk para ayah yang terkadang terlalu  memberikan seluruh ‘beban’ pengurusan anak ke pundak seorang ibu. Selain itu, buku ini dapat menjadi ‘alarm’ bagi dunia kesehatan, bahwa pentingnya penyebaran informasi yang tepat bagi masyarakat tentang virus Rubella.  Bukan tak mungkin, masih banyak anak-anak yang terinfeksi virus rubella di luar sana yang terus berjuang di tengah keterbatasan ilmu dan penanganan.

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Review #LetterstoAubrey

Banner Review (1)

Related Post

4 thoughts on “(Resensi) How Aubrey Thaught Love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *