Lebih dari seperempat abad sudah, waktu menghantarkan si putri kecil tumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Masih segar selalu dalam ingatan beliau saat suara tangisan si putri kecil  menyibak subuh pagi.  Tetes air mata bahagia mengalir di sudut matanya. Pipi putri kecil sudah beradu dengan pipinya. Usai sudah penantian 9 bulan. Tersungging senyum di wajahnya. Tak mampu menyimpan sendiri rona bahagia. Ibu, terimakasih sudah melahirkanku dengan baik.

Kini, aku jauh dari wujudmu. Meski kita selalu bertukar kabar dan cerita, namun tidak ada yang bisa menuntaskan sebuah rindu kecuali sebuah pertemuan.  Pilihan untuk pergi merantau kulangkahkan dengan segenap ridhomu. Dengan harapan untuk menjadi yang terbaik untukmu. Tak selalu indah jauh darimu, namun kuyakin ada Allah yang lebih mencintaimu.

Pahlawan tanpa tanda jasa itu gelar yang tersemat untukmu ibu. Jika seluruh negri tidak memberikan gelar tersebut, engkau pasti selalu akan menjadi pahlawan terbaikku. Berangkat di pagi hari untuk menunaikan tugas, mendidik anak-anak bangsa. Setelah sebelumnya sibuk di dapur menyiapkan bekal pagi untukku pergi sekolah. Ibu pasti lupa atau bahkan tidak mengingat sama sekali, tadi malam aku membuat hatimu terluka. Menjawab pertanyaanmu dengan ucapan yang tidak semestinya. Ahh, aku memang keras kepala Bu. Maafkan.. Padahal nasehatmu tentulah benar. Mengapa aku bisa berbuat seburuk itu.

Sepulang dari tugas sekolah, masih menyibukkan diri untuk urusan rumah tangga.  Bukankah badanmu pasti masih lelah, suaramu juga pasti banyak berkoar-koar menyampaikan materi pelajaran atau  mendidik si anak yang suka cari perhatianmu di kelas. Tapii.. engkau tidak mengganggu jadwal belajar atau kursusku sekalipun. Aku hanya sibuk dengan duniaku sendiri. Dan kamu masih harus berjibaku mencuci piring kotor, mencuci baju, dan menyempatkan untuk menyetrika baju pramuka yang akan kupakai esok pagi. Betapa manjanya putrimu ini Bu.

Satu kesalahan terbesar yang masih saja terus kuingat adalah ketika terjadinya perbedaan pendapat antara kita. Selisih paham yang sempat membuat kita berada di ruang jeda. Ahh, bodoh sekali aku Bu. Aku, anakmu dengan segala keegoan dan argumentasi dangkal serta  kurang memiliki kepahaman tentang sebuah pengertian yang baik. Bahwa sikapmu itu adalah salah satu bentuk cinta terbesarmu.  Saat itu, aku sangat takut, jika Tuhan mencabut nyawaku dalam keadaan engkau sedang tidak ridho. Namun, itu memang imaji ciptaanku saja. Nyatanya, engkau mengingatkanku untuk makan sejenak, sebelum tidur malam. Memperbaiki selimutku sebelum engkau menuju tidur. Mengatakan bahwa engkau sangat mencintaiku sebelum meninggalkanku di kamar. Jatuh sudah airmata di sudut mataku. Namun aku menyembunyikannya darimu. Me-lap airmataku dengan ujung selimut. Belum berani untuk memperlihatkan wajah marah bercampur sendu ini dihadapanmu.

Malam pun beranjak pagi. Engkau datang menghampiriku, membangunkan untuk mengajak sholat subuh bersama. Aku menjawab iya saja untuk mengusir sedikit kekakuan. Hari terus berganti dengan udara yang baru. Aku masih saja menyimpan ego itu. Dan engkau pun juga masih sama, enggan untuk tidak peduli padaku.  Engkau masih memiliki hati yang sama setiap harinya. Engkau masih memiliki hati yang sempurna untuk menerima segala paket diriku yang tidak sempurna. Engkau masih memiliki samudera kasih untuk diriku yang banyak khilaf. Engkau masih memiliki samudera maaf yang untuk putrimu yang masih sarat alpa.  Ibu, engkau adalah bidadari surga yang telah Tuhan hadirkan dalam kehidupanku. Maafkan aku ibu, semoga Tuhan sediakan surga untuk hatimu yang sempurna itu.

 

Rindu itu bernama jantung hati
Laharnya kini sedang tumpah
Meluluhlantakkan jiwa
Meresonansikan alunan yang sama
Jarak sudah melebur bersama malam

Rindu kini berubah menjadi sesak
Membutakan logika
Menelan ambisi
Menghilangkan sendi kehidupan
Menghampakan bayangan lorong waktu

Tuhanku, peluk hati wanita yang kucintai itu
Hilangkan semua resahnya tentangku
Tuhanku, peluklah mimpi-mimpiku
Hati wanita yang kukasihi itu harus kubahagiakan

Buitenzorg, 2014

 

Aku bersama Ibu, Si Pemilik Hati yang Sempurna

 

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera

 

 

 

Related Post