“Mengapa begini? Jiwa kedaulatan saya terusik. Seolah saya melihat ke belakang, ada bayang-bayang penjajah dengan semena-mena merampas padi yang menguning, karena kita hanya bisa menumbuk padi menggunakan lesung, sedangkan sang penjajah punya mesin sleyp padi yang modern. Seolah saya melihat penjajah menyedot minyak bumi di Tanah Air kita seenaknya, karena kita tidak menguasai teknologi dan tidak memiliki uang untuk mengolahnya. Inikah yang disebut neo-kolonialisme yang diramal oleh Bung Karno 50 tahun yang lalu? Ketidak-berdayaan suatu bangsa menjadi sumber keuntungan bangsa yang lain? Demikian jugakah pengiriman virus influenza di WHO yang sudah berlangsung selama 50 tahun, dengan dalih oleh karena adanya GISN (Global Influenza Surveillance Network). Saya tidak mengerti siapa yang mendirikan GISN yang sangat berkuasa tersebut sehingga negara-negara penderita Flu Burung tampak tidak berdaya menjalani ketentuan yang digariskan oleh WHO melalui GISN dan harus patuh meskipun ada ketidak-adilan?”

Kutipan tersebut berasal dari buku yang ditulis oleh Ibu Siti Fadilah Supari dalam bukunyaSaatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung”.  Buku yang dirilis tahun 2008, yang termasuk salah satu buku konspirasi yang banyak menuai protes dari organisasi kesehatan dunia WHO, dan beberapa petinggi AS.  Buku tersebut memaparkan tentang betapa virus sharing yang dilakukan  di tahun 2006, lebih banyak merugikan negara-negara berkembang  dan kemungkinan menjadi modal bagi negara-negara maju dalam pembuatan vaksin.

Melalui buku tersebut, saya belajar banyak tentang dunia kesehatan, khususnya tentang dunia vaksin dan konspirasinya. Sangat salut dengan pemikiran out of the box yang banyak dituangkan dalam rangkaian cerita yang disampaikan di buku tersebut. Berkembang dari hal tersebut, saya menjadi makin haus tentang dunia kesehatan. Begitu banyak kontroversi yang terjadi di bidang yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dan juga banyak menyinggung konflik kepentingan.  Misalnya saja, penelitian terbaru  tentang susu sapi versus susu kambing yang baru-baru saja saya dengar.  Betapa dunia kesehatan sangat mengelu-elukan susu sapi dan menganaktirikan susu kambing. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa lebih banyak efek negatif yang ditimbulkan susu sapi daripada susu kambing.  Hmm, mendengarnya saja aku jadi bingung tingkat tinggi. Bahkan dengan background ilmu kesehatan yang kumiliki pun belum bisa menerima utuh hasil penelitian  tersebut.  Saya jadi miris dan melankolis membacanya.

Siti Fadilah Supari, pahlawan vaksin ini, telah mengakhiri masa perjuangannya di tahun 2012 karena menderita kanker paru-paru stadium 4.  Sangkaan korupsi pengadaan alat kesehatan juga pernah dituukan kepadanya.  Namun tak ada gading yang tak retak.

Perjuangan yang tiada henti diantara perebutan kepentingan yang samar di mata rakyat. Pemikiran yang kritis seperti yang dimiliki Ibu Fadilah harus terus dipertahankan. Berbekal dengan ilmu yang saya miliki dan terus belajar mengikuti perkembangan dunia kesehatan dari luar, saya mencoba menuangkan buah pikiran saya di sebuah blog yang masih baru lahir. (Ssstt, launchingnya ntar aja ya ).  Tulisan yang saya harapkan menjadi sumbangsih kecil,  meneruskan perjuangan beliau untuk memberi riak pencerahan kepada lebih banyak orang.

 

Tulisan ini diikutsertakan untuk event online 10 Hari Dari Blogger untuk Pahlawan

sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Siti_Fadilah

sumber gambar :
http://bjn.wikipedia.org/wiki/Barakas:Siti_fadillah_supari.jpg