Jalan-Jalan · Reportase

Enjoy Care Visit : Wejangan Abah dan Ambu (2)

Masih excited untuk mengikuti cerita  care visit ke Kasepuhan Sinar Resmi di Cisolok kan?.. Care visit ini adalah event yang diadakan oleh Dompet Dhuafa (DD), yaitu sebuah program yang mendekatkan antara donatur DD dengan pihak penerima program DD. Dengan tujuan agar masyarakat luas bisa turut merasakan dan menikmati hasil program dari DD. Kalo cerita kali ini, adalah tentang program DD di bidang pertanian.

Wejangan Abah

Abah dan Ambu sedang menyampaikan wejangan
Abah dan Ambu sedang menyampaikan wejangan

Wejangan dari Abah ini menurut saya sangat membumi dan melangit. Membumi karena melakukan tindakan-tindakan yang sangat mencintai bumi dan melangit karena sarat dengan terapan ilmu yang sudah dipilah pilih tidak menggunakan teknologi yang lebih banyak menyakiti bumi itu sendiri. Nah lho, semoga gak bingung ya bahasa saya :). Sudah 8 bulan, pihak Kasepuhan melakukan kerjasama bersama DD dalam mengolah tanah di daerah Kasepuhan Sinar Resmi. Pertanian  menjadi perhatian utamanya. Dengan bahasa bilingual, sunda dan Indonesia, saya berusaha memahami apa yang disampaikan abah. Tinggal lama di tanah Sunda tak menjadikan saya bisa paham bahasa Sunda dengan baik. Jadi kalo bingung, saya tanya teman sebelah saja :).

Abah Asep termasuk generasi ke-1o untuk meneruskan Kasepuhan ini setelah sebelumnya berpindah-pindah di sekitar wilayah Bogor. Seluruh kehidupan sehari-hari bergantung secara dominan kepada alam, yaitu sawah dan ladang.  Kasepuhan Sinar Resmi ini sudah banyak dikunjungi oleh wisatawan asing, mulai dari wisatawan dari Itali, Jepang, Korea sudah pernah mengunjungi rumah adat ini.  Kehidupan di Kasepuhan saya kira sangat udik, akan bakal miskin sinyal atau listrik, atau bahkan air. Tetapi sebaliknya, Kasepuhan ini sudah seperti kehidupan suku Badui luar, mereka sudah turut menikmati laju teknologi, namun jika menurut pemahaman dan pegangan adat  merusak bumi, maka tidak akan diterima sebagai bagian kehidupan Kasepuhan.

Islam sebagai pegangan hidup sangat kental dalam kehidupan sehari-hari meski ada beberapa yang masih dipadu dengan aturan adat. Seperti di bulan-bulan tertentu masih berlaku pantangan untuk tidak boleh  membangun rumah karena akan adanya unsur api di rumah yang baru.  Bulan safar dilarang untuk menikah, dan banyak lainnya. Untuk alasan detailnya saya juga tidak tau :). Keberkahan adalah yang hal yang dicapai  oleh Abah dalam setiap hal, khusunya kerjasama dengan  pihak luar.

Hasil panen tidak dijual, seluruhnya dipergunakan untuk keperluan konsumsi setelah dikurangi 10 % yang  diberikan untuk negara dan 2,5 % untuk zakat. Pembagiannya mantap kan, jadi yang sampai ke perut sudah bersih dari kepentingan zakat. Jempol kan sistemnya :).

Yang saya rasa paling jleb wejangan dari abah adalah ketika abah menanyakan, semua indera kita milik siapa, misalnya  tangan ini adalah tanganNYA, mata ini adalah mataNYA, mulut ini adalah mulutNYA, manusia bisanya cuma ngaku-ngaku milik sendiri. Padahal sejatinya seluruh diri adalah milikNYA. Hmm.. nancep tuh wejangan.  Trimakasih banyak abah.

Wejangan Ambu

Sebenernya ini mah bukan wejangan ya, kekepoan saya dan teman-teman cewek lainnya tentang ambu yang tampak cantik alami di usia yang sudah kepala 5.  Ambu masih tampak cantik, seger, dan kinclong di usia yang sudah setengah abad. Resep cantiknya adalah sering makan nasi merah, sering senyum, dan hati yang ikhlas, Ambu menjawab dengan wajah senyum dan sedikit malu.

Kekepoan saya bertambah ketika resep  masker air semangka dan kopi keluar dari mulut Ambu. Ahhh, ambu emang kereen, TOP banget bagi ilmunya.  Resep maskernya ambu sederhana kok. Air semangka di biarkan satu malam, atau diembunkan terlebih dahulu. Setelah itu diusapkan ke wajah, dibiarkan hingga kering. Kemudian dibasuh dengan air hangat. Kata ambu, air semangka itu agak perih kena wajah, jadi kalo pas lagi maskeran ada perihnya itu proses yang biasa. Selamat mencoba ya kawan 🙂

Setelah acara ramah tamah dengan abah dan ambu, kami akan berkumpul kembali  saat ba’da isya. Sebelumnya panitia membagi kamar kepada 20 peserta  care visit untuk beristirahat sejenak. Lokasi peristirahatan tidak jauh dari rumah kumpul, hanya jalan menurun sedikit yang letaknya di sisi kanan rumah abah dan ambu.

Taraaa.. this is my woody room 🙂

Tempat bermalam di rumah warga
Tempat bermalam di rumah warga

 

Label nama di setiap kamar oleh panitia
Label nama di setiap kamar oleh panitia

Usai meletakkan tas bawaan di kamar, bukannya istirahat tapi kakinya gatel buat jalan-jalan keliling sekitar Kasepuhan. Waktu yang sempit harus digunakan dengan baik bukan? :). Saya, Rani dan Yuri siap dengan kamera masing-masing, mengabadikan setiap sudut unik di Kasepuhan. Terkadang atau mungkin mostly , jalan-jalan bukan tentang tempat, tapi dengan siapa kamu menghabiskannya. Sok filosof, :D. Setelah puas menguliti setiap sudut, kami kembali ke tempat penginapan untuk istirahat sejenak, kenalan dengan teman sekamar, dan tetep tidak lupa untuk berfoto ria :).

salah satu hasil jepretan, Kasepuhan dilihat dari atas
salah satu hasil jepretan, Kasepuhan dilihat dari atas

Waktu isya serasa cepat datang, yess, waktunya makaaann. Hihi, perut saya kelaperan. Rintik hujan dan segar setelah mandi sore membuat si perut minta haknya untuk diisi kembali. Menu makan malam  dengan nasi merah, nasi ungu, dan nasi putih, semua jadi satu biar gak penasaran sepulang dari sana. Nasinya bikin perut saya cepat kenyang, kayaknya kandungan seratnya oke punya tuh nasi.

nasi putih, nasi merah, dan nasi ungu jadi pilihan
nasi putih, nasi merah, dan nasi ungu jadi pilihan

Dan yang bikin saya kaget setelah saya selesai makan adalah, menu yang disajikan ternyata berbahan dasar daging kambing semua. Syukurnya, semua udah mendarat mulus dalam perut. Semoga si badan bisa kompromi gak pusing karena habis makan sate kambing dan sop kambing. Ambuuu, makanannya uenaakk pisaan, biasanya saya selalu ngeh sama bau daging kambing, tapi kok ya saya gak deteksi sama sekali ya kemarin. Tapiii, enak bangeett, sambalnya apalagi. Dan yang bikin saya seneng, saya gak pusing sama sekali. Alhamdulillaaah 🙂 Oiya, temen-temen juga semangat banget menghabiskan masakan tutut, sampe pada lomba lho ;).

Tuuuhh keliatan kan pada enjoy makannya :)
Tuuuhh keliatan kan pada enjoy makannya 🙂
Masakan tutut yang juga jadi favorit

Makan malam selesai, seluruh peserta dan panitia disuguhi hiburan kesenian  tradisional Dog Dog Lojor dan Jaipongan di panggung Ajeng yang letaknya persis di depan rumah Abah dan Ambu. Dan lagi, saya gak ngerti maksud dari lirik yang dinyanyikan oleh Bapak Puput, salah satu penari Dog Dog Lojor. Tiga tembang lawas; adurilem, jarilaet, dan mayang bekah (maafkan jika tulisannya salah ya) berhasil menghibur seluruh penonton. Yang kemudian dilanjutkan dengan tari jaipongan. Saya dan dua teman lainnya serta beberapa panitia sukses menonton sampai akhir acara. Kasian banget kan jika ditinggal sepi penonton.

Kesnian Tradisional Dog Dog Lojor
Kesenian Tradisional Dog Dog Lojor
Tari Jaipongan  hingga pukul 10 malam
Tari Jaipongan hingga pukul 10 malam

 

Sebagian penduduk setempat ikut menikmati hiburan
Sebagian penduduk setempat ikut menikmati hiburan

Selagi nonton hiburan, panitia masih baik hati untuk bakar-bakar jagung untuk dibagikan ke peserta. Syukurnya perut masih kuat nampung 😀

Masih makan jagung bakar sewaktu nonton
Masih makan jagung bakar sewaktu nonton

Okee, perut sudah kenyang, mata juga sudah kenyang nonton, badan pegel minta rebahan, waktunya tidur untuk menyambut pagi cerah esok. Siap-siap tidur nyiapin tenaga untuk menyusuri kaki gunung halimun. Insy kita lanjut ke postingan berikutnya tentang kekayaan alam Kasepuhan Sinar Resmi. See ya 🙂

 

 

Related Post

10 thoughts on “Enjoy Care Visit : Wejangan Abah dan Ambu (2)

    1. aisssshhh asiiikkkk, mau Bu Dona, sediain waktu di April, insy masih rezeki ketemu lagi 🙂 ahh, jgn dipanggil Ibu, masih mba2 Bu Dona hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *