Jalan-Jalan · Reportase

Enjoy Care Visit : Pertanian di Kasepuhan (3)

Membuka pagi dari jendela kamar
Membuka pagi dari jendela kamar

Pagiii semua, tidur empet2an tadi malam gak brasa sama sekali. Mungkin saking capeknya di perjalanan ples nonton jaipongan sampe malam kamren. Hari ini, menurut jadwal panitia,  hari ini akan turun ke sawah yang dikelola oleh Abah. Dinginnya air di Kasepuhan tidak mengurungkan niat untuk mandi lebih cepat, kenapa? karena biasanya semakin siang tingkat kunjungan ke kamar mandi akan semakin besar pasti.

Jam tujuh pagi, kami sudah disambut dengan masakan nasi uduk ala Kasepuhan. Semua sudah berkumpul di rumah Abah dan Ambu. Sepiring nasi uduk, telor ceplok, tempe orek, timun dan kerupuk menjadi pelengkapnya. Setelah acara  makan selesai, jalan- jalan ke sawah dipimpin oleh Mas Pur yang merupakan tenaga penyuluh pertanian disana.

Jalan awal menuju sawah abah
Jalan awal menuju sawah abah

Hujan tadi malam, menyisakan jalanan berlumpur dan licin. Sendal gunung yang saya kenakan terasa tak cukup membantu karena, saya sendiri juga kurang lihai menggunakannya :D. Seperti biasa, saya paling gak biasa jalan di belakang, saya berusaha untuk ikut barisan depan, selain lebih dekat dengan si pembawa jalan, jalanan yang dilalui masih dilewati beberapa orang, jadi belum terlalu licin. Jalan menuju sawah Abah terasa sangat jauh dan menantang, tidak kebayang setiap hari para petani harus melewati jalan tersebut.  Jalannya hanya cukup dilalui oleh satu orang saja.  Setelah melewati jalanan yang licin dan sangat berlumpur sampailah juga ke lokasi sawah abah. Yang spesial itu adalah pemandangan hijau di beberapa jalan menuju sawah dan lokasi sawah itu sendiri. melihat sawah bukan perkara yang luar biasa, tetapi perkara melihat sawah di daratan yang tinggi dan juga di kaki gunung halimun, menjadi sebuah  hal yang tidak biasa buat saya pribadi. Hamparan padi yang menguning, pepohonan yang merimbun hijau, menjadi kekayaan mata tersendiri.

Mas Pur berbagi ilmu
Mas Pur berbagi ilmu

Sekedar meluruskan kaki dan istirahat sejenak, Mas Pur berbagi cerita tentang sawah Kasepuhan dan 9 jenis padi yang dikelola di sana.  Padi jenis Sri Kuning dan Pare Salak yang kami kunjungi saat itu.  Mas Pur juga menunjukkan beberapa hasil jenis padi. Tidak seperti panen sawah yang sekarang lebih banyak frekuensinya dalam satu kali setahun, padi di Kasepuhan cukup panen sekali dalam satu tahun. Abah berfilosofi, bahwa bumi itu adalah ‘ibu’ dan langit adalah ‘bapak’, maksudnya adalah apa yang sudah diberikan oleh ‘ibu’ harus kita syukuri, bukan memaksa bumi untuk menghasilkan dengan frekuensi lebih sering, misal 3 kali dalm setahun. Sawah ini juga dikelola dengan tanpa pemakaian pestisida. Proses pertanian ini dinamakan pertanian sehat dari pihak DD. Saking “sehat’nya konon katanya pernah tinggi padi yang di Kasepuhan pernah  sampai setinggi 2,18 meter. Tinggi banget kan? Pipanisasi dan  saluran irigasi menjadi sistim pengairan pertanian disana. Sedangkan pupuknya berasal dari kotoran kambing. Setelah panen padi, masyarakat sekitar melakukan budidaya ikan mas dan lele sambil menunggu nutrisi tanah kembali membaik untuk mengisi kekosongan tanah.

Beberapa jenis padi yang dikelola Kasepuhan
Beberapa jenis padi yang dikelola Kasepuhan

Rencananya setelah dari sana, kami juga turut meninjau proses pengairan sawah. Namun mengingat medannya yang tidak bersahabat, di sisi jalan ketemu jurang, kami mengambil langkah untuk kembali ke rumah saja. Dan yang bikin lebih menantang lagi adalah, jalan yang kami lalui merupakan jalan satu-satunya untuk kembali pulang. Terbayang medan jalan yang pasti sudah acak-acak karena sudah lebih dulu dilalui. Bismillah, memulai jalan kembali.

Dengan tenaga sisa, perjalanan itu terasa lebih jauh dari sebelumnya. Kaki juga sudah mulai menunjukkan jati dirinya, sudah mulai lelah. Pergelangan kaki  sudah mulai terasa sakit dibawa jalan. Setelah kurang lebih satu jam, kami sampai juga ke rumah peristirahatan, rumah abah dan ambu. Acara selanjutnya adalah acara melihat bagaimana proses penumbukan padi, sebelum menjadi beras. Maafkan, proses tumbuk padi saya lewatkan karena sedang beristirahat sejenak di kamar.

Waktu tak terasa sangat cepat berlalu.  Waktu zuhur terasa sangat cepat datang, yang berarti selain waktu makan siang datang, kami juga harus berkemas untuk kembali pulang ke tempat masing-masing. Ahh, terasa sangat sebentar kami disana. Dua hari satu malam, berasa sangat kurang untuk mengeksplorasi lebih jauh Kasepuhan dan pertanian sehatnya.

Pukul 13.30 waktu yang dijanjikan untuk kembali berkumpul di rumah ambu untuk pamit pulang. Setelah acara ramah tamah dan ucapan terimakasih serta saran disampaikan, seluruh peserta dan beberapa panitia saling bersalam-salaman, untuk pamit pulang dan memohon maaf jika ada kesalahan. Perpisahan selalu menyisakan ruang sepi terutama bagi yang ditinggalkan, semoga ada waktu untuk kembali mengunjungi abah dan ambu di lain kesempatan yang lebih baik dari ini.

Terimakasih atas keramahan dan ilmunya Abah dan ambu. Terimakasih Dompet Dhuafa. Terimakasih Panitia. Terimakasih Sahabat semua. See you on the next trip, insy 🙂

Dokumentasi Pak Jhodi DD
Dokumentasi Pak Jhodi DD

 

Related Post

3 thoughts on “Enjoy Care Visit : Pertanian di Kasepuhan (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *