“Jika kamu tak punya mimpi, lalu apa yang kamu kejar” .

Entah dari mana,  kalimat sakti itu saya temukan. Mungkin dari selebaran motivasi yang biasa dibagikan sewaktu ngampus dulu, atau mungkin.. dari lembaran buku  motivasi yang suka saya beli saat kuliah dulu. Aku pernah bertanya pada diri sendiri, apa sejatinya yang kucari saat kuliah dulu. Jauh-jauh merantau ke kota hujan, jauh dari keluarga, jauh dari sentuhan kasih sayang, haha yang terakhir abaikan saja ya ^^. Untuk masa depan yang lebih cerah, itu jawaban sederhanaku saat teman-teman SMA menanyakan alasannya. “Ahh, klise, kenapa harus jauh-jauh ke ibu kota untuk masa depan yang lebih cerah”, tanya mereka kembali. Orang kaya di kampung ini saja, gak perlu ke kota Bogor untuk memiliki masa depan yang lebih cerah, lihat saja, dia serius dengan usahanya saja, dia bisa kaya raya kok, anak-anaknya kuliah semua, hidupnya bahagia. Dimana-mana biar punya masa depan cerah ya punya duit banyak. Tak perlu jauh-jauh merantau. Ingat, kamu itu perempuan. Nanti kamu ujung-ujungnya sumur, dapur, dan kasur. Gak usah mimpi muluk-muluk” Seketika saya tertohok. Iya, si pengusaha di kampung saya memang sangat kaya raya, kontrakan dimana-mana bisa untuk menghidupi tujuh turunan. Siapa pun mau jadi bagian keluarga besar itu. Tapi… ada yang mengganjal di hati, sedikit tidak terima atas jawaban yang kurang sepahaman dengan saya. Namun keganjalan itu apa, saya belum menemukan jawabannya saat itu.

***

Adalah majalah BOBO.., yang mengenalkan saya tentang pesona dunia. Benar kata ibu, buku adalah jendela dunia. Dari majalah anak itu saya bisa menghilangkan kedahagaan akan dunia luar. Dunia yang sangat jauh dari kampung saya, Kota Jakarta. Dunia yang penuh sesak dengan ilmu pengetahuan. Melahap habis membaca majalah BOBO hanya dalam hitungan jam. Malah terkadang, saya menunda membacanya, khawatir nanti malam tidak ada teman menjelang tidur. Atau bahkan saya membaca artikelnya sebanyak dua kali. Hmm, saat kecil saya benar-benar haus bacaan.

Adalah Asma Nadia.., yang mengajarkan banyak tentang kehidupan islami. Lewat cerpen-cerpennya saya jadi tau, bahwa bagaimana harus bersikap saat beda pendapat dengan orang yang lebih tua, bagaimana sholat harus tetap dijaga saat sedang sibuk, bagaimana harus mengendalikan diri saat mulai jatuh cinta terhadap lawan jenis. Haha.. ini agak sedih ceritanya. Kita cerita lain waktu saja mungkin ^^.

Adalah Rini Eli Anida, seorang sahabat sejati, yang banyak tau kartu mati saya, ups ^^. Dialah yang mengenalkan saya untuk bersahabat dengan novel-novel. Novel 300 halaman dengan gampangnya ia habiskan hanya dalam beberapa hari saja. Saat membaca novel, ia larut di dalamnya. Dulu saya sangat anti membaca novel. Membaca tumpukan lembaran itu menjadi momok dibandingkan harus menyelesaikan tugas jurnal dari dosen. Novel Ayat-Ayat Cinta, mungkin menjadi novel pertama yang saya baca. Dan setelah itu.. saya ketagihan, addicted abis. Cuma kadang, harus liat kondisi kantong agar tidak kelewatan membeli novel terbaru. Meminjam novel milik teman satu kos, sudah biasa. Tidak ingin melewatkan satu novel pun yang sedang bergantian dibaca oleh teman-teman kampus. Maruk banget kan? ^^

Adalah Andrea Hirata, penulis yang tersohor karena tetralogi novel “Laskar Pelangi”-nya. Adalah Hanum Rais Salsabila yang terkenal dengan novelnya, “99 Cahaya di Langit Eropa” dan “Bulan Terbelah di Langit Amerika”.  Adalah Habiburrahman El Shirazi dengan novelnya “Bumi Cinta” yang sangat menggugah.  Adalah anwar Fuadi dengan novel  “Negeri  5 Menara” yang kuat dengan impian-impian saat jadi santri. Adalah Tere Liye yang saya kenal lewat novelnya “Hafalan Sholat Delisha”. Dan adalah  Asma Nadia yang menelurkan buku “Jilbab Traveller”.  Saya merasa terlahir untuk hidup di zaman yang dikelilingi kungkungan negeri para pemimpi. Para pemimpi di masa lalu yang saya reguk sari patinya saat ini.

Saya punya mimpi untuk menjadi seperti mereka. Menjadi penulis yang dapat menginspirasi banyak orang, syukur2 masuk kriteria untuk layak  difilmkan ^^.  Seperti majalah BOBO yang sudah mengenalkan pesona dunia. Seperti Asma Nadia yang menyampaikan kaidah islam lewat bahasa yang sederhana. Seperti Andrea Hirata, Salsabila Hanum Rais, dan penulis-penulis lainnya yang sudah mengajarkan saya  untuk memiliki mimpi untuk mengelilingi dunia.

Maafkan jika mimpi ini begitu muluk-muluk. Jangankan teman-teman, saya sendiri saja tidak tau bagaimana untuk bisa sampai kesana. Dan, jujur.. saya  tidak tau kapan mimpi besar itu akan terwujud. Yang sekarang saya lakukan adalah memelihara nyala mimpi itu ditengah realitas yang dijalani.

Rajin mengikuti event menulis cerpen, hal yang berusaha saya geluti tahun ini. Setelah beberapa tahun sebelumnya sibuk jatuh bangun dengan menulis berbagai jenis artikel. Buat saya, sangat tak mudah untuk melatih kesabaran, menulis sebuah konsep cerita dengan sebuah misi di dalamnya, kemudian menuangkannya ke dalam 5 atau  6 halaman A4. Berbeda sekali rasanya saat menulis artikel. Focus on short story,  itu musuh besar yang harus saya jadikan sahabat karib tahun ini. Yup, fokus belajar menulis cerpen. Semoga buku solo perdana yang berisi  kumpulan cerpen islami dapat terwujud tahun ini. Mohon doanya ya ^^

Setelah punya dream, dilanjutkan dengan fokus action, kata sakti selanjutnya yang harus jadi sumber kekuatan utama adalah pray,  konsisten untuk berdoa. Tak ada mimpi yang lebih berkah dan menjadi nyata tanpa keridhoan sang Pemeluk Mimpi-Mimpi. Begitu bukan? ^^

Oiya, Jika suatu hari nanti mimpi saya tidak terwujud, semoga hati saya bisa ikhlas, dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menggantikannya dengan sebuah mimpi yang lebih baik untuk saya. Seperti kata Hanum Salsabila Rais dalam bukunya, bahwa Tuhan punya misi yang unik untuk setiap insan. Setiap diri kita dipercayakan Tuhan untuk menjalankan sebuah misi yang sering  tidak kita sadari. Jadi, tugas kita adalah terus saja melakukan action, and let God do the rest. Semoga mimpi-mimpi teman-teman juga dapat  terwujud dalam ridhoNYA ^^

***
“Hidup yang kau jalani adalah kumpulan keputusanmu dan keputusan Tuhan” itu yang saya pegang sebagai prinsip hidup. Melihat seronoknya gemerlap kekayaan sudah merupakan fitrah setiap manusia. Saya memilih untuk merantau karena kesempatan untuk berkembang lebih banyak di kota besar. Hopefully, everyday is one stop closer to achieve my dream. Kejanggalan hati terjawab sudah ^^.

“Postingan ini diikusertakan dalam #evrinaspGiveaway :Wujudkan Impianmu”

label-ga1