Apa kabarmu duhai diri?
Apa kabarmu duhai sang perantau?
Apa kabarmu wahai jiwa- jiwa perantau?

Hmm.. gak pake mellow ya bacanya 🙂

Benar kata orang tua yang lebih dulu merantau, pulang kampung adalah saat untuk men-charge jiwa. Banyak nilai-nilai yang kau serap dari tanah lahirmu yang bisa menyulut semangatmu untuk kembali merantau. Kamu, sang perantau merasakan hal yang sama jugakah?

Beberapa bulan yang lalu, saya pulang kampung ke tanah kelahiran saya di ujung pulau Sumatera, meski gak ujung2 bangetlah :D. Alasan utama pulang kampung kali ini bukan seperti biasanya, karena mudik lebaran. Bukan.. Pulang kampung kali ini diawali karena berita duka cita, sang nenek (ibu dari ibu) memenuhi janji pertemuannya dengan yang Kuasa. Tepat pada tanggal 5 Januari yang lalu. Tidak ada rencana untuk tinggal lama di rumah, hanya sementara. Saya pun hanya membawa tiga pakaian ganti yang masuk dalam koper.

Dan feeling saya ternyata benar, rencana hanyalah tinggal rencana. Rencana pulang 3 hari sesudah sesampainya disana, berubah menjadi 3 bulan. Emak belom kasih izin untuk balik ke tanah rantau lagi. Saya sampai lupa waktu, saat menghitung hari. Berusaha menjadi kakak tertua yang memberi contoh terbaik untuk dua adik, anak gadis yang ikhlas berbakti kepada kedua orangtua, dan menjadi cucu terbaik untuk nenek menjadi lakon yang saya jalani selama 3 bulan itu. Ternyata sangat tak mudah teman :(.

Diri yang terbiasa seenaknya hidup sendiri, mengurus diri sendiri, makan gak makan yang penting ngumpul, hahaha hihihi kemana seenak dan semampu kantong, berganti harus bisa stay di rumah dengan beragam tanggungjawab yang sangat jauh dari kehidupan di tanah rantau. Aaahh, saya salut banget dengan istri-istri solehah atau ibu rumah tangga yang bisa me-manage waktu selama 24 jam untuk berbagai macam urusan. Mulai dari tanggung jawab dalam rumah tangga, memasak, mengurus anak, mengurus suami, mengurus keindahan rumah, apalagi yang sudah aktif dan terlibat dengan urusan di masyarakat. Waahhh banyak jempol deh untuk beliau. Kok bisa bagi waktunya emak2 cantik nan kece? Iiihhh benerrraan, saya salut banget sama emak di rumah. Semoga berbalas surga dari Tuhan ya Mak, aamiin. Aku banyak banget belajar darimu mak :*

Bujukan maut sampe rayuan gombal dilancarkan emak agar saya mengubah keputusan untuk stay di rumah, dan tidak balik lagi ke tanah rantau. Lah emang dasar saya yang suka ‘jauh’ dari rumah hihi, segala ‘godaan’ emak tak juga meluluhkan hati dan meruntuhkan keputusan. Meski jujur… dalam lubuk hati, diri tak ingin jauh dari keluarga dan tetap bisa melanjutkan rencana demi rencana dalam hidup.

Melihat kegigihan hati saya dan keras kepala yang memang tak ingin merubah keputusan, emak at last merelakan kembali putri kesayangannya ini berangkat melanjutkan hidup di tanah rantau. Melanjutkan mimpi-mimpi yang masih terbengkalai.

Emak berpesan agar selalu inget emak di kampung, tidak lupa untuk memberi kabar setiap minggunya, dan menanyakan kabar beliau khususnya. Aahh bikin melting abiis kalo pas inget emak kasih wejangan sambil berurai airmata. “Orangtua itu suka kesepian nak, mereka hanya ingin selalu diingat, dihargai, dan ditanyakan kabarnya. Itu sudah lebih dari cukup”. Begitu pesan si Emak.

Kalo teman2 yang juga sedang merantau, apa pesan emak buat kalian? Share dong 🙂