IMG_20151220_203741 (2)

 

Judul               : Pulang

Penulis           : Tere Liye

Terbit             : September 2015

Tebal             : 400 halaman

Penerbit        : Republika

 

Tentang kesetiaan, kedamaian hati dan perebutan kekuasaan. Makna yang terangkum dalam  novel Pulang garapan Tere Liye kali ini. Empat ratus halaman yang penuh dengan ketegangan dan keluasan berfikir. Emosi yang secara fluktuatif saya rasakan saat membaca novel ini. Dua puluh lima bab yang disusun secara brilliant oleh sang penulis.

Cerita bermula dari perburuan babi hutan di dasar rimba Sumatra. Pemilihan setting tempat yang sudah menjadi ciri khas penulis. Baru dan terasa asing. Namun menjadi kekuatan dari  setiap cerita yang dikisahkan Tere Liye.

Waktu itu, saat Bujang berumur 15 tahun. Saat Tauke Muda beserta rombongannya mengunjungi Samad, bapak si Bujang. Ajakan berburu dari Tauke Muda diterima dengan hati gempita. Larangan dari Mamak selama ini untuk masuk ke hutan telah membuat penasaran tingkat tinggi bagi si Bujang. Maklum, Bujang anak satu-satunya dari keluarga tersebut. Penaklukan seekor babi jantan berukuran raksasa, bak monster babi, menjadi bukti telah lahir seorang Bujang yang tidak memiliki rasa takut.

 

Bujang si Jagal dunia hitam

Momen penaklukan babi raksasa itu mengantarkan Bujang memasuki awal perjalanannya di dunia “shadow economy” bersama Tauke Muda. Di dunia hitam ini Bujang mengenal Baasyir “Si Penunggang Kuda Suku Bedoin” jagal keturunan Arab. Bujang bertemu Frans  yang mengujinya dengan sederet tes yang tidak ada kaitannya dengan  dunia hitam. Bujang memiliki banyak guru; Kopong yang mengajarinya bagaimana bertinju, Guru Bushi, didatangkan dari Jepang, untuk mengajarkannya bagaimana menggunakan pedang samurai.

Bujang, dengan otak yang cerdas, selalu terlibat dalam penyelesaian konflik tingkat tinggi, terutama dalam penyelesaian konflik dengan Keluarga Lin, musuh utama Keluarga Tong. Pada setiap penyelesaian konflik, Bujang kerap melibatkan White; sang mantan marinir, Si kembar, Yuki dan Kiko ;gadis dengan wajah imut yang merupakan cucu dari Guru Bushi. Setiap pertempuran mereka selesaikan dengan apik dan cantik.

Pertempuran di dunia hitam akan terus berlanjut hingga salah satu keluarga memiliki kekuasaan tak terbatas. Konflik demi konflik dilalui Bujang. Bujang merupakan generasi ketiga dari tukang pukul Keluarga Tong. Kakeknya, Si Mata Merah, Bapaknya Si Kaki Satu, dan Bujang si Babi Hutan. Darah tukang pukul memang sudah mengalir dalam dirinya.

Pelebaran sayap kekuasaan bisnis dan peningkatan kekuatan dari Keluarga Tong didukung oleh pemikiran Bujang yang jenius di dunia pendidikan. Bujang lulus di universitas terbaik.   Pundi-pundi kekayaan Keluarga Tong semakin meningkat bak bola salju.  Ide-ide cemerlang terlahir dari buah pikir lulusan master Amerika ini. Tak hanya satu, namun sekaligus dua master. Tak heran, investasi keluarga Tong semakin memuncak. Tauke membekali Bujang dengan latihan soft skill yang tiada henti. Setelah Kopong, Guru Bushi, ada juga Salonga, dari Manila, yang mengajarkan teknik jitu dalam menembak. Bujang semakin matang dalam pemikiran dan mumpuni menjadi petarung nomor satu di dunia hitam.

Kisah ini semakin terasa puncak dan menguras sisi emosianal pembaca saat  pembelotan yang dilakukan oleh pihak intern. Pembelotan menjadi musuh dalam selimut dalam dunia bisnis, terlebih dalam dunia hitam. Terlebih pembelotan karena dendam masa lalu.

Pengkhianatan ini juga yang membawa Bujang ‘pulang’ lewat orang-orang di masa lalu terkait Bapak dan Mamaknya. Peran Kopong dan Tuanku Imam sangat banyak membantu. Pengkhianatan dan penyerangan itu banyak menelan darah dan nyawa. Perebutan kekuasaan selalu tidak bisa dibayar dengan mudah.

Kelihaian penulis dalam mengaduk emosi pembaca juga tampak dalam alur maju mundur yang disusun sedemikian rupa. Tere Liye begitu lihai dalam menyusun bab cerita.  Pengkhianatan bagian satu dimulai di halaman 243 diberi jeda satu bab untuk flashback ke masa lalu. Dilanjutkan dengan penghkhianatan bagian 2 di halaman 279, seakan saya sedang menonton film action yang emosi marahnya ikut tertahan.

 

Tukang pukul juga manusia. Punya rasa punya hati.

Bujang si Jagal nomor satu, yang tidak memiliki rasa takut, tiba-tiba jiwanya menjadi lumpuh. Sang ibunda “Mamak” pergi pulang menepati janji dengan Sang Pemilik Waktu.  Separuh jiwa Bujang hilang. Dan sisi emosional Bujang kembali tergerus saat Samad, Bapak Bujang, menyusul mamak. Menghadap yang Kuasa. Dan lapis pertahanan terakhir semangat dari Bujang  pun dilumat habis oleh kepergian Tauke.  Tukang jagal juga manusia, punya hati yang lebih mudah tersentuh. Seluruh kebahagiaan serasa terserap hilang di telan bumi bak spons yang menyerap kering, air diatas permukaannya, saat yang dicintai pergi.

 

Tentang Kesetiaan

Di kisah ini menggambarkan bahwa  dunia hitam adalah dunia bisnis yang sangat erat dengan sebuah kata mantra ’kesetiaan’. Kesetiaan terhadap atasan. Kesetiaan terhadap tanggungjawab. Dan kesetiaan terhadap masa lalu. Bujang merupakan tokoh yang menerapkan kesetiaan dalam segala sisi kehidupannya. Kesetiaan pada janji Mamak untuk tidak mengkonsumsi makanan atau minuman haram. Kesetiaan cinta sang Bapak pada Mamak, setelah lima belas tahun ditolak. Kesetiaan yang mampu melahirkan perebutan kekuasaan. Kesetiaan pada prinsip. Dan bentuk kesetiaan – kesetiaan lainnya.

“Hanya kesetiaan pada prinsiplah yang akan memanggil kesetian-kesetiaan terbaik lainnya” (halaman 207).

 

Rasa takut adalah anugerah

Dalam dunia hitam, rasa takut menjadi musuh terbesar untuk menghabisi lawan. Rasa yang tidak boleh dimiliki oleh seorang jagal nomor satu. Namun rasa itu pulalah yang menjadi alasan utama Bujang, si Babi Hutan” untuk pulang.  Pulang, kembali kepada fitrahnya, kepada hakikat sejati  (halaman 24).

Pesan yang dibawa kisah ini sangat terasa.  Misalnya saja : “Tidak mengapa rasa takut itu hadir, sepanjang itu baik, dan menyadari masih ada yang memegang takdir, menitipkan sisa usaha pada takdir Tuhan” (halaman 343).  Rasa takut itu adalah anugerah.

Melalui novel ini saya banyak mengenal alat bela diri mulai dari shuriken, pistol, samurai, trisula, kusarigama, sabit, sabit rantai, katana, hingga khanjar yang baru pertama kali saya dengar. Menarik!. Selain itu, belajar tentang potensi manipulasi berita  dalam sebuah perebutan kekuasaan atau pergolakan ekonomi. Belajar tentang shadow economy. Banyak sisi pengetahuan yang bisa diserap dalam novel ini, mulai dari politik, ekonomi, action, dan  religi.

Beberapa jenis senjata yang digunakan dalam cerita novel ini.

Katana

Katana

 

khanjar

khanjar

 

Pulang, sebuah judul yang sederhana yang menyelimuti cerita yang sangat tidak sederhana. Novel yang sangat cocok menjadi teman hati untuk jiwa-jiwa yang merindu damai dalam hati. Agar mampu memeluk setiap hal memilukan dan menggembirakan.  Berdamai dan berlapang dada menerima apapun yang terjadi dalam hidup.   Bahwa setiap ujian kesakitan dan kepedihan dalam hidup menjadi jembatan paling mahal untuk kembali kepada fitrah.

Mau ikutan “Pulang” ?, silahkan nikmati santapan bergizi ala chef Tere Liye ini 🙂

 

 

 

Related Post