“Haaaaaaiiii.. long time no see. Lama tak ada kabar, tiba-tiba kamu lagi dirawat? Kamu sakit apa?.. udah berapa lama? Kok baru ngabariin?”, diantara pelukan yang hangat, saya menjejalinya dengan berbagai macam pertanyaan. Dalam kondisi masih berbaring, hanya sesungging senyum yang menjadi jawabannya. Hanya itu. Dan saat itu, saya sadar kalo sakit yang dideritanya bukan sakit biasa. Saya harus merasa cukup dengan jawaban satu simpul senyum tersebut. Meski masih sangat banyak pertanyaan yang igin saya tanyakan. Meski masih sangat ingin bernostalgia pada masa SMA dulu dan tentang mimpi-mimpi masa depan kami masing-masing yang masih on progress. Aaahh, saya sedih banget hari itu.

***

Sebut saja namanya Malika (nama sengaja disamarkan), sahabat saya sejak SMA. Kami memang sudah lama tak bertemu. Kesibukan dan waktu ketemu yang suka gak match menjadi alasan utama kami jarang bertemu. Di akhir bulan mei tahun lalu, tiba-tiba ia menghubungiku dan mengajak ketemuan. Tapii,,, saya sedih banget, lokasi bertemunya bukan di kafe atau mall. Kali ini, kami janjian bertemu di kamar 602 di salah satu rumah sakit di Jakarta. Saya sangat kaget menerima kabar itu. Sudah lama tak bersua, eh pas ketemu malah janjian di ruang pasien.

Iya, nggak,, belum,, masih.. satu patah kata yang bergantian saya dengar saat menjawab pertanyaan dari saya. Saat itu, dadanya masih sesak, sehingga tak banyak kata yang saya bisa dengar darinya. Tak banyak informasi yang saya dapat dari  pihak keluarga. Saat itu, keluarga juga baru sampai di  Jakarta dan masih butuh waktu untuk istirahat. Resiko menjadi anak rantau, begini nih ya :(..  Akhirnya saya berinisiatif untuk meminta rekam medis dari perawat dan mengaku sebagai keluarga. Kalo gak ngaku sebagai keluarga bakal gak dikasih, demi menjaga privasi pasien. Tapiii.. demi kebaikan, insy boleh yaa 🙂

Dengan sedikit background kesehatan yang saya miliki, saya lumayan paham dengan apa yang tertulis di rekam medis. Tapii.. tetap saya masih butuh ngobrol dengan dokter untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Namun sayang, dokter yang hari itu jadwalnya datang jam 15.00 sore, malah mundur ke waktu malam. Dan saya gak bisa menanyakan lebih jauh tentang kondisi sahabat saya itu.  Hmm, andai kami bisa ketemu lebih awal, saya akan lebih banyak tau prihal penyakitnya dan insy bisa lebih banyak membantunya. Saat itu saya merasa ‘sangat gagal’ menjadi sahabat yang baik.

Andai.. demi andai menjadi sesal yang tak ada gunanya dan memang selalu datang belakangan.

 

****

I said yes, saat menyambut tawaran undangan dari teman blogger untuk sharing tentang sebuah aplikasi kesehatan di play store, Medic Trust namanya. Ditambah tempat ketemuannya di Bogor, saya makin seneng. Deket banget sehingga saya masih bisa cuss untuk ngajar di hari itu. Two Stories Cafe, lokasi yang sangat pas untuk tempat sharing cerita. Sesuai dengan namanya masing-masing kami bercerita tentang pengalaman kami yang ada hubungannya dengan kesehatan dan catatan kesehatan.

Jujur, saya sendiri bukan orang yang aware tentang catat mencatat kondisi kesehatan saya pribadi. Alaaah.. cuma flu ini, pusing, sakit gigi atau sakit lainnya, semua kan sakit biasa, gak ada yang ‘istimewa’ atau butuh pencatatan. Itu kebiasaan saya. Berbeda sekali dengan Mba Een, salah satu temen blogger. Sejak masih gadis, beliau sangat rajin mencatat kondisi kesehatan dalam sebuah buku khusus. Mulai dari sakit apa, dikasih obat apa sama dokter, hingga tanggal kejadian sudah menjadi kebiasaan bagi Emak ini untuk mencatat dalam buku khususnya. Sehingga tak heran, jika ia sedang sakit, Mak Een bisa hapal banget tentang nama obat dan dosis yang diperlukan untuk sakitnya. Beda banget kan dengan saya, kalo teman-teman.. rajin juga gak nyatet riwayat sakit ?.

“Catatan kesehatan ini sangat memudahkan saya saat berkonsultasi dengan dokter, meski dengan dokter yang berbeda” spontan ia menjawab.

Saya berkaca diri  dengan kebiasaan baik Mba Een dan momen sedih yang saya lalui bersama sahabat. Andaaaaaaiii ada aplikasi sederhana yang bisa memuat riwayat kesehatan setiap pribadi. Saya berandai-andai waktu itu.

Beruntung.. saat ini saya diperkenalkan dengan  aplikasi Medic Trust yang menurut saya sangat manfaat banget. Di dalam aplikasi ini, kita bisa mencatat semua riwayat sakit kita.

Nikmati mini video ini dulu ya 🙂

 

Gambaran aplikasinya ada di pict di bawah ini ya. Setelah download aplikasinya, tinggal login dan mengisi profil pribadi. Selain sebagai tools sederhana untuk mencatat riwayat sakit kita, aplikasi ini juga bisa digunakan untuk menguhubungi dokter sesuai dengan penyakit yang dialami. Mulai dari dokter THT, penyakit dalam, paru, dan jantung kita bisa menghubungi dan berkonsultasi. Kini dokter sudah tak jauh dari jangkauan. Jujur, ini yang kita tunggu-tunggu kan?  🙂

healthhealth 18 (2)

91011 (2)

Medic Trust merupakan aplikasi yang digagas oleh Mba Kate dan Mba Grace. Mereka  berinisiatif membuat aplikasi sederhana ini karena pengalaman sedih di masa lalu. Rekam medis sang Ayah yang sedang sakit tidak tercatat dengan baik, sehingga menimbulkan pengobatan yang tidak baik bagi ayah. Dari hal tersebut, lahirlah Medic Trust yang merupakan aplikasi yang mampu mencatat riwayat kesehatan setiap pribadi.

Share your health story di Medic Trust  sebagai jurnal kesehatan kita. Pokoknya mah pasti gak ada ruginya 🙂

Andai setiap orang memiliki kesadaran untuk mencatat riwayat kesehatan sendiri. Kita tidak hanya memudahkan orang lain membantu kita jika kita sedang sakit. Selain itu, kita juga menghargai diri kita sendiri untuk mendapatkan penanganan yang tepat saat sakit.

With ambassador of Medic Trust

With ambassador of Medic Trust

 

Yuuk, jangan ragu-ragu lagi download aplikasi kece inni ya. Oiya kalo gak mau ketinggalan info Medic Trust ini linknya teman 🙂
Instagram : Medic Trust
Twitter : Medic Trust
Fanspage : Medic Trust