“Des, malo doma ho ateh na marangkai kata-kata i, padahal kan nangge jurusan manulis ko?” Salah satu ocehan sahabat saya dari kampung kepada saya. Ia mengungkapkan kelihaian saya dalam merangkai kata dalam sebuah cerpen yang saya tulis di blog. Meskipun saya tidak mengambil jurusan sastra sewaktu kuliah.

“Des tolong tulisin cerita hidupku dong, kali aja nanti bisa di film-kan”, celoteh salah satu sahabat yang lain lewat message facebook.

****

Hmm, you know what, saya tidak sengaja tercemplung dalam dunia tulis menulis ini. Bermula dari keasyikan curhat colongan di salah satu blog gratisan. Iya, dimulai dari hal yang sederhana itu. Setiap ada masalah, hati saya merasa akan lebih plong setelah menuangkannya ke dalam sebuah tulisan atau puisi. Tulisan demi tulisan terkumpul begitu saja, dan terkadang justru saya banyak mengambil pelajaran dari tulisan saya sendiri di masa yang lalu. Benerrr banget kalo ada yang bilang, writing is the best healing. Dan itu, saya banget. Saya suka baca-baca kembali tulisan saya yang lama.

Dari kebiasaan suka menulis itu, saya mengenal dunia blogging. Dunia yang banyak mengajarkan saya banyak arti kehidupan yang baru. Dari dunia blogging saya merasakan bahwa persahabatan dunia maya bukanlah sekedar khayalan. Namun saya mengenal arti persahabatan yang sesungguhnya. Saling bertumbuh bersama, meraih prestasi yang tak pernah ada ujungnya, empati yang sesungguhnya, dan indahnya kebersamaan saat suka dan duka, hal-hal yang saya dapat dari dunia blogging. Malah justru sahabat dunia blogging-lah yang menyentil saya untuk lebih banyak belajar lagi dan menguatkan saya untuk tidak meninggalkan dunia blogging yang penuh keseruan dan tantangan.

Dunia blogging juga dan atas izin Alloh tentunya yang mengantarkan saya bisa berkenalan dengan Mba Riawani Elyta dan Mba Leyla Hana. Mba Riawany Elyta, Mba yang saya kenal karena kegigihan dan kelihaiannya dalam mengolah kata menuliskan resensi. Iyap, saya kenal beliau karena tulisan resensi-resensinya. Resensi yang saya baca selalu membuat saya ‘engap’ ilmu tentang resensi. Permainan kata dalam meresensi novel serta kelengkapan unsur resensi dalam setiap tulisannya selalu membuat saya terperangah. “Haah, I really need learn from you Mba”, ucap saya selalu dalam hati usai membaca tulisan-tulisannya. Entahlah, tulisan ini akan berjodoh atau tidak 😀

Terasa lucu dan sedikit menggemaskan saat pertemuaan pertama saya dengan Mba Leyla Hana. Iya, gimana nggak. Kita berdua saling kenal lewat dunia facebook, dan sangat hafal dengan nama lengkap satu dengan yang lainnya. Tibalah rezeki bertemu, masing-masing kami saling memperkenalkan diri dalam sebuah event blogging. Namun, perkenalan tersebut tidak menyebutkan nama lengkap, hanya dengan sebutan Leyla dan saya hanya menyebut Desi saja. Alhasil, saya gak langsung konek kalo yang barusan kenal adalah Mba Leyla Hana, sang penulis Cinderella Syndrome dan Aku Juliet itu. Namun sepulang dari acara tersebut. Kami berdua ‘ngeh’ kenapa nggak ngobrol lebih banyak, karena perkenalan yang ‘tak sempurna’ itu. Aahhh nyesel banget saya. Dan memang dari acara tersebut, kita belum pernah berjodoh ketemu lagi. Hmm, semoga ada rezekinya lagi ya.

Mba Riawani Elyta dan Mba Leyla Hana adalah dua smart writer yang saya kenal baik dan sudah lama berkecimpung di dunia kepenulisan. Aah, siapa yang gak ingin berguru pada smart teacher? Kamu juga pasti mau kan? Jangan ditanya kalo saya,,, saya mah mau banget. Saya mau belajar lebih banyak bersama kedua penulis andal ini.

Kalo belajar dari smart teacher insy, muridnya juga bias jadi smart writer. Kalo gak pinter-pinter amat, yaa, setidaknya mengikuti langkah sukses duo gurunya. 😉

Ikut belajar di kursus menulis online Smart Writer juga akan menjadi ‘cambuk’ positif bagi saya untuk menyelesaikan draft lama yang sudah menunggu utuk diberi sentuhan kembali. Iya, saya sangat sadar kalo saya ternyata gampang banget untuk tidak komit pada janji menulis. Saya leih komit pada deadline lomba blog daripada melanjutkan draft menulis. Kalo belajar bareng-bareng dan ada gurunya, tentu gak bisa ngelak lagi kan?. Semua alas an akan menjadi sirna, karena jika ditanya kesibukan, setiap orang akan merasa dirinya sangat sibuk. Padahal masalah utamanya adalah manajemen waktu sendiri. Saya yakin, dua penulis kece ini juga sangat sibuk. Namun, keduanya tetap bisa melahirkan buku-buku di tengah kesibukan mereka baik sebagai istri, ibu, blogger dan ‘tugas negara’ lainnya. Aah, jujur saya cemburu pada ibu-ibu yang tetap bisa berkarya ditengah seabrek kesibukan.

Tahun ini, saya ingin mewujudkan mimpi tertunda saya. Mimpi untuk menyelesaikan sebuah buku non fiksi yang sudah saya garap sejak tahun lalu. Dan mimpinya sekarang sudah bertambah, selain buku non fiksi saya juga ingin melahirkan sebuah novel fiksi yang rangka ceritanya udah tersimpan di kepala. Malah, judulnya udah ada aja. Tapiii, itu tadi, saya belum pede untuk menuliskan non fiksi. Saya harus belajar bagaimana menulis pembuka yang cetar, tentang bagaimana membawakan cerita berdasarkan sudut pandang yang kita pilih, menyusun sebuah cerita yang akan menarik banyak pembaca. Saya ingin sekali bisa menyebarkan manfaat melalui tulisan.

writer 1

Belajar menulis khususnya non fiksi dan fiksi buat saya secara pribadi adalah bentuk tanggungjawab saya kepada impian saya sendiri. Tanggungjawab saya pada setiap lantunan doa di masa lalu yang kini sudah perlahan di buka jalannya oleh Sang Pemilik Kehidupan. Belajar menulis adalah langkah selanjutnya yang tak akan pernah terhenti menuju sebuah profesionalitas diri dalam dunia kepenulisan.

Terus belajar.
Terus bermimpi.
Terus berkarya.
Selamat menebar manfaat sahabat.

smart writer