Percik Hati

Tentang Yang Terlewatkan

 

Assalamu’alaikum..
Apa kabar mu hari ini?
Apa kabar jiwamu dsana?
Semoga Alloh menjagamu ya

Akhir-akhir ini keingetan dirimu terus
Maafkan akuuuu sibuk banget
Walaupun aku jarang kontak tapi dirimu selalu dihatikuuu
Miss you so much!

Assalamu’alaikum..
Semoga kabarmu baik-baik saja 🙂

Hey, suka tidur malam ya? (ya iyalah, masak tidur siang) 😀
Sibuk banget sekarang?

Deess.. tiduurr..
Begadang muluuk  (nggak juga padahal) 😀

Sapaan singkat  dari beberapa Sahabat, yang sengaja saya keep namanya.. (biar pada gak geer :D) yang belakangan ini saya terima.  Meleleh saya bacanya. Thank s million sahabatkuuuwww.. Terharu sekaligus terhura atas setiap tanya dan bertukar kabar. Yang hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk mengetikkannya di keyboard  atau di layar sentuh smartphone. Namuun, saya sendiri suka  melewatkannya.  Maaffkaaannnnn yaa, peluk dari jauuuuhhh.. Love u as always.. muacchh muacch deh :* Mengatasnamakan sebuah kesibukan yang entah kapan berujung. Atau mengutamakan sebuah prioritas yang tidak jelas standarnya. Atauuu, mengatasnamakan galau yang tak berkesudahan, halaahh.. hahha 😀

***

Tadi.. saat  menunggu siswa menyelesaikan pengerjaan tesnya. Saya mencari kesibukan sendiri. Maen hape gak mungkin kan.. Ketemulah sebuah majalah di laci meja. Daan..saya tersentak dengan sebuah tulisan dengan judul : Yang Sering Terlupakan. Saya penasaran dengan isi artikelnya.. Hmm.. ada ya, yang bisa terlupakan? Saya memulai membaca.. N u know what, setelah satu bagian cerita selesai saya baca.. saya mohon  izin keluar sebentar  pada siswa. Menuju ke ruang guru dan mencari henpon saya diantara kantong tas. Saya harus segera menelpon ibu saya yang nun jauh disana. Oh Allohh.. saya lupa menelpon balik umak (sebutan saya untuk ibu) di rumah. n unlucky me, pulsa untuk telpon tinggal 200 rupiah, tak kuatlah ia menelpon SLJJ. OH God, give me a time pliis to call my mom after class, doa saya dengan langkah sedih menuju ruang kelas.

***

Cerita  dalam artikel itu mengisahkan tentang seorang ibu yang senang sekali  mengaji. Terlebih saat anak pulang ke rumah.  Sang Putri sudah menyelesaikan masa belajarnya di Pesantren. Bahkan kini ia diminta untuk menjadi pengajar disana. Mengajarkan adik-adik kelas bagaimana mengaji yang benar dan tak ketinggalan  mengajarkan tentang tajwid sehingga tilawahnya tidak sampai berubah makna. Suatu hari  saat pulang, seperti biasa Sang Ibu mengaji sehabis sholat magrib, namun ada bacaan yang ia ulang-ulang saat membacanya. Tampaknya si Ibu ragu apakah ia sudah membaca dengan benar atau tidak. Tak lama, Si Ibu menghampiri putrinya. Menanyakan bagaimana cara membaca ayat tersebut. “Ooh”, jawaban singkat Si Ibu saat mendapatkan jawaban dari sang Putri. Seketika hati sang putri tersentak, ia melewatkan untuk mengajarkan ilmunya kepada ibunya  sendiri namun telah mengajarkan banyak orang di luar sana. Ia melewatkan untuk berbakti kepada keluarganya sendiri, orang terdekat dalam hidupnya. Segera, ia menyusul Sang Ibu di kamar  yang masih sibuk dengan Qur’annya. Menemani dan memperhatikan tilawah Sang Ibu.

***

Betapa banyak waktu yang sudah terlewatkan dengan tidak memperhatikan mereka?

Tentang Yang Terlewatkan

Sebetulnya , kemarin umak sudah menelpon. “Nanti ya mak” , batin saya sesaat tau telpon dari Ibu. Setelah pulang kerja, saya ketiduran. Hanya melihat lagi henpon sekilas, oh iya ada telpon dari umak tadi, benak saya saja yang merespon. Saya pun langsung melanjutkan tidur. Setelah pagi tiba, Saya berniat untuk menelpon saat siang saja. Lagi pula saya harus ini, saya harus itu, dan terlupa lah untuk menelpon umak. Lagii.. saya lupa.

See, atas nama lelah.. atas nama kesibukan.. atas nama prioritas.. atas nama antah berantah itu.. saya lupa menanyakan kabar seorang wanita dengan segala ketulusan , pemilik  seluruh kesabaran, pengampu segala kesahku, penenang segala resahku, pengajar arti Tuhan Maha Penyayang,  yang seluruh waktunya diubah untuk memanjatkan doa demi kelancaran segala urusan anaknya di tanah rantau. Tuhaan, saya melewatkan satu  kesempatan yang tak pernah kembali lagi untuk mendengarkan suara yang terdengar resah saat aku telat mengangkat telponnya. Aaahh, betapa egoisnya saya Tuhan.

***

Tak butuh banyak waktu untuk menuliskan sepatah dua patah kata untuk memberi sapa. Takkan tersita banyak waktu untuk sebuah tanya bertukar kabar.
Semoga tidak ada waktu lagi untuk sebuah hal yang tak boleh terlewatkan 🙂

Love u umak
Love u sahabat
Love u all
Maafkan atas segala kekhilafan ya 🙂 :*

 

 

Courtesy photo: Evrina Budiastuti

 

 

 

12 thoughts on “Tentang Yang Terlewatkan

  1. Subhanallah, tidak ada yang lebih berharga dibandingkan memiliki anak yang sholeh dan sholehah.
    Ini dia pentinnya orang tua mendidik anak, bukan pembantu yang mengurus anak.

  2. Mbak desi, tulisannya bikin saya mewek. Saya sendiri kalau udah banyak tugas dan kegiatan suka besok aja telpon orang rumah, tapi besoknya malah lupa. Terus kayak gitu. Sampai sampai biasa mama yang duluan nelpon. Huaaaa… anak apa saya ini. Jadi sedih 🙁 terima kasih mbak sudah diingatkan lewat tulisannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *