Fitrahnya manusia adalah pelit, tidak mau berbagi. kenapa? taunya dari mana? Dalam kitab suci disebutkan,

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”. (QS. Al- Ma’arij: 19-21)

Apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Note penting dari ayat diatas.

Terus kenapa masih ada yang mau berbagi saat mendapat kebaikan? Yakin mau berbagi apa saja? Jangan-jangan kita hanya mau berbagi kalo kita juga dapat keuntungan dari hal tersebut. Sangat sulit mengukur atau memurnikan keikhlasan. Misalnya.. mengerjakan sesuatu karena ada imbalannya. Kita mau berbagi bisa jadi karena ingin popularitas. Kita mau sedekah bisa jadi karena ingin dipuji mertua. Kita mau berbagi karena ingin dilirik calon suami. Kita mau berbagi karena ingin mendapat pujian dari guru atau teman-teman. Hanya kita, Tuhan, dan hati kita saja yang tau. No body else.

Bisa saja mulut berkata tidak butuh semua hal keduniawian itu, namun sejatinya, tentulah hati terdalam berharap berbagi itu mendapat kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat. Namun, sekali lagi, hanya Tuhan yang tau isi hati kita semuanya.

Hati, segumpal daging yang mempengaruhi seluruh perilaku diri. Muslimah cantik mengenal sebuah hadits terkenal: Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh perilakunya. Dan sebaliknya jika segumpal daging itu buruk, maka buruklah seluruh perilakunya.

Jika menurut pandangan manusia, seseorang itu berprilaku baik, bisa jadi ia termasuk salah satu wanita yang memiliki hati yang baik. Dan sebaliknya, jika perilakunya buruk, maka dapat dipastikan hatinya buruk.

Cantik dari hati menurut saya, adalah wanita dengan hati yang hanya mengharapkan balasan dari Sang Pencipta saja. Popularitas, imbalan, disayang keluarga, dipuji suami, disegani masyarakat, dicintai sahabat dan teman-teman adalah bonus dari Sang Maha Baik saja. Semua kebaikan dunia hanyalah hadiah yang diberikan Tuhan untuk mencicipi sedikit kebahagiaan di akhirat. Kebaikan akhirat lebih banyak, lebih berlimpah, dan lebih dirindukan dari segalanya. Karena dunia, hanyalah tempat berbangga-banggan dan sementara. Dan kampung akhiratlah yang menjadi tempat pulang kita, yang menjadi tempat kembali.

 

Belajar dari Bunda Khadijah Binti Khuwailid ,Mother of the orphans, gelar untuk beliau. Menjadi ibu dari banyak anak yatim piatu pada zaman Rasulullah. Begitu banyak, anak-anak yang terbantu dan turut merasakan cintanya, indahnya hidup bersama bunda Khadijah. Bunda Khadijah tidak hanya membantu yang yatim piatu saja, namun kepada kaum miskin, janda, dan orang sakit. Dan yang lebih serunya, kalo Bunda Khadijah juga suka membantu kaum jomblo. Tak tanggung-tanggung, beliau juga mempersiapkan mahar dan keperluan pernikahannya. Seru ya jadi jomblo saat Bunda Khadijah saat masih hidup, hehe. Memberikan kebahagiaan kepada orang lain, akan mengalirkan arus kebahagiaan yang deras dalam kehidupan kita sendiri. Bunda

imagesource: civilita.com

imagesource: civilita.com

Khadijah hanya mengharapkan satu hal saja,  ridho dan balasan dari Alloh. Cantik dari hati yang sejati.

Meniru contoh yang baik, gak ada salahnya kan? Meniru perilaku Bunda Khadijah, yang merupakan cerminan cantik dari hati. Kalo bisa  meniru semua prilakunya, insy sudah Alloh hadirkan surgaNya di kehidupan dunia. Namun, kalo masih belum sanggup. Bolehlah nyicil-nyicil dulu. Misalnya membantu keluarga terdekat yang sedang kesusahan. Karena mereka lebih berhak  untuk dibantu terlebih dahulu. Selain keluarga terdekat, Alloh juga mengajarkan siapa saja yang palik berhak mendapatkan pertolongan.

“Kebaikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah [2]: 177)

Tuntunan kita untuk berbuat baik sudah sangat lengkap; kerabat dekat berada di posisi pertama, lalu anak yatim, orang miskin, musafir, dan peminta-minta. Jika belum bisa meniru seluruh  perilaku cantik dari hatinya Bunda Khadijah, yuk kita turut membantu dan membahagiakan orang-orang disekitar kita dulu.

 

Salam Cantik Dari Hati Sahabat 🙂

bannerwardah