“Menjadi guru itu, senantiasa akan dikenang dan sarat amal jariyah.  Profesi dan posisi guru itu menyenangkan. Setidaknya, membuat awet muda karena selalu berinteraksi dengan manusia”.- Ippho Santosa

Setelah cukup lama berkecimpung di dunia pendidikan, dunia yang saya tak bisa tinggalkan insy, saya merasa gatel untuk menuliskan apa yang saya alami dan hadapi selama berinteraksi dengan siswa. Ada banyak kejadian yang sayang untuk berlalu begitu saja dan menguap dalam lupa, alangkah baiknya dituliskan di dalam blog dan smoga bermanfaat untuk saya, orang tua, dan teman-teman seperjuangan.  Doakan saya bisa konsisten menuliskan topik ini ya temans 🙂

Kita tak akan  pernah lepas dari berinteraksi dengan manusia. Interaksi dengan manusia, menurut saya  adalah sebuah kemampuan yang memiliki nilai seni tinggi. Bergaul dengan orang yang lebih tua, ada seninya.  Patutnya kita ada dalam posisi menghargai mereka yang umurnya melebihi kita. Sedangkan bergaul dengan anak kecil, seninya lebih banyak lagi.  Agar obrolannya nyambung, yang lebih dewasa patutnya memasuki dunia mereka dengan memahami setiap fase yang mereka sedang alami.

Beberapa minggu yang lalu, saya mengikuti kelas parenting. Sebuah kelas yang sewajarnya hanya dimasuki oleh orang-orang yang sudah mengemban tugas sebagai orang tua, atau bagi mereka yang sudah menikah. Lah, saya, ikutan buat apa? Buat masa depan pastinya. Tapi bukan itu yang jadi poin penting.  Saya ikut kelas ini, karena GALAU ngadepin siswa saya di kelas.  Jadi, bertepatan banget karena ada event dari Blogger Perempuan.

Iya sich.. kelas parenting kayak gini, memang lebih tepat dan sangat tepat kalo diikuti oleh mereka yang sudah berkeluarga. Dan baiknya memang bukan ibu-ibu saja yang sibuk dengan kelas parenting. Namun juga, baiknya dari pihak suami atau ayah juga turut berperan.  (Para suami kayaknya masih sibuk ngantor). Karena sepengetahuan saya, suami atau ayah memiliki peran yang sangat besar dalam pertumbuhan sikap kepemimpinan dalam diri anak. Bahkan di dalam Al-quran pun dijelaskan bahwa ayah memiliki peran penting dalam mendidik anak dibandingkan posisi ibu.

Udahan ya, cerita soal pentingnya peran ayah dalam mendidik anak, semoga saya dicukupkan waktu dan ilmunya dalam menuliskannya. Lagian kan saya juga belum  ‘expert’ tentang urusan itu, ya kan?.. ya kan?..

pengertian-dan-karakteristik-komunikasi-efektif

Source pict: psikologi.com

Kembali ke kelas parenting yang saya ikuti kemarin. Alasan terbesar saya kenapa mengikuti kelas tersebut karena sedang bingung tingkat tinggi menghadapi siswa saya, sebut saja Q. Ya, itu bener banget.

Q ini.., anaknya hiperaktif banget di kelas. Selain itu, Q juga punya sifat gampang ngambek dan marah. Ditegasin dikit, Q-nya langsung marah-marah, suka ceplas –ceplos lagi. Temperamen banget deh.  Aahh, nguji iman dan kesabaran banget deh. Tensi saya selalu naik klo udah selesai ngajar kelasnya Q. Tensinya naik mungkin gara-gara maksain banget buat sabar, seumur-umur selama saya ngajar.. baru kali ini ‘dipertemukan dengan siswa yang ajaib kayak Q. Alhasil, saya  gelagapan karena gak punya ilmu yang tepat buat ngadepinnya.  Saya yang selama ini cukup belajar lewat googling aja, jadi merasa harus ikut kelas parenting dulu.  Buat nambah ilmu.

Kelas parentingnya diadain di Nutrifood Inspiring Center. Topiknya yang dibahas ada banyak;

  1. Mengatasi perbedaan pola pengasuhan dalam era digital
  2. Pentingnya mengelola emosi: marah, merasa bersalah, enggak enakan
  3. Manajemen waktu : bekerja, me time
  4. Teknik komunikasi efektif, dan
  5. Menangani konflik

Semuanya dibahas dalam konteks keluarga, saya cari celah aja hal mana yang bisa diaplikasikan ke dalam kelas. Kali ini saya bakal share tentang teknik komunikasi yang efektif.  Mungkin jenis komunikasi yang saya lakukan dengan Q tidak efektif, jadi kita bedua  gak nyambung, gak klop di dalam kelas.

Secara teori, berikut contoh komunikasi yang tidak efektf yang biasanya kita lakukan. Dengan table dibawah ini, kita belajar beberapa tips yang bisa diaplikasikan agar komunikasi berubah menjadi efektif. Bisa melalui refleksi pengalaman, dengan observasi, menujukkan empati atau memberikan pilihan dan antisipasi. Lengkapnya, liat detail dibawah ya 🙂

Komunikasi Tidak Efektif

Komunikasi Efektif

Nasihat

“Makanya, jangan malas, tas diperiksa tiap mau berangkat”

Refleksi Pengalaman

“ Aku juga dulu pernah ketinggalan PR, takut banget waktu ditanya guru. Akhirnya, aku selalu periksa ulang tas sebelum berangkat”

Interogasi

“Kok, datengnya telat?, Kenapa? Main dulu ya?”

Menyatakan Observasi

“Datangnya telat banget, kayaknya lagi sibuk di sekolah ya”

Menolak Perasaan

“Orang tua nggak usah terus-terusan khawatir, nanti jadi tambah kesal”

Menunjuk Empati

“Orang tua pasti khawatir karena sayang sama anak-anaknya. Memang, apa yang paling bikin cemas?”

Perintah

Tulis sekarang!

Pilihan dan Antisipasi

“Waktu belajar kita satu jam lagi, mau dengerin penjelasan Mba dulu lalu nulis, atau  nulis dulu lalu lanjut dengerin Mba?”

 

Sekarang, sudah jadi lebih jelas ya, cara untuk membangun komunikasi yang efektif? Semoga bisa membantu ya temans 🙂

Selain tips diatas, ada faktor lain yang mendukung terjadinya komunikasi efektif, yaitu :

  1. Pengelolaan emosi yang baik,  terutama saat lelah dan stress. Kita biasanya suka lose control dalam mengendalikan emosi. Iya apa iya banget?
  1. Hadir dengan sepenuh hati dan sepenuh tubuh

Baiknya, tunjukkan dukungan atau perhatian  dengan sikap tubuh yang baik yaitu berupa kontak mata, ekspresi wajah, perhatian penuh dan tidak terbagi (misalnya: tidak sambal melihat ponsel. Kebiasaan jelek ya nyambi-nyambi pekerjaan sambal ngintip2 notif di ponsel :D)

  1. Berempati

Menerima yang dirasakan lawan bicara, tanpa menyalahkan atau membenarkan

  1. Gunakan pernyataan diri (I-Message)

Mengungkapkan hal yang kita rasakan , bukan menyerang dan melabeli atau mengatai lawan bicara

 

I Message itu apa? I message itu salah satu bentuk empati tertinggi karena melihat sebuah kesalahan dengan menggunakan I (kita/saya) sebagai poin utama, bukan lawan bicara. I-Message ini memerlukan latihan dan pembiasaan yang baik agar komunikasi efektif tercapai.

4 bagian utama dari I-Message:

Saya merasa > Saat > Saya Ingin > Karena

Contoh penerapannya :

  • Saya merasa sedih
  • Saat kamu bicara dengan nada tinggi
  • Saya ingin kita bicara dengan tenang
  • Karena kita perlu saling menghargai dan menjadi contoh yang baik

HINDARI menggunakan U-Message karena lawan bicara akan merasa disudutkan dan membuat komunikasi tidak efektif.

Contoh U-message:

Kamu jahat karena bicara dengan nada tinggi, kamu tidak memikirkan perasaan saya.

See the difference, right?

 

I message sangat membantu untuk tetap menjaga harga diri orang yang sedang melakukan kesalahan. Kita tidak men-judge-nya dengan sebuatan apapun. Dengan cara I message diharapkan , yang membuat kesalahan akan menjadi sadar dengan cara terhormat.

Ini secara teorinya ya :D.  The truly battle is how to apply them on our daily.

Semoga sukses ya para orang tua dan teman seperjuangan 🙂 Keep Calm and Stay Postive ya.

Related Post