Reportase

Menikmati Behind The Scene Drama Musikal Khatulistiwa

Salah satu hal yang saya impikan sejak dulu hingga kini adalah menonton pertunjukan opera di luar negeri. Alhamdulillaah sewaktu berkunjung ke Beijing kemarin, saya dan teman-teman diberi kesempatan menikmati pertunjukan opera di salah satu gedung  teater di Beijing.

Menonton atraksi di Beijing
Menonton atraksi di Beijing, courtessy : Evrina

 

Kami disuguhi cerita kerajaan Cina, dan beberapa macam  atraksi menarik lainnya.  Dan semuanya membuat saya ternganga. “Indonesiaku kapan buat begini?” monolog saya dalam hati. Sedih dan kangenIndonesia tiba-tiba menyeruak.  Indonesiaku juga kaya, hanya belum dikelola saja. Atau informasinya yang tidak sampai pada saya mungkin. Akhirnya saya menenangkan diri dengan pernyataan yang terakhir. Semoga Indonesiaku lebih baik, doa saya dalam hati.

Tanggal 18 Oktober yang lalu, saya dan teman-teman blogger lainnya Alhamdulillah banget diberi kesempatan untuk ikut menikmati behind the scene-nya drama Musikalisasi Khatulistiwa. Mengenai drama ini, bisa lihat postingan saya sebelumnya : Ketika Tinta Sejarah Berkembang Menjadi Drama Musikal Khatulistiwa.

Acara dimulai di hari yang sudah sore, pukul 17.20 WIB. Hari sudah menjelang magrib, namun saya masih tak sabar untuk segera menonton. Setelah registrasi saya memasuki sebuah ruangan yang cukup luas. Panitia masih sibuk dengan segala macam kegiatannya. Ada yang sibuk di meja registrasi,  benerin sound acara, juga masih ada yang sibuk latihan nyanyi atau akting di belakang panggung.

Saya juga ikutan sibuk nyari colokan karna batere henpon udah gak putih lagi dan power bank ketinggalan di kosan teman. Fiuuhh, sedih banget kalo udah begini. Amunisi untuk kerja udah mulai abis. Jadi blogger, kalo gak punya sinyal n batere, hidup udah brasa mau berhenti aja.

Auditorium Gedung Nyi Ageng Serang semakin dipenuhi para undangan mulai dari anak SMU, guru sejarah, anak kuliah, vlogger, blogger, para pemain, dan panitia . Semuanya turut ambil bagian, tak ingin ketinggalan keseruan menonton behind the scene  drama musikal khatulistiwa. Artis seperti The Sita, satu dari vokalis AB3, aktor kondangan Epi Kusnandar ternyata  juga turut andil menjadi pemain.

Panitia kembali merefresh ingatan cerita dibalik awal mulanya drama musikal khatulistiwa dan merupakan sebuah informasi baru bagi peserta lainnya.

Melvi Tampubolon, seorang produser di balik drama musikal Khatulistiwa,  Drama musikal ini hadir untuk mengajak kita untuk kembali meyerap semangat perjuangan para pahlawan , mengajak kita untuk mengetahui sejarah kita sendiri, mengajak kita untuk mengenal para pahlawan, karena kalo gak kenal gimana bisa cinta. Pengaruh dari luar, sudah sangat kental di darah anak muda masa kini. Boro-boro mengenal pahlawan, taunya super hero ala-ala yang didesain manusia yang belum tentu lebih hebat dari pejuang sebenernya.

Asep Kambali, kembali melanjutkan sesi sharing. Sesi paling menegangkan buat saya. Gimana nggak.. kami, peserta ditanyakan beberapa arti dari kata-kata yang sudah biasa didengar, sudah sering ditulis dan diucapkan. Tapii.. sebagian  besar peserta termasuk saya gak tau sama sekali. Misalnya saja, arti kata dari Indonesia dan  pahlawan. Kata Asep Kambali, yang juga kini menjadi Presiden Asep sedunia, pahlawan itu berasal dari kata ‘pahala’ dan ‘wan’. Pahalawan adalah  orang yang memiliki banyak pahala.

Peserta ditanya lagi, Daan Mogot dan Rasuna Said berasal dari nama apa? Dan saya terkejut, kalo ternyata dua-duanya adalah nama pahlawan, dan yang bikin kagetnya, Rasuna Said adalah nama dari seorang pahlawan perempuan. WOW banget infonya buat saya. Aaahh beneran gak tau apa-apa tentang sejarah bangsa sendiri. Semoga saja masih diakui sebagai warga Indonesia 😀

Kayaknya saya harus join sama komunitas Indohistoria yang juga Asep Kambali sebagai foundernya. Ayuukk, kita belajar sejarah.

Usai sholat magrib dan makan malam, posisi duduk peserta sudah berubah menjadi tempat latihan. Kursi-kursi sudah disingkirkan ke tepi panggung. Seluruh undangan  dipersilahkan explore sendiri setiap sudut arena latihan dan sharing.

Undangan juga diperkenalkan dengan desainer kostum-kostum yang digunakan oleh pemain drama musikal. Adalah Auguste, insan kreatif dibalik semua kostum –kostum yang harus menjiwai dan menyatu di dalam sebuah cerita. Pemilihan warna yang polos dan no full colour diterapkan disini. Pemilihan warna kostum sangat memiliki peran suksesnya sebuah pementasan, jelas Auguste.

Dan beberapa di sudut lain, ada tim berisi anak-anak muda yang sedang berlatih adegan, ada juga tim berisi anak-nak kecil yang sedang latihan koreografi dan nyanyi sambal membawa buku sebagai propertinya. Aaahh, gak kebayang mereka ikut ‘berkorban’ melatih diri dari jam 17.00-23.00. Usai pulang sekolah bukannya leyeh-leyeh tapi malah ikut nimbrung untuk latihan drama musikal.

Usai sesi tersebut, area tengah mulai dikosongkan. Para undangan dipersilahkan untuk menikmati tontonan dari tepi auditorium saja. Lampu mulai dipadamkan, suasana beneran gelap. Pemimpin latihan tidak mengizinkan sama sekali sedikit cahaya pun timbul dari smartphone. Huuuu, mau apa kita ini? Saya berasa sedikit horror, hihi.

Dan dimulailah penampilan hebat dari para pemain. Adegan dimulai dengan penampilan anak-anak yang sedang belajar bahasa Belanda, satu pihak berperan sebagai guru dan beberapa anak lainnya sebagai muridnya.

“Gutten Morgen” , Ibu guru berkata

“Gutten Morgen”, jawab murid-murid.

Kemudian dilanjutkan dengan belajar kata yang lainnya. Dan tak ketinggalan belajar bahasa Jawa dan Sunda.

Nikmati keseruan menonton behind the scenenya ini.

Adegan diatas adalah tentang Pahlawan Dewi Sartika. Dewi Sartika adalah pahlawan wanita yang merupakan tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Dewi Sartika pernah bersekolah di sekolah Belanda, meski pada masa itu sangat dilarang untuk duduk di bangku sekolah. Setelah kedua orangtuanya wafat, Dewi Sartika diasuh oleh pamannya yang memiliki latar belakang Sunda. Dewi Sartika suk membagi-bagikan ilmunya kepada anak-anak pembantu kepatihan tentang kemampuan baca tulis dan juga bahasa Belanda. Meski adat melarang, Dewi Sartika dan Pamannya berhasil untuk mendirikan sekolah perempuan. Jadi ikut lega bacanya, bagaimana kalo dulu Dewi Sartika tidak gigih berjuang dalam mempertahankan hak pendidikan bagi kaum wanita, kita perempuan masih sibuk dengan urusan dapur saja. Terimakasih Ibu Dewi. Insy amal jariahnya terus mengalir.

Buat yang belum kenal Dewi Sartika, ini foto beliau.

dewi-sartika
Mirip Teh Sita RSD kan ya 🙂

Jujur saya juga gak kenal dengan wajah beliau yang kalah pamor dengan RA. Kartini. Coba perhatikan mirip dengan Teh Sita ya? Hehe. Mungkin itu jadi salah satu pertimbangan memilih beliau untuk adegan ini.

Coba lihat saja kepiawaian Teh Sita dalam memainkan peran, aahh saluuttt sama perempuan kece ini.

So, setelah mengintip behind the scenenya drama musikal Khatulistiwa, masih belum ada niatan untuk nonton drama musikal kece ini?

Buat yang udah gak sabaran segera beli tiketmu dan keluarga serta ajak teman-teman lebih banyak untuk menonton sejarah secara live ini.  Segera pesan dan beli tiketnya di kiostix.com ya temans.

See you there ya 🙂

Semoga suatu hari nanti kesampaian nonton opera di benua biru sana 😀

Related Post

10 thoughts on “Menikmati Behind The Scene Drama Musikal Khatulistiwa

  1. Ini bisa menajdi contah drama musikal lain. Komplit banget nilai yang terkamdung di dalamnya. Dari seni, pendidikan dan sejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *