Percik Hati

Secangkir Semangat Keseimbangan dari Kopi

Halo Assalamualaikum Sobat semua. Alhamdulillah, kita bertemu di awal Desember ๐Ÿ™‚

Lama tak menyapamu dengan hati yang lebih damai, tanpa deadline, dan tanpa pesan sponsor ๐Ÿ™‚ Maafkan ya!.

Hari ini, ada yang berbeda dari pagi biasanya. Saya merasa sangat lelah sekali. Lelah banget secara fisik, itu sudah lumrahnya hidup ya. Tapi kali ini saya merasa jiwa saya lelah. Ada yang hilang dan terasa hampa. Ya, hati ini terasa hampa.

Iya merindukan sesuatu yang hilang. Ketenangan. Hal yang sangat sulit sekali saya temui belakangan, ditengah jadwal deadline yang serasa tak berhenti. Selesai hari ini, deadline yang lain sedang menunggu untuk dieksekusi. Dan begitu seterusnya. Saya merasa hidup saya dipenuhi dengan deadline. Dan pagi ini, saya tersentak, ketika schedule board saya memang selalu penuh. Selalu penuh dengan deadline keduniawian.

Saya lupa dan kurang ย berkomitmen untuk mengutamakan deadline tilawah saya. Dan saya merasakan masalah utama dan masalah besarnya ada pada masalah komitmen satu ini. Komitmen untuk menyelesaikan tilawah one day one juz. Kebiasaan ย yang makin terpupus waktu setelah sekian lama merasakan ketenangan yang ย  telah dihadiahkannya. Dan Saya rindu sangat merasakan ketenangan itu. Ketenangan dan perasaan bahagia yang tak saya dapatkan dari menang lomba jalan-jalan gratis sekalipun. Rasa tenang dan puas yang tak terlukiskan.

Hari ini, saya mulai belajar kembali. Menata deadline hidup saya kembali. ย Membayar utang, haus jiwa yang sudah sangat lama dan banyak saya korupsi. Maafkan saya duhai hati.

Tanyakan tentang secangkir semangat keseimbangan pada kopi? :)
Tanyakan tentang secangkir semangat keseimbangan pada kopi? ๐Ÿ™‚

Hari ini, saya belajar keseimbangan dari secangkir kopi. Ya, setelah menjadi pencinta teh, kini saya berubah menjadi pecinta kopi. Saya suka kopi ples gabungan coklat. Tak lain agar saya tetap melek ditengah rentetan deadline. Saya harus bisa komit untuk menyelesaikan kontrak yang sudah disetujui diawal. Jadi, tubuh saya porsir abis untuk stay alert sampe tengah malam tiba, meskipun sudah mengajar seharian. Yah, masa muda ini, saya ingin maksimalkan semampu dan sekuat saya. Saya sadar, masa muda tidak datang dua kali. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Jika pun kesempatan itu datang kembali, pasti akan datang dengan nilai dan kemampuan yang berbeda. Itu yang saya yakini. Sebab itu, saya mencintai kopi.

Hari ini, minuman yang saya cintai, kopi, mengajarkan saya tentang arti keseimbangan. Saya berazzam untuk menyelesaikan tilawah one day one juz saya pagi ini. Subuh tadi sudah saya lewatkan dengan alasan masih lelah dan masih mengantuk. Rongrongan dan godaan setan memang selalu lebih kuat. Dan saya kalah.

Pagi ini, saya disentil lewat secangkir kopi. Kopi saya ‘tuhankan’ untuk menjadi teman sejati saat mengerjakan tugas demi tugas. Pagi ini, saya paksakan untuk menyelesaikan tilawah bersama seduhan kopi panas. Saat memulai tilawah tak banyak rasa kantuknya. Namun, belum setengah jalan, ngantuknya seakan menguasai diri. Mata udah mau ketutup saja. Mulut pun menguap. Seketika saya paksakan diri ke dapur untuk menyeduh kopi. Saya ingin membayar utang pada diri saya. Tekad kuat saya pagi ini.

Dan secangkir kopi telah menemani. Hal yang tak pernah terlintas dalam fikiran saat menyelesaikan urusan akhirat. Saya berusaha menyelesaikan tekad ini dengan hentakan degup jantung akibat minum kopi. Ya, saya butuh itu, agar saya lebih bersemangat. Jujur , saya malu pada diri saya sendiri. Malu pada hato. Malu pada Al-Qur’an yang setia memanggil. Dan tentunya sangat malu pada Alloh Yang Maha Baik yang dengan selalu setia menyempurnakan setiap kenikmatan. Kenapa ย tidak pernah terfikir untuk bertekad ย kuat menyelesaikan tilawah bersama secangkir kopi.

Saya berharap tak selamanya saya akan bertumpu pada secangkir kopi. Semangat itu harus bisa tertanam dalam jiwa. Tapi, untuk saat ini, biarkan saya menjemput secangkir semangat keseimbangan dari secangkir kopi.

Saya menuliskan ini, sebagai pengingat dan cambuk bagi diri saya di masa -masa surut semangat. Bahwa ada yang lebih konsisten dan komitmen dalam mengusik ketenangan jiwa. Setan dan keduniaaan yang ada dalam genggaman.

Trimakasih untuk secangkir kopi pagi ini, saya belajar tentang ย semangat keseimbangan. Tetap semangat duhai hati ๐Ÿ™‚

 

 

 

26 thoughts on “Secangkir Semangat Keseimbangan dari Kopi

  1. Iya betul Des, kalau lama gak tilawah atau jarang tilawah itu hari terasa kering. Makanya aku udah jarang ikut lomba blog, karena energi & pikiran terkuras ke sana sampai ibadah pun terburu-buru dan hasilnya ternyata jarang menang

    1. iya ya Mba Leyla, itu jg harusnya jd reminder yah. sudah mengutamakn yg sifatnya mubah saja. huuhuhu maafkan diriku. Maafkan saya ya Alloh

  2. kalau rutin abis sholat 5 waktu dan sholat sunnah tilawah dua lembar aja rasanya nikmat, ga terburu-buru, bisa meresapi lebih nikmat, seperti saat mencecap minuman coklat (saya bukan pecinta kopi ๐Ÿ˜€ ) ..ga kerasa sehari dapat 1 juz tanpa dikejar target ๐Ÿ™‚

    1. Iya Mba Dwi.. hiks hiks hiks sedih bgt emang saya sgt ini. Btw, sy juga pecinta coklat. reminder bgt buat saya ini ๐Ÿ™‚

  3. Selama ini saya menyeimbangkan diri dengan ikut kegiatan sosial. Sepertinya mulai harus kembali rutin menambahkan membaca al quran ke jadwal untuk membersihkan hati. Salam kenal ๐Ÿ™‚

  4. biasanya ritme tilawahku mulai kacau saat menstruasi…memulainya suka banyak halesaaan.
    Tp tetep tidak ada yg bisa menggantikan kesejukan tilawah qurรกn… karena selalu aku kembali meski kadang ada fase downnya
    semangat yuuk

  5. Wa’alaykumussalaam …
    Sesungguhnya keseimbangan dan semangat itu ada pada Qur’annya. Kopi hanya pengalihan isu >_<

    Semoga terus istiqomah, mbak. Jadikan Al-Qur'an penawar lelah dan suluh semangat. ๐Ÿ™‚

  6. kalau saya minum kopi mas lagi mentok ide juga pas lagi ngantuk saat kerja mba.. hehe
    tapi temen saya malah jadi obat tidur, kalau susah tidur dia minum kopi dan langsung tidur.. sungguh aneh tapi nyata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *