Advertorial

Kamu Seorang Freelance! Perlukah Bayar Zakat Profesi???

Freelance itu bayar zakat gak sih, tanya saya ke suami. Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di fikiran. Selama ini kan saya masih terima slip gaji, jadi lebih gampang buat ngitungin berapa total zakat yang dibayarkan. Tapiii sekarang slip gaji udah dadah bye bye. Setelah menikah dan ingin konsen bekerja dari rumah. Baru pertanyaan diatas  terlintas di fikiran.

Emang kenapa De? Tanya suami lebih jelas. “Iya tetap bayar lah”, tambahnya. “ Kan namanya juga pekerjaan kamu, ya otomatis ada jatah orang lain yang berhak dari uang yang kamu dapatkan, Suami menjelaskan.

Hmmm, iyaya. Kan saya bisa dapat duit dari pekerjaan saya sebagai penulis. Walaupun memang gak ada slip gajinya. Tapi, transferan ke rekening kan jalan terus Des, saya terus bermonolog. Kalo ada slip gaji, biasanya saya tinggal kali 2,5 % dari total penghasilan, itulah nilai zakat yang menjadi hak orang lain dan harus dikeluarkan dari penghasilan.

Kalo secara umum, zakat profesi bagi yang punya penghasilan tetap butuh 3 indikator. Satu, nilai gaji bersih. Dua, Total penghasilan lain diluar gaji bersih. Dan yang terakhir, Nilai hutang atau cicilan yang kamu punyai saat ini. Dari ketiga hal tersebut, kita akan tau nilai nominal zakat profesi yang kita keluarkan. Itu ceritanya kalo kita punya penghasilan tetap.

Truuss, “Bayar zakatnya gimana nih?”, tanya saya sedikit berteriak dari dalam kamar. Suami yang sedang menonton di ruang TV sedikit terusik. Ia menurunkan volume suara TV. “Bayar zakat apa De?”, tanyanya kembali. “Bayar zakat kerjaan saya abang”, tanya saya lebih lengkapnya.

Siaran bola di TV membuat konsentrasinya tidak bisa terbagi dengan saya. “Sebentar ya Dek”, sahutnya pelan. Jawaban singkat itu memaklumkan saya untuk segera bertanya ke mbah google saja demi mengusir rasa penasaran.

Dari beberapa situs yang saya baca, berikut yang saya pahami. zakat profesi itu adalah uang atau harta yang wajib kita keluarkan dari harta yang kita miliki. Dan syaratnya  adalah telah tiba masanya atau waktunya biasanya dihitung selama satu tahun. Dan syarat yang kedua penghasilan yang dimiliki tersebut, bukan dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan selama sebulan. Aka, harus ada penghasilan lebih diluar keperluan untuk pemenuhan kebutuhan selama sebulan.

“Kalo gajinya habis tiap bulan untuk memenuhi segala kebutuhan, kamu gak perlu bayar zakat profesi. Kalo masih ada sisa, nilai itulah yang ditotalkan lalu dikalikan dengan 2,5 % nya. Nilai yang diperoleh dari hasil perkalian tersebut adalah zakat profesi yang perlu dibayarkan”.

Harta apa saja yang yang wajib dibayarkan zakatnya? Ada tiga  macam, Atsman (emas, perak dan mata uang), Hewan ternak (unta, sapi, dan kambing), dan yang ketiga hasil pertanian seperti buah, gandum, dan kurma. Kalo kamu punya ketiga macam harta tersebut, siap2 bayar zakatnya ya. 🙂

Oiya, kenapa kita harus membayar zakat profesi? Kan itu uang kita sendiri. Pernah gak sih terlintas dalam fikiran kamu.  Justru zakat itu punya banyak manfaat lho. Mulai dari membersihkan harta kita sendiri, menambah persaudaraan, menjadikan kita lebih disayang oleh Sang Pemilik rezeki dan saudara lainnya, dan juga bisa menambah jalan rezeki kita. Iya, kita berbagi dengan orang lain, justru semakin banyak yang kita dapatkan sebagai gantinya.

Teruusss, bayar zakat profesi untuk freelance itu bagaimana? Kalo kamu freelance, bayarkan saja zakat profesi kamu sebesar 2,5 persen dari setiap penghasilan yang kamu terima dari transferan gaji. Atauu, kalo gak mau pusing-pusing coba aja kalkulator penghitungan zakat profesi ini. Beress deh! 🙂

Udah mau Ramadhan kan  ini, jangan lupa bayar zakatnya ya kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *