“Udah isi?”, tanya ibu A

“Alhamdulillah udah, tadi isi tahu goreng”, canda  saya dengan wajah tersenyum.

Esoknya, ada lagi yang bertanya dengan pertanyaan yang maknanya sama. Di awal-awal bulan pernikahan, saya masih bisa menjawab dengan santai pertanyaan yang sama tersebut.

Saya merasa tak perlu untuk menjelaskan sedetil mungkin, kalo saya dan suami memang masih mau pacaran dulu. Pernikahan saya dan suami tergolong pernikahan yang sangat dilimpahi dengan kemurahan kasih sayang Allah.

Hanya diawali dengan perkenalan singkat antar keluarga di awal bulan Januari. Feeling hati yang dikuatkan dengan ucapan ibu, bismillah saya menerima lamaran tersebut. Karena Ibu, nasehat dan sarannya, lamaran terjadi atas izin Alloh di tanggal 21 Januari.  Dan selanjutnya hubungan keluarga ini  dikekalkan dengan ucapan ijab qabul pada tanggal 25 Maret 2017.

Alhamdulillah saya dianugerahi dengan suami yang baik hati dan berhati lembut. Terimakasih ya, Ya Alloh. Segala puji hanya padaMu.

Karena pertemuan dan perkenalan yang singkat, kami sepakat untuk pacaran dulu. Keputusan ini merupakan keputusan yang kami sepakati berdua. Dan hal ini akan hanya saya jelaskan pada ibu, keluarga, dan sahabat terdekat. Bagi saya hal ini penting, agar orang-orang terdekat bisa memahami kondisi kami. Untuk menghindari terjadinya selisih paham dan harapan antara kami dan keluarga.

Enam bulan, masa yang kami sepakati untuk menunda kehamilan. Masa yang penuh ‘tricky’ untuk melewatinya bagi saya sebagai perempuan yang sudah menikah. Pertanyaan demi pertanyaan, serta tatapan yang kurang bersahabat sering saya rasakan karena saya yang belum juga hamil. “ Belum dikasih sama Alloh”, jawaban saya biasanya.

Hingga tiba di saat kumpul keluarga, terjadilah momen yang mengoyak kedamaian hati. Kondisi hati saya saat itu memang sedang labil, moodnya naik turun. Maklum, saya lagi datang bulan. Memang,  datangnya ujian gak kenal permisi dulu. Salah satu anggota keluarga bertanya kondisi saya dengan pertanyaan dengan bahasa yang tak sepantasnya. Menurut saya. Hal tersebut memaksa saya untuk tetap  menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Tak mungkin saya merusuh momen kumpul ini dengan linangan air mata.  Saya berikan jawaban dengan senyuman, dan satu kata ‘belum’. Tak kuat hati saya untuk menuliskan kalimat demi kalimat pedas itu. Saya ingin melupakannya saja, terlebih beliau mungkin akan sering saya temui. Kuhabiskan hari itu, berkumpul dengan geng anak-anak saja. Dunianya lebih damai, dan tentunya tanpa pertanyaan menyeramkan itu.

“Maafkan, mungkin beliau sedang khilaf. Mungkin tanda sayangnya memang begitu. Memaafkan akan lebih melapangkan hati”, nasehat Ibu saat saya menceritakan kejadian tersebut.  Karena Ibu, mendengar nasehatnya, hati saya jadi lebih lapang. Karena ucapan ibu, saya menjadi lebih memahami kondisi saya yang memang sudah berbeda. Pertanyaan itu, adalah pertanyaan wajar. “Karena kamu sudah menikah, sudah menjadi seorang istri nak. Kalo belum nikah, gak bakal ditanya pertanyaan demikian”, jelas ibu. Karena Ibu, saya jadi lebih tenang, lebih ‘nyadar’ kalo status saya sekarang tidak lagi gadis. Sudah punya tanggungjawab dan baiknya bersiap diri untuk menjadi seorang Ibu.

Kini usia pernikahan kami sudah memasuki usia 10 bulan. Ingin rasanya untuk  segera hamil, agar merasakan bahagianya berbagi bahagia bersama buah hati. Merasakan keseruan bermain bersama anak layaknya Kirana dan Ibu Retno. Ingin berbagi segalanya sebagaimana yang Ibu berikan pada saya.

 

Saya selalu ingat pesan ibu, ketika saya menikah. Bahwa dunia perempuan, sejak menjadi istri dan kelak kau insy Allah akan menjadi ibu akan sangat completely amazing rasanya. Ibu, insya Allah aku siap. Ada Allah… Doakan aku ya Bu. Sungguh… Aku ingin  jadi Ibu.

 

“Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa”.