“Yang baik ya di rumah, Ibu berangkat sekolah dulu?!”

Kalimat yang saya sering dengar semasa kecil dulu.

Ibu saya  menyebutkan pekerjaan beliau dengan ‘pergi sekolah’. Karena memang ibu saya seorang guru. Jadi, gak salah juga kalo ibu saya ngomong demikian ya.

Ibu saya memang tidak mendampingi saya sepanjang hari seperti ibu-ibu yang fokus di rumah saja. Tapi, saya berkeyakinan meski waktu  bersama ibu  tidak seharian, saya selalu merasa  kalo ibu selalu menyayangi saya.

Hingga saya sudah berumah tangga, saya masih selalu teringat kesan-kesan bersama ibu yang menyenangkan. Ini dia beberapa cara Ibu untuk  mengungkapkan cintanya :

  1. Menyediakan waktu bersama setelah lelah seharian.

Sepulang sekolah, saya dan ibu pasti capek dong. Sama kayak ibu-ibu pekerja lainnya. Waktunya istirahat atau pengajian untuk ibu. Saya terkadang menghabiskan waktu sore dengan leyeh-leyeh di depan TV atau ikutan les belajar. Saat pulang ke rumah, bisa saja sore atau malam hari,  keluarga biasanya ngumpul di teras rumah, meja makan atau depan TV untuk ngobrolin topik apa aja. Di suasana nyantai tersebut, masing-masing bercerita apa aja yang terjadi sepanjang hari. Momen ini, juga dijadikan ajang curhat buat saya, siapapun bisa memberi nasehat  atau saran.

  1. Selalu bertanya kabar

Hidup di perantauan, membuat ibu semakin protektif terhadap jadwal menelpon. Saat kuliah dulu ibu nyantai aja. Kalo sekarang, setelah menikah kewajiban nelpon setiap akhir pekan termasuk jadi hal yang wajib. Maklumlah, keluarga besar tinggal di Pulau Sumatera, sedangkan saya rezekinya tinggal di Jakarta. Jadi, jarak tidak memungkinkan kami untuk bertemu setiap harinya. Sapaan hangat setiap pekannya bisa meredakan kangen. Kalo zaman now lebih enak lagi, udah bisa video call.

  1. Menu istimewa di hari spesial

Bentuk cinta Ibu lainnya, selalu menanyakan pertanyaan yang buat saya suka banget menjawabnya. “Mau dimasakin apa hari ini? Langsung trenyuh sama pertanyaan itu.

Hari-hari spesial  gak usah nunggu waktu ulang tahun atau momen spesial lainnya. Akhir pekan, saat pulang kampung, saat momen kumpul di rumah (anak-anaknya yang rantau pada pulang) adalah hari spesial bagi Ibu untuk memasak. Setiap anak punya request menu yang berbeda. Tapi beleiau selalu penuh cinta menghabiskan waktu lebih lama di dapur. Terkadang sampai bingung, mau makan yang mana dulu saking kangennya masakan emak.  Ahh, jadi kangen emak ini J

  1. Memberi waktu jeda untuk berempati

Saya dan Ibu  gak selalu sweet, terkadang saya dan ibu juga beda pendapat tentang satu dan banyak hal. Terlebih saat saya, pertama kali merantau. Sudut pandang yang berbeda dan sok dewasa sering banget jadi titik poin perbedaan.

Ibu, sangat paham dengan watak saya yang keras kepala. Makin diomongin, makin gak terima kesalahan. Makanya ibu, sering banget kasih waktu jeda untuk saya berfikir dan merasakan kembali apa yang mejadi adu pendapat kita.

Setelah emosi saya lumayan reda, ibu yang sering menelpon lebih dahulu. Menanyakan kabar atau hal penting lainnya di luar topik perbedaan, atau malah pura-pura gak ngaku kalo ibu yang telpon duluan. Hmm, sekarang saya sadar banget, kalo keras kepala saya itu kelewatan. Alhamdulillah saya gak mau lagi keras kepala. “Emosi jelek itu lebih dekat dengan bujuk rayu setan”, itu pesan suami saya. Ini ngena banget pesannya. Karena saya gak mau dijadikan bala tentara syaiton, dan lebih banyak jeleknya memang.

  1. Selalu setia dalam segala situasi

Puzzle  kehidupan tak selalu punya gambar ceria. Ada petir yang mengiringi, hujan lebat menggugurkan segala kepercayaan. But, there is always I called MOM to stay with me. Ya, selalu ada ibu disana. Perempuan yang selalu menerima segala up and down kehidupan dengan hati seluas samuderanya. Taka da cinta semanis cinta Ibu kepada anaknya.

Saat menjelang menikah, saya juga sempat sakit karena kelelahan. Lelah mengurus semua keperluan pernikahan.  Masih jelas di ingatan, ketika itu, saya merebahkan diri di tempat tidur. Meluruskan seluruh badan setelah 8 jam perjalanan. Ibu saya datang, tanpa berkata apa-apa. Beliau langsung memijat kaki saya.   Pada saat yang sama, saya merasakan bahwa momen –momen spesial seperti ini, akan jarang saya nikmati setelah menikah. Putrinya yang dulu suka dipijat sama tangan Ibu, akan berpindah tanggungjawab ke suami.

Ibu tak pikir panjang untuk tak tidur sepanjang  malam ketika saya sakit. Sejak kecil , hingga saya sudah menjadi istri. Teringat saat masa kecil dulu, kalo saya demam Ibu punya pilihan tepat untuk menurunkan panas. Ibu sedia Tempra di dalam kulkas.

Kotak Tempra jadi media belajar ponakan

Kini, kebiasaan baik itu jadi kebiasaan yang turun temurun. Saat keponakan mengalami demam. Kakak ipar juga  percayakan pada Tempra.  Kenapa Tempra Syrup ? Karena Tempra ini aman di lambung. Tempra juga tidak perlu dikocok, larut 100 %. Saat ponakan lagi susah minum obat, gak perlu kocok-kocok dulu yang bikin ia makin gak mau diam. Dan satu lagi, Tempra itu, dosisnya tepat, tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis. Kalau lagi demam, no worries lagi.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra