“Ma, aku ikut ekskul ini ya?’

“Gak boleh.”                                               

“Ma, aku ikut pramuka ya?”

“Gak boleh.”

“Nanti kalo di hutan, kamu mau makan apa?”,  Ayah menimpali.

Mungkin karena putri satu-satunya, saya tidak dibolehkan untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah. Tapi beda urusannya, kalo urusan akademik.

“Ma, aku ikut les Bahasa Inggris ya?”

“Iya,ikut aja. Belajarnya yang rajin ya”.

Dan bapak diam saja mengaminkan.

Alhamdulillah, langkah saya untuk urusan kursus ini itu yang menyangkut mata pelajaran, diluluskan tanpa tapi oleh Umak dan Bapak.

Terkadang dongkol juga sih..  saya tidak terima dengan perlakuan  kedua orangtua yang ekstra dan sangat hati-hati. Tapi, karena saya anak baik (tolong aamiin-kan ya J ) , saya terima aja karena saya memang suka belajar.

 

Sketsa cerita diatas adalah salah satu kisah yang menggambarkan jenis parenting yang otoriter.  Metode yang bisa dikatakan umum diterapkan di era 90-an.

Di zaman millennial saat ini, menurut teman-teman gaya parenting kayak gini masih cocok gak diterapkan?

Zaman dimana anak-anak sangat sibuk dengan gadgetnya. Kehidupan sosialnya hanya dunia maya dan dirinya sendiri. Semua kesenangan ada dan berasal dari gadget.

Anak generasi Z punya banyak teman. Semuanya ada di sekitaran media sosial dan untuk kepentingan tenar di media sosial.

Kalo bosen. Tinggal buka game online. Atau tinggal install game baru.

Kalo masih bosen.  Buka Youtube. Buka website A, website B, dan seterusnya.

Tiba-tiba chat masuk. Berlama-lama ngobrol chat dengan berbagai jenis aplikasi.

 

“Semua bisa dilakukan hanya dengan gadget ditangan. Kekuatan kuota. Ketahanan jempol. Yang harus dibarengi dengan kejernihan otak.”

 

Orangtua millennial harus punya kemampuan dan penguasaan ilmu parenting yang tepat bagi anak-anak masa kini. Tak sedikit anak sekarang mengalami kebebasan yang kebablasan.

Efek dari adanya gadget dan  kuota, setiap individu bisa memperoleh informasi apa saja yang menyebar di internet. Penggunanya-lah yang harus bisa mengendalikannya.

Bagi anak-anak, orang tua, sekolah dan masyarakat  berlaku sebagai pengendali kebiasaan mereka. Lebih banyak yang waktunya kebablasan kalo lagi pas megang henpon, ya kan?

Menguatkan Ekosistem Pendidikan

Sesuai dengan Permendikbud No. 30 Tahun 2017 seluruh ekosistem pendidikan mulai dari sekolah, keluarga, dan masyarakat baiknya bersatu untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi anak.

Jika ketiga ekosistem berjalan dengan visi yang sama, akan terlahir generasi-generasi yang membanggakan nantinya. Ketimpangan di salah satu pihak, akan membuat anak-anak merasa punya ‘power’ untuk bertindak menyimpang.

 

Sebagai orang tua millennial, baiknya melakukan beberapa hal dibawah ini :

  1. Orang tua millennial harus punya akun media sosial

Setiap anak pasti setuju, kalo mereka harus dibesarkan sesuai perkembangan zaman yang ada di hadapan mereka. Nah, orang tua millennial wajib tau perkembangan zaman yang sedang mereka hadapi saat ini.

Tak gampang, pastinya. Karena kita juga punya tanggungjawab dimana-dimana. Mulai dari kerjaan di kantor, di rumah, belum lagi ada juga yang punya tanggungjawab di masyarakat. Tapi, yaitu, inilah yang menjadi tantangan orang tua saat ini. Menjadi orang tua yang gaul.

Orang tua millennial bisa ‘kepo’ dunia anak dengan tetap menghargai dunia mereka dan teman-teman anak. Orang tua harus bisa menempatkan diri sebagai sahabat bagi anak.

  1. Sempatkan waktu untuk menghadiri pertemuan-pertemuan yang dilakukan sekolah

Menyempatkan waktu untuk keperluan anak di sekolah bisa dilakukan dengan dua cara saat ini. Bisa dengan aktif hadir di sekolah, atau dengan aktif merespon di grup whatsaapp yang dibentuk guru/sekolah.

Mungkin sudah semua sekolah saat  telah memanfaatkan teknologi dengan  membuat whatsapp grup khusus orang tua. Jadi, orang tua yang memang sibuk dengan tanggungjawabnya, tetap bisa memantau perkembangan info yang ada di sekolah.

Dalam hal ini, dibutuhkan keaktifan orang tua dalam memberikan respon jika dibutuhkan. Atau setidaknya, tidak ada alasan lagi, orang tua kudet karena ketidaktauan informasi yang sedang berkembang di sekolah.

Keep enjoy di grup ya Moms 🙂

 

  1. Memiliki pemikiran terbuka dalam hal menerima masukan

Setiap orang tua punya ‘pakem’nya sendiri dalam membesarkan anak-anaknya. Dan insya Allah semua itu diharapkan dapat berujung baik dan menghasilkan keputusan yang baik untuk masa depan anak.

Berangkat dari hal tersebut, ada baiknya orang tua menerima saran dari pihak sekolah atau guru yang lebih mengenal prilaku anak di sekolah. Kenapa?

Tidak berarti, jika kita orang tua, kita tau banyak tentang anak kita sendiri. Justru malah terkadang guru atau teman-temannya di sekolah lebih mengenal si anak.

Menurut pengalaman saya ketika menjadi pengajar di bimbingan belajar, anak-anak itu sangat butuh perhatian dari orang tuanya. Quote yang berbunyi

“Anak-anakmu lebih butuh kehadiranmu daripada hadiahmu” dari Jesse Jackson itu sangat benar.  Mendengar curhatan anak-anak, saat materi sudah berakhir. Semuanya bercerita tentang butuhnya anak-anak tentang kehadiran orang tua bagi mereka.

Saat diberikan masukan oleh pihak guru atau sekolah, orang tua baiknya punya pemikiran yang lebih terbuka dan tidak merasa ‘dihakimi’ karena semua punya tujuan yang sama, yaitu untuk kebaikan si anak.

  1. Menumbuhkan karakter positif anak sejak dini

Menciptakan generasi dengan karakter positif  dilakukan sejak dini. Bukan pekerjaan sehari dua hari, tapi butuh waktu lama. Ibaratnya agar dapat  memanen hasil yang baik, kita butuh benih yang baik, irigasi yang memadai, dan pupuk yang cukup.

Menumbuhkan nilai karakter positif dapat dilakukan secara bertahap. Jenis karakter positif tersebut adalah : Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab. Sebaiknya ada 18 karakter berikut ini bisa ditumbuhkan sejak di rumah.

Berikut cara sederhana yang bisa dilakukan di rumah :

  1. Mengajak anak solat berjama’ah atau mengingatkan anak untuk menyempetkan waktunya untuk beribadah
  2. Hindari menyuruh anak untuk berbohong saat menerima telepon
  3. Ajarkan anak untuk bersimpati dan ambil tindakan saat terjadi bencana
  4. Berikan waktu atau jadwal yang disepakati dengan anak saat memegang gadget
  5. Berikan tanggungjawab pada anak tentang hal-hal kecil, seperti membereskan tempat tidur sendiri
  6. Ajak anak untuk memiliki kebiasaan membaca 1 buku setidaknya untuk sekali seminggu
  7. Memotivasi anak dengan nilai karakter baik melalui kisah-kisah Nabi atau cerita prestasi
  8. Hargai pendapat anak dan upayakan untuk tercapai win-win solution pada setiap pengambilan keputusan

 

  1. Memberi kebebasan pada anak dan ajarkan tanggungjawab

Setiap orang tua tak bisa mengawasi anaknya selama 24 jam penuh. Setiap orang tua punya keterbatasan meskipun semangat di hati selalu maksimal untuk memberikan yang terbaik untuk anak.

Hal yang ditekankan pada poin ini adalah penggunaan internet atau teknologi oleh anak. Penguasaan waktu yang direnggut oleh teknologi memberikan kekhawatiran karena dua sisi efek dari perkembangan teknologi ini.

Berikut tips yang bisa dilakukan oleh orangtua millennial tentang pemakaian gadget :

  1. Berikan gadget sebagai reward atau karena kerja keras. Gadget diperoleh sama anak karena kerja kerasnya setelah menabung, atau membantu pekerjaan ibu dan ayah.

 

  1. Berikan batasan waktu yang telah disepakati diawal antara orang tua dan anak. Tentukan jadwal waktu dan hari anak boleh menggunakan gadgetnya.

 

  1. Hanya memasang aplikasi yang bermanfaat

 

  1. Jangan biarkan anak mengisi kuota internet sendiri

 

  1. Lakukan pemeriksaan gadget secara berkala atau install software Parental control

 

  1. Jadilah lebih pintar daripada anak, karena banyaknya informasi yang berseliweran di internet. Keingintahuan pada anak bisa berakibat baik atau juga buruk.

 

  1. Jadilah orang tua yang menyenangkan saat berada di tengah keluarga

Oiya, kata shabat-sahabat saya, jadilah orang tua yang bahagia, karena jika kedua orang tua telah bahagia, bukanlah masalah yang utama untuk menciptakan kebahagiaan di tengah-tengah keluarga.

 

Tetap Semangat Orang tua Millenial!

Cheers 🙂

 

Referensi :

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4943

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4918

 

#sahabatkeluarga