“Bu Dita, gimana anaknya? Apa kata Bu Kader?”

Masih dibawah garis merah Bu, tapi ini sudah Alhamdulillah dari yang sebelumnya Bu Euis”, Radit banyak peningkatan.

Chika udah tambah berat badannya ya Bu?!, Pipinya udah makin chubby nih”, Bu Dita sambal nyubit sayang pipi yang mulai gembul.

Iya, Alhamdulillah Bu. Berkat terus didampingi ibu-ibu kader yang baik hati”, jawab Bu Dita.

“Bu Dita tetep semangat ya. Yang rajin ke posyandunya. Biar bisa dapet ilmu dari Ibu-ibu kader. Biar kita bisa tetep silaturahmi juga. Oiya, gimana arisannya? Mau dijadiin aja ato nggak?”  (dan percakapan pun terus berlanjut).

Dasar emak-emak ya 🙂

Percakapan diatas adalah sekelumit kisah yang umum terjadi di posyandu. Percakapan yang biasa saya dengar saat melaksanakan KKP (Kuliah Kerja Praktek) saat mahasiswa dulu. KKP adalah salah satu kuliah praktek lapang yang wajib dilalui sebelum memperoleh gelar sarjana. Pada saat ini, diharapkan ilmu yang sudah dipelajari bisa diaplikasikan dengan baik kepada masyarakat.

Kalo saat KKP, posisi mahasiswa terbilang masih aman. Ada ibu-ibu kader dan Bu Bidan yang menjadi ‘tempat perlindungan’. Ibu-ibu kader posyandu sudah lebih berpengalaman dalam menangani bayi dan balita. Misalnya, cara menyiasati agar balita tidak menangis saat ditimbang.  Atau saat balita diminta berdiri tegak untuk mengukur tinggi badan.

Saya dan teman-teman justru lebih banyak mendapatkan ilmu saat turun langsung ke masyarakat. Misalnya saja, saat salah satu ibu balita menanyakan tentang stunting kepada ibu kader.  Ibu kader dapat menyampaikan dengan lebih baik dan lugas sesuai pemahaman ibu-ibu yang datang ke posyandu.  Penyampaian dengan bahasa daerah juga menjadi salah satu nilai lebihnya. Saya yang kebetulan duduk disamping ibu kader, kebetulan kebagian tugas mencatat hasil berat badan dan tinggi badan, mendapatkan ilmu juga.

Stunting bisa diartikan dengan tubuh pendek. Anak stunting berarti anak dengan tubuh pendek. Tinggi badannya tidak sesuai dengan standar. Dan ini efeknya gak baik untuk masa depan si anak.

Stunting secara garis besar disebabkan oleh 2 hal. Yang pertama karena kurangnya zat gizi dalam waktu yang lama, atau sejak bayi dalam kandungan dari segi kualitas (kandungan zat gizi)  dan segi kuantitas (jumlah).

Penyebab yang kedua adalah kebiasaan perilaku hidup yang tidak sehat. Seperti tidak cuci tangan sebelum makan, membuang sampah tidak pada tempatnya, tidak memasak air sebelum diminum, dan banyak lainnya.

Efek yang bisa dilihat secara kasat mata, tubuh anak lebih pendek dari temen-temen seusianya. Kalo efek yang gak kelihatan, otaknya kurang berkembang. Jika pertumbuhan otak tidak berkembang dengan baik, maka tentunya akan mempengaruhi masa depannya. 

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Tercatat tahun 2013 tercatat 8,9 juta (37,2 %)  balita di Indonesia mengalami stunting. Sedangkan WHO menetapkan batas toleransi stunting untuk sebuah negara adalah maksimal 20 %. Inilah yang menyebabkan Indonesia masih punya peer untuk menurunkan jumlah tersebut.

Yang juga menjadi perhatian adalah, masalah stunting ini tidak hanya terjadi pada keluarga dengan nilai pendapatan rendah. Namun, stunting juga terjadi pada masyarakat menengah dan masyarakat atas. Hal ini disebabkan pemahaman masyarakat yang salah atau kurangnya pengetahuan gizi.

Kenapa stunting ini menjadi peer yang harus segera diselesaikan? Karena stunting ini punya dampak negatif yang tidak hanya saat ini dan keluarga sendiri rasakan, tapi juga banyak berdampak negatif bagi masa depan keluarga dan bangsa.

Dampak negatif dari stunting adalah :

  1. Gangguan pertumbuhan secara fisik

  2. Penurunan perkembangan dan fungsi otak

  3. Penurunan fungsi kekebalan tubuh

  4. Penurunan potensi kapasitas belajar

  5. Potensi penyakit degeneratif semakin tinggi

  6. Penurunan pertumbuhan ekonomi

Lalu, bagaimana cara mudah mengenali dan mewaspadai stunting sejak dini?

Langkah pertama:

  • Untuk anak usia 0 tahun-5 tahun

Rajin memantau perkembangan anak dari o tahun hingga usia balita ke posyandu. Ibu-ibu kader akan memberikan informasi dan menjelaskan apakah anak tersebut tergolong stunting atau tidak. Jika tergolong stunting, tinggal mengikuti saran yang disampaikan oleh ibu kader

Langkah kedua:

  • Untuk anak usia lebih dari 5 tahun

Setelah melihat pertumbuhan anak dengan tinggi badan yang lebih rendah diebanding anak seusianya, maka tahapan pertumbuhan yang bisa untuk mengejar ketinggalan pertumbuhan adalah dengan memberikan gizi yang tepat pada masa growth spurt.

Masa growth spurt adalah masa pubertas anak. Pada anak laki-laki ini terjadi sekitar umur 9-14 tahun, sedangkan pada anak perempuan terjadi di sekitar umur 8-13 tahun. Pada masa ini,  pertumbuhan anak terjadi dengan pesat.

Cerita diatas adalah langkah yang harus dilakukan jika kejadian stunting sudah dialami oleh anak.  Namun, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk pencegahan stunting terjadi pada anak-anak kita selanjutnya:

  1. Makan sehat dan seimbang pada pra hamil dan masa kehamilan

Masa pra  hamil adalah masa dimana ibu mempersiapkan dirinya untuk siap menjadi calon ibu. Pada masa ini, sebaiknya para calon ibu memperhatikan berat badannya agar ideal, memilih jenis makanan yang bergizi untuk dikonsumsi, mengonsumsi zat besi dan asam folat untuk mencegah anemia, melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin,  membekali diri dengan ilmu untuk melewati proses kehamilan dengan baik.

  1. Lakukanlah IMD pada bayi baru lahir

IMD atau Inisiasi Menyusui Dini dipahami sebagai salah satu cara untuk merangsang perkembangan otak bayi. Pada saat IMD terdapat colostrum. Colostrum ini adalah air susu yang pertama keluar. Umumnya berwarna kekuning-kuningan. Zaman dulu, emaknya emak kita meyakini bahwa air susu pertama ini harus dibuang, karena dianggap tidak baik. Hal ini tentunya disebabkan kurangnya pengetahuan gizi yang baik. Padahal sebenarnya, colostrum ini berfungsi sangat baik untuk meningkatkan sistem imun tubuh dan bisa mencegah penyakit.

  1. Berikanlah ASI eksklusif pada bayi selama 6 bulan pertama

Berikanlah ASI saja pada bayi di usia 6 bulan pertama. Pada waktu turun lapang dulu, banyak saya temui bayi-bayi dengan usia dibawah 6 bulan sudah diberi makan pisang atau biskuit. Padahal pada usia tersebut, sistem pencernaan bayi belum berfungsi baik untuk mengolah makanan selain ASI.

  1. Perhatikan zat gizi yang diberikan pada 1000 hari pertama kehidupan

Yang bisa dilakukan oleh Ibu adalah lebih memperhatikan kehidupan anak di 1000 hari pertama kehidupan. 1000 hari pertama adalah momen yang sangat mempengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif dari anak untuk masa depannya.

270 hari (masa kehamilan) + 730 hari (0-24 bulan) =1000 hari pertama kehidupan  (HPK)

  1. Pemberian MP ASI dan gizi seimbang

Makanan Pendamping (MP) ASI adalah makanan selain ASI yang diberikan kepada bayi setelah berumur 6 bulan keatas. Enam bulan keatas ini maksudnya bukan menunggu bayi 7 bulan atau 8 bulan atau 1 tahun ya.. (Banyak persepsi yang salah dari curhat ibu-ibu yang dulu pernah saya temui). Tetapi jika umur bayi berumur 6 bulan lebih dari 1 hari, maka makanan pendamping ini sudah bisa diberikan.

Pada pemberian MP ASI ini yang jadi perhatian adalah jenis bahan pangan yang diberikan. Lakukanlah pemilihan jenis pangan yang tepat dan bergizi untuk diberikan kepada bayi.

Perbandingan antara lauk pauk, buah-buahan, sayuran, dan makanan pokok yang dianjurkan
  1. Lanjutkan ASI sampai usia 2 tahun

Selama proses penyapihan dengan MP ASI, pemberian ASI terus dilanjutkan hingga bayi berusia 2 tahun. Tidak ada jenis pangan yang lebih baik yang bisa menggantikan zat gizi pada ASI.

  1. Memantau berat dan panjang badan anak

Pemantauan berat badan dan tinggi badan anak terus dilakukan hingga usia 5 tahun. Pemantauan ini penting untuk terus dilakukan untuk mengetahui apakah masih ada ketertinggalan yang dialami oleh anak kita atau tidak. Dengan pemantauan sejak dini, maka fase ketertinggalan bisa dikejar dan diperbaiki.

  1. Memberikan imunisasi yang lengkap pada anak

Imunisasi adalah salah satu bentuk perlindungan kesehatan yang diberikan sebelum diserang penyakit.

  1. Memberikan obat cacing pada anak

Cacingan yang terjadi pada balita dapat mengganggu penyerapan zat gizi dalam tubuh. Terganggunya proses tersebut akan mempengaruhi proses pertumbuhan balita.

Anak usia 12-59 bulan mendapatkan obat cacing yang sudah terintegrasi dengan pemberian vitamin A. Hal ini bisa diperoleh dari Puskesmas. Sedangkan pada anak usia 6-12 tahun, mereka akan mendapatkan obat cacing yang biasanya diperoleh melalui program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) atau juga bisa dilakukan secara mandiri.

  1. Mengatur jarak kelahiran

Hal diatas adalah hal yang bisa dilakukan oleh pasangan usia subur. Mengatur jarak kelahiran termasuk hal yang penting agar memastikan zat gizi yang didapat oleh anak yang baru lahir dapat maksimal. Jangan sampai, zat gizi yang diperoleh anak terhenti disebabkan kehamilan terjadi.

  1. Menjaga lingkungan agar tetap bersih

Selain pengaruh zat gizi, kebersihan lingkungan juga mempengaruhi terjadinya stunting. Lingkungan yang kurang bersih meningkatkan potensi terjadinya stunting.

Prilaku hidup sehat yang bisa dilakukan dalam sehari-hari adalah:

  • Mencuci tangan menggunakan sabun dengan baik dan benar sebelum makan dan sesudah buang air besar
  • Berhenti buang air besar secara sembarangan
  • Menyediakan air minum di rumah tangga yang sudah layak minum
  • Pengelolaan sampah rumah tangga dengan baik

Sebelas hal diatas adalah hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya stunting.

Nah, jika kita sudah mengenali dan mewaspadai stunting sejak dini, kita bisa mencegah stunting sejak dini. Diharapkan hal tersebut akan tercapai keluarga sehat dan cerdas. Jika masing-masing keluarga sudah tidak tergolong stunting, bukan tidak mungkin akan tercipta Indonesia sehat dan cerdas pula.

Sumber referensi :

https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/01/24/p30s85396-who-78-juta-balita-di-indonesia-penderita-stunting

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/video/20180723/5626885/wapres-jusuf-kalla-bicara-pencegahan-stunting-bicarakan-masa-depan-bangsa-2/#prettyPhoto

https://www.mca-indonesia.go.id/assets/uploads/media/pdf/MCAIndonesia-Technical-Brief-Stunting-ID.pdf

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/video/20180723/5626885/wapres-jusuf-kalla-bicara-pencegahan-stunting-bicarakan-masa-depan-bangsa-2/#prettyPhoto

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180407/1825480/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi-2/#prettyPhoto/0/

www.sehatnegeriku.kemkes.go.