Dengan tampilan khas Jawa lengkap serta blangkonnya, pemilik wajah asal Jogjakarta ini menyambut kedatangan saya dengan sunggingan senyuman. Usai memperkenalkan diri, tak lupa saya  mengucapkan terima kasih atas waktu yang telah diluangkan untuk  bersilaturahmi.

Deretan hasil karya di ruangan berukuran 5×5 m itu seperti memanggil untuk saya dekati. Ruangan tempat kami ngobrol ini juga biasa disulap menjadi area workshop.

kangkung organik 2
Seger banget kan kangkung ini buat diplecing πŸ™‚

Ada pohon kering yang menjelma menjadi pohon duit, ada juga yang jadi pohon coklat.  Asesoris berupa kalung dan gelang dari buah jenitri, tanaman organik kangkung (kebayang enaknya kalo dimasak jadi cah kangkung dengan bumbu terasi), tong dalam berbagai ukuran dengan tulisan komposter. Dan masih ada banyak yang membuat saya tak sabar membuka pertanyaan demi pertanyaan.

Semua yang berwujud sampah,  jika melewati tangan Pak Tarno seakan menjelma menjadi hal yang lebih bernilai. Seperti cerita si pohon kering, tinggal dimodifikasi sedikit, tambahkan ornamen duit, atau buah jenitri kering, pohon kering yang biasanya sudah habis ceritanya dilumat ulat tanah, bisa dihargai 300 ribu saat saya workshop atau seminar, Pak Tarno mengajak saya berimajinasi.

Lahirnya Kampung Hijau Tak Serta Merta

Apakah bisa Kampung Proklim dan dinding penuh warna warni lucu ini disulap saja di setiap Kampung?

Berawal dari keprihatinannya melihat begitu banyak sampah bertebaran di lingkungan, di jalanan, di got, Pak Tarno tergerak hatinya untuk mengelola sampah. BUtuh waktu kurang dari 5 tahun untuk menghadirkan kampung proklim, yang bisa saya dan banyak warga nikmati saat berkunjung kesana.

Berbekal ilmu kelola sampah organik saat ekstrakurikuler sekolah di Kulon Progo dulu menjadi latar belakang ilmunya. Pensiunan guru ini,  mulai mengakrabkan diri dengan sampah sejak tahun 2013.

Sejak tahun tersebut, Pak Tarno terus saja berjibaku dengan sampah organik dan tong komposter. Kegiatannya bisa dikatakan sederhana. Tapi hasilnya yang tidak sederhana. Setiap sampah organik rumah tangga dibuang saja ke tong komposter, tinggal tunggu beberapa minggu, maka pupuk cair akan diperoleh.

Pupuk cair inilah yang digunakan untuk menghijaukan rumah. Caranya juga mudah saja. Tinggal semprotkan ke tanah tanaman. Hasilnya hijau sejauh mata memandang. Saya terkesima dan mengaminkan semua penjelasan Pak Tarno.

Kepedulian dari warga setempat tidak seketika muncul. Pak Tarno sudah bergerak sendiri sejak tahun 2008 dalam menyebarkan virus cinta pengelolaan sampah ke sekolah-sekolah dan perusahaan.

Dua tahun setelahnya, ada warga yang kepo, tanya-tanya kenapa rumah Pak Tarno bisa bersih dan hijau, menanyakan beli pupuknya dimana. Nah, berawal dari momen tersebut, Pak Tarno dengan senang hati menjelaskan pupuknya terbuat dari sampah yang dikelola sendiri.

Dari momen tersebut, kebetulan Pak RW lagi membutuhkan orang yang punya ilmu tentang pengelolaan sampah. Momen AHA nya Pak Tarno. Saat itulah momen gayung bersambut pengelolaan sampah di RW 01 mulai terbina.

Pak Sutarno dan gang hijaunya
Pak Sutarno dan gang hijaunya

Pak Tarno menjadi semakin sibuk, memberikan pengarahan dan pelatihan untuk mengedukasi warga sekitar. Sebagaimana layaknya virus yang terus menjangkiti induknya, virus cinta lingkungan dan penghijauan menggerogoti warga. Seperti tersadar dari tidur panjangnya, warga berinisiatif meminta ke Pak RT untuk menghilangkan iuran sampah bulanan dan ingin mengelola sampah rumah tangga secara mandiri.

Alunan suara musik lawas yang sedari tadi mengalun turut membawa suasana hangat dan semangat selama obrolan. Saya masih saja terus terkesima, virus penghijauan ini harus lebih banyak diduplikasi di wilayah lain.

Pak Tarno sudah memulai pengelolaan sampah sejak tahun 2008, dan tahun 2013 berpadu dengan ASTRA. ASTRA memberikan pembinaan dan pendampingan  sehingga Pak Tarno menjadi expert seperti sekarang ini. Kini, Pak Tarno mempunyai tanggungjawab sebagai Pembina Lingkungan. Lewat binaan tersebut, Pak Tarno membina lingkungan sehingga bisa tercipta Kampung Proklim.

Selain itu ASTRA juga memberikan bantuan berupa pemenuhan kebutuhan material untuk kelancaran proses pembinaan selanjutnya bagi masyarakat sekitar.  Sinergi antara ASTRA dan Pak Tarno membuat pengelolaan sampah menjadi lebih inovatif, penyebaran info lebih massif, dan penjualan menjadi lebih meningkat.

Tahun 2016, Pak Tarno mendapatkan penghargaan sebagai salah satu pemenang Kalpataru. Sebuah apresiasi yang hanya sampai kepada insan-insan terpiilih yang penuh dedikasi atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup. Apresiasi yang sangat bergengsi ya πŸ™‚

Kelola Sampah Senada Dengan Kelola Hati

Kening saya langsung merengut, mendengar kalimat yang disampaikan lelaki yang sudah berusia hampir kepala enam ini.

Ada hubungan apa Pak, antara sampah dengan hati? Seketika saya tidak terima, kecuali satu hal yang terlintas. Buanglah mantan pada tempat sampah, kalimat yang biasa disebut anak zaman now.

Selebihnya, pikiran saya tidak terima dengan menggabungkan dua hal yang tidak sejalan. Dunia hati adalah dunia yang suci dan bersih, sedangkan dunia sampah adalah hal yang akrab dengan kotor, bau, jorok, atau tidak disukai lainnya.

Dengan senyuman, Pak Tarno legowo menerima pendapat saya. Sangat lumrah sekali,  saat kita bertemu atau dihadapkan dengan sampah,  seluruh indra kita spontan tak ingin dekat dengan sampah.

Mata meyakini bahwa sampah itu benda kotor. Mulut akan spontan berucap bau dan  kotor. Hidung akan spontan ditutup agar tidak menghirup aroma tidak sedap. Telinga akan mendengar kata-kata seperti “iih jorok, kotor, bau” dan yang lainnya. Sedangkan tangan akan sebisa mungkin tidak bersentuhan langsung dengan sampah tersebut. Setiap anggota tubuh seperti tidak ingin berdamai dengan sampah.  

Namun saat hati bersih, maka benda sekotor apapun akan dituntun menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Hati akan menuntun tangan untuk mengambil sampah, mulai membersihkan jalanan atau area yang kotor. Hati yang bersih akan menuntun, sampah yang ada dihadapan kita bisa diolah menjadi apa. Filosofi yang tak sederhana bagi saya pribadi.

Seketika saya merasa jleb tingkat tinggi. Saya merasa hati saya perlu dibersihkan, setiap melihat sampah masih saja mumet, main buang saja ke tempat pembuangan sampah. “Rasanya pengen masuk tong komposter saja saya Pak”, sambil menutup wajah, saya merasa malu di hadapan Pak Tarno.

Gelak tawa kami berlanjut, saat Pak Tarno menceritakan betapa belatung, cacing, kotoran sapi bisa sangat mudah menjadi duit kalo kita mau mengolah dan tau ilmunya.  Semua sampah itu bisa jadi duit tanpa perlu pengolahan tingkat tinggi lho, tegas Pak Tarno.

Berbeda,  bagi Pak Tarno sampah apapun bisa diolah. Dan tak sekedar diolah, tapi bisa berubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih. Yuk kita ternak belatung dan cacing teman-teman πŸ™‚

Tontonan Bereformasi Menjadi Tuntunan

Pak Tarno yang dulunya hanya menjadi tontonan, kini jadwal kegiatannya selalu full. Sedikitnya ada 70-80 kegiatan berupa seminar ataupun pelatihan menjadi santapan Pak Tarno setiap tahunnya. Jadwal penyebaran virus saya selalu penuh, canda Pak Tarno.

Jadwal seminar yang terpampang di white board yang digantung ruang tamu selalu penuh. Hari pas saya wawancara saja, ternyata Pak Tarno baru pulang dari Jogjakarta. Namun, tak ada rona wajah lelah yang tampak saat berbagi cerita.

Ing Ngarsa Sung Tulada
Ing Ngarsa Sung Tulada, Memberi teladan yang baik

Tiga filosofi profesi sebagai seorang pensiunan guru melekat kuat di dalam jiwa Pak Tarno. Ing Ngarsa Sung Tulada yang berarti di depan, seorang pendidik harus memberi teladan yang baik. Pak Tarno lebih dulu memberikan contoh teladan yang baik, hingga menjadi tontonan warga masyarakat Sunter Jaya. “Kalo ngomongin sampah, ya si Pembicaranya harus nunjukin dulu kalo dia bisa mengelola sampah”, jelas Pak tarno.

Ing Madya Mangun Karsa yang artinya di tengah, guru harus menciptakan ide. Pak Tarno dengan segala ide yang dimilikinya memberikan ide-ide dalam pengembangan pengelolaan sampah dan penghijauan.

tong air cucitangan
Tong air cucitangan yang lengkap dengan sabun cair yang di letakkan di lapangan serbaguna Sunter Jaya. Dokumen Pribadi.

Saat melakukan edukasi ke masyarakat, Pak Tarno punya satu tujuan. Yaitu untuk merubah mindset orang banyak saat mendengar kata sampah. Saat mendengar kata sampah harusnya yang muncul ide kreatifitas, dalam imajinasinya yang muncul  hidup sehat, hidup sejahtera, hubungan antar masyarakat semakin baik.  bukannya mumet, kotor, jorok, atau bau.

Saat melihat sampah, hati lebih legowo, tidak mudah marah, aliran darah menjadi lebih lancar, komunikasi menjadi ringan, karena setiap butir sampah ada pundi-pundi yang bisa tercipta dari sana.

Saat melihat sampah yang terlintas di benak adalah kelola sampah tersebut. Pengelolaan sampah bisa menjadikan kita sehat, pengurangan belanja dapur, makan sayur organik dengan gampang tanpa merogoh kocek dalam-dalam. Kalo mau dijual, uang hasil kelola sampah bisa untuk ditabung. Mengolah sampah merupakan jaminan dari alam bagi manusia.

Dan yang terakhir, Tut Wuri Handayani maksudnya adalah dari belakang, guru harus memberikan dorongan dan arahan. Pak Tarno memberikan edukasi pengelolaan sampah melalui pertemuan-pertemuan seperti koperasi dan arisan.

Banyak tanaman kita yang sudah dipatenkan oleh pihak luar negri. Misalnya saja temulawak dan curcuma. Padahal kedua tanaman ini sangat banyak manfaatnya. Kalo sudah dipatenkan, kita bangsa Indonesia tidak leluasa meng-klaim sebuah produk.

manfaat tanaman 2
Manfaat dari buah Jarak yang bagus untuk penyembuhan berbagai penyakit
Sharing info dari manfaat tanaman

Pak Tarno banyak mengenalkan manfaat tanaman. Tanaman yang ada di samping rumah Pak Tarno dilengkapi dengan keterangan berupa manfaat dari tanaman tersebut. Banyak tanaman yang semula dibuang sekarang malah jadi ditanam dan dimanfaatkan kegunaannya sesuai dengan fungsi masing-masing tanaman. Warga kini sadar bahwa banyak tanaman yang baik untuk dikonsumsi dan bermanfaat bagi tubuh.

Dengan mengelola sampah, kita mampu menjadi mandiri, berdaya bagi diri sendiri, dan mampu membuat orang lain berdaya. Yang rugi, yang gak ikut kelola sampah, gak ikut sejahtera dan gak ikut sehat. -Sutarno-

Tong Komposter

rumah komposter
Asrinya rumah Pak Tarno penuh dengan pohon hijau yang bikin adem

Setelah ngobrol banyak, kini saya tau tong-tong komposter dengan berbagai ukuran tersebut beda peruntukannya. Tong komposter ini disesuaikan dengan keinginan si pemiliknya. Apakah digunakan untuk skala rumah tangga, untuk digunakan di sekolah, atau dalam skala lebih besar lagi.

Saat ASTRA membutuhkan keperluan composter, ASTRA mengambilnya dari Pak Tarno. Teman –teman penggiat lingkungan juga banyak mengambil dari Pak Tarno.

1 paket tong komposter dihargai sebesar 200 ribu rupiah. Paket komposter ini terdiri dari 1 buah tong berukuran 60 liter, bakteri pengurai, dan pupuk cair. Namun, jika memilih paket lengkap , dengan ditambah airnya dan sekam , cukup dengan merogoh kantong sebesar 250 ribu rupiah.

Panen pupuk cair sangat gampang, tinggal cek saja di pipa yang terhubung dengan tong, jika sudah bisa  dipanen, maka cairan pupuk akan tampak di bagian luar.

Tong komposter ini bisa menjadi tong silaturahmi. Bagaimana mungkin sebuah tong bisa memiliki fungsi sebagai media silaturahmi. Ternyata begini prosesnya.

Setelah tong komposter jenuh, tidak mau turun airnya maka perlu ditaburi bubuk sekam, bubuk gergaji atau tanah. Proses ini memerlukan waktu selama 3 minggu.

Saat tong komposter kita sedang tidak bisa digunakan, tong komposter tetangga akan menjadi tong silaturahmi. Selama waktu 3 minggu ini, pasti kita punya sampah rumah tangga ya kan?..

Saat ini, gunakanlah tong komposter tetangga, tentunya setelah meminta izin ya :). Dan begitu sebaliknya. Jika tong komposter tetangga lagi penuh, tetangga bisa menggunakan tong komposter yang ada di rumah kita. Itulah mengapa tong komposter ini , Pak Tarno sebut juga sebagai Tong Silaturahmi. Tong komposter silaturahmi tidak akan terbentuk, kalo kita tidak mau berbagi ilmu mengajak tetangga untuk ikut serta dalam hal penghijauan.

Tong komposter jenuh ini akan menghasilkan pupuk padat yang bisa dijadikan sebagai media tanam yang kaya akan nutrisi.

Bahan yang diperlukan untuk membuat kompos cair

Cara membuat pupuk cair sederhana dalam skala rumah tangga

Bahan yang diperlukan :

1 tong komposter

2 tutup  botol bakteri  pengurai (terasi, gula, ragi) sekitar 20 ml

1 sdm gula pasir

1 liter pupuk cair

Sampah rumah tangga (hewani dan nabati)

Cara pengerjaaan :

tong-tong komposter di gang-gang Sunter Jaya
Tong-tong komposter di gang-gang Sunter Jaya
  1. Setelah memasukkan sampah organik ke dalam tong komposter
  2. Larutkan campuran dari bakteri pengurai, gula pasir, yang sudah dilarutkan dalam 1 liter pupuk cair
  3. Semprotkan cairan yang sudah dicampur dengan bakteri pengurai diatas sebanyak 15 kali  di atas sampah organik
  4. Lakukan ini cukup 1 kali dalam 1 minggu

Penghijauan Lahan Sempit dan Tanpa Lahan

Tanaman pegagan yang fungsinya bisa untuk penghijauan dan kesehatan

Warga secara sadar menanam sendiri tanaman untuk penghijauan di rumahnya. Jika ada yang butuh tanaman jenis tertentu atau dengan manfaat tertentu, Pak Tarno dengan senang hati menyediakannya.

Mata seakan tagihan memandangi setiap sudut gang di Kawasan Proklim Sunter Jaya. Tengok sebelah kiri, ada yang lucu. Berpindah sebelah kanan ada juga yang seperti wajib banget untuk difoto atau selfie bersama warga. Semua sudut memanjakan mata di kawasan ini.

penghijauan yang dilakukan berupa penghijauan dengan lahan sempit seperti gang-gang di sepanjang kawasan, atau penghijauan dengan tanpa lahan. Penghijauan tanpa lahan ini dengan menggantung tanaman dengan wadah atau pot di teras rumah atau di dinding rumah.

sampah menjadi berkah
Ajakan untuk mengubah sampah menjadi lebih bermanfaat ada di setiap dinding di gang-gang

Beberapa RT di kawasan berseri Sunter Jaya sudah menerapkan peraturan Dilarang Merokok di dalam kawasannya.

Bank Sampah Inovatif

Sudah tidak asing lagi, saat kita mendengar bank sampah. Bank Sampah di wilayah Sunter Jaya memiliki visi untuk menjadi bank sampah inovatif.

Masyarakat di RW 01 dihimbau untuk menjadi nasabah bank sampah. Harapannya, bank sampah ini bukan sekedar kumpul dan jual ke bank sampah induk. Tetapi lebih dari itu.

Sampah anorganik dikumpul di bank sampah, dinaikkan nilai jualnya, dan lalu dijual. Cara menaikkan nilai jual botol kemasan ini adalah dengan mengisi botol kemasan dengan pupuk cair yang dihasilkan dari tong-tong komposter di RW 01.  Hal inilah yang menjadi tujuan dari bank sampah inovatif di kampung proklim ini.

Bank sampah juga menjadi sumber kemasan botol untuk pupuk cair yang dikelola oleh Pak Tarno. 1 botol pupuk cair ukuran 600 ml bisa dijual dengan harga 10 ribu rupiah. Pembelian 1 kg saja bisa berjumlah 50 botol kemasan yang dihargai 10 atau 15 ribu.

Bisa dibayangkan teman-teman uang yang bisa dihasilkan dari 50 botol pupuk cair dikalikan dengan harga 10 ribu rupiah, bisa menghasilkan 500.000 untuk hasil dari pupuk cair saja.

Penjualan tong komposter, pupuk cair, dan pupuk padat, dan hasil karya Pak Tarno lainnya habis terjual saat dilakukan sosialisasi, seminar, pameran, dan workshop. Selain itu, dibantu juga dengan dukungan pemasaran dari pihak ASTRA dan seluruh lininya, saat membutuhkan pelatihan atau pengelolaan sampah. Tak heran, Pak Tarno dan warga yang menjual hasil pupuk cair ke beliau menjadi berdaya di rumahnya sendiri.

Jumlah tabungan nasabah di bank sampah bisa mencapai 500 ribu hingga 800 ribu. Tentu saja jika tabungan dijadikan deposit di bank sampah dan diambil tahunan atau saat lebaran. Tidak jauh berbeda, untuk harga kiloan kemasan botol di bank sampah dengan bank sampah induk. Botol bersih dihargai 3000 rupiah, botol kotor dihargai 1500 rupiah, kardus 1200 rupiah, dan ember dihargai 1500 rupiah. Jelas Bu Ayu, yang menjabat sebagai Bu RW 01 sekaligus sebagai penanggungjawab kegiatan bank sampah.

Bank sampah ini dikelola dengan baik oleh Bu RW dan beberapa kader PKK. Bank sampah ini menerapkan struktur organisasi yang jelas. Warga bisa mengantarkan sampahnya ke bank sampah setiap hari sabtu dan minggu pada pukul 9 pagi hingga 11 siang.

Pengelolaan Sampah Anorganik

Selain sampah organik, Warga Sunter Jaya juga melakukan pengolahan sampah untuk sampah anorganik. Pengelolaan sampah anorganik ini berupa pelatihan membuat tas cantik dari sampah kopi plastik.

Ibu warga Sunter Jaya sedang membuat tas dari sampah anorganik. Dokumen pribadi.

Harga yang ditawarkan untuk satu buah tas kecil sebesar 150 ribu rupiah. Sedangkan untuk tas yanh berukuran lebih besar dihargai 250 ribu rupiah. Warga secara sukarela mengumpulkan sisa-sisa kemasan kopi sachet untuk diolah menjadi benda yang lebih bernilai.

Dedikasi dan Kolaborasi Dari Seluruh Pemangku Jabatan

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Bersatu kita teguh, bercerai kita rubuh, semangat yang tampak dari antusiame setiap warga dalam memberikan kontribusi terbaiknya untuk mempertahankan hijau, sehat, dan cerdas dalam mengelola lingkungan.

Ibu Walikota

kunjungan ibu walikota Jakarta Utara ke Sunter Jaya
Kunjungan ibu walikota Jakarta Utara ke Sunter Jaya. Dokumen Pribadi. .

Saya termasuk yang beruntung, bisa melihat langsung bagaimana ibu walikota Jakarta Utara, Rosnawati, turun langsung ke lapangan dalam memantau perkembangan Kampung Proklim. Ibarat kata, kayak emak lagi liatin anaknya. Kalo pemimpinnya dekat dengan masyarakat, insya Allah lebih mudah dalam pencapaian goalnya .

Bapak dan Ibu RW

Pak RW memiliki peran dalam hal mengajak warganya dan memimpin warga untuk turut serta dalam proses penghijauan Sunter Jaya. Misalnya seperti melakukan penyuluhan kepada pemulung. Seluruh pemulung yang melewati RW 01 dihimbau agar tidak memulung tong-tong yang ada di sepanjang wilayah RW 01. Tong-tong ini merupakan tong-tong komposter yang nantinya akan menghasilkan pupuk cair . Pupuk cair ini penting untuk memberikan nutrisi untuk seluruh tanaman.

Kepala Puskesmas

Pak Sumadi Kepala Puskesmas
Pak Sumadi Kepala Puskesmas Tanjung Priok. Dokumen Pribadi.

Pak Sumadi, menjabat sebagai kepala puskesmas Tanjung Priok. Sebagai Kepala Puskesmas, saya sendiri sangat mengapresiasi bantuan ibu-ibu PKK. “Ibu PKK lah yang lebih dekat dengan masyarakat. Ibu PKK dengan dasa wismanya mampu  menjadi penggerak  kegiatan di masyarakat”, jelas Pak Sumadi antusias. .

Dasawisma merupakan kelompok ibu yang berasal dari 10 kepala keluarga dengan lokasi rumah tetangga yang berdekatan.  Dasawisma ini akan mempermudah jalannya suatu program. 1 program yang hanya dijalankan oleh 10 kepala keluarga akan menghasilkan  perubahan yang lebih cepat jika hanya dibandingkan 1 orang saja. Kelompok dasawisma menjadi ujung tombak kegiatan dalam program pemberdayaan keluarga.

Kader  PKK

kader PKK
Ibu Sugiyati, salah satu kader PKK. Dokumen Pribadi.

Kader PKK selalu identik dengan ibu-ibu yang semangat. Jadi teringat saat saya bekerja berdampingan bersama ibu PKK. Ibu PKK di berbeda wilayah sekalipun, punya karakter yang sama. Hati yang sabar, jiwa yang melayani, respon yang aktif, dan mata yang selalu penuh dengan semangat. Begitu juga dengan ibu-ibu kader PKK yang saya temui di Sunter Jaya.

Kegiatan yang dilakukan tidak sedikit, mulai dari kegiatan posyandu, program jumantik, program lansia, mengkoordinir bank sampah dan pemeliharaan toga. Setiap kegiatan punya jadwal masing-masing yang terkoordinir dengan baik.

program lansia PKK
Salah satu program lansia adalah olaharaga . Dokumen Pribadi.
posyandu
Kegiatan Posyandu di Sunter Jaya . Dokumen Pribadi.

Ibu –ibu yang sudah berumur setengah abad ini masih terus semangat menjadi kader PKK khususnya program lansia. Setiap bulan pada minggu ketiga, lansia diajak untuk berolahraga, oleh ibu-ibu yang sudah pada punya cucu juga.

Ibu PKK penggerak program lansia . Dokumen Pribadi.

Jumancil dan Jumantik
Salah satu ibu jumantik (pemantau jentik), Tarmuni yang sudah dua tahun menggeluti profesi ini. Wefie bersama jumancil πŸ™‚ ki-ka: Kesya, Alfi, dan Alendra . Dokumen Pribadi.

Tak kalah semangatnya dari Jumancil alias jumatik kecil, liat saja aksi mereka berikut πŸ™‚

Tentu tak ketinggalan dengan partisipasi aktif dari masyarakat, yang sangat puas dan menjadi betah tinggal di Kawasan Berseri (Bersih, Sehat, dan Asri) Proklim, Sunter Jaya.

Sunter Jaya dan warganya. Dokumen Pribadi.

Teruslah memancarkan cahayamu untuk menjadi inspirasi semangat kampung lainnya di Indonesia.

Sepulangnya, saya masih melihat Pak Tarno kembali sibuk bercengkrama dengan tong-tong komposter. “Mau nyiapin pesanan tong komposter dari Deli Serdang, Pesanggrahan, Bambu Kuning untuk keperluan pelatihan kelola sampah disana”, kata Pak Tarno.

saya full excited n feel very happy mengunjungi Kampung Berseri Sunter Jaya πŸ™‚