Belajar Menulis dengan Rasa Bareng Kak Dini Fitria

“But Sorry to say, tulisan di blog teman-teman itu gak ada rasanya alias hambar” . Kalimat yang disampaikan oleh Kak Dini Fitria dalam acara Workshop kepenulisan beberapa hari yang lalu. “That’s so true, I said to my self honestly”.  Rasa puas yang sangat berbeda saya rasakan, saat mengerjakan tulisan dengan tujuan menyelesaikan tanggungjawab dengan tulisan yang bertujuan untuk memuaskan hati saya secara pribadi.  

Tulisan-tulisan yang berisi curhat akan bertahan lebih lama dan lebih banyak dicari dibandingkan dengan tulisan sejadinya saja. Quote tentang tulisan dari hati akan sampai ke hati, benar adanya. Beberapa tulisan saya yang berupa sharing, curcol, atau memberikan solusi  yang disampaikan dari hati akan bertahan lama di hati pembaca dan di google indeks Mbah Google.

Mau kasih intip beberapa tulisan saya yang punya page views tinggi di blog.

Kita ambil satu  tulisan ya, judulnya Nikmatnya Diomongin Orang Lain. Artikel yang ditulis tahun 2014 ini, termasuk yang fave pembaca blog saya.  Seingat saya tulisan ini dituliskan saat sedang banyak yang ngomongin saya. Saya lupa , masalah apa persisnya.

Setelah  melakukan sholat subuh di pagi itu, biasanya saya langsung nyalain TV, maksud hati untuk meramaikan suasana kosan n biar mata gak ngajak tidur lagi. Nah disitulah hidayah itu datang. Solusi dari masalah yang saya hadapi saat itu. Alloh kirimkan melalui pilihan topik yang tepat. Tentang menghadapi omongan orang lain. Jadi, setiap kata yang disampaikan oleh ustadz di acara tersebut, mengena banget sampai ke palung hati. Terasa sangat menyejukkan hati dan menjernihkan fikiran. Terima saja omongan orang, kalo baik, berterima kasih, kalo salah, minta doa agar dijauhkan dari hal yang diomongkan dan bersyukur karena kita mendapat kiriman pahala dari banyak orang. Justru asyik kan ya?

Itulah mengapa saya memilih judul tersebut. Bahwa sebenarnya, diomongin orang lain itu merupakan salah satu bentuk kenikmatan yang tak terhingga. Tak perlu merasa diri hina atau apalah. Kesyukuran itu, saya bagi dalam tulisan tersebut. Karena bukan saya seorang merasakan hal tersebut, banyak orang lain di luar sana juga pernah atau sedang merasakan hal yang sama. Maksud hati semoga tulisan saya dapat menjadi pelipur lara bagi siapa pun yang sedang diberi kenikmatan tersebut.

Kalo penasaran tentang sharing saya, bisa kunjungi tulisannya dulu ya hehe 🙂

Baca : Nikmatnya Diomongin Orang Lain

Tulisan tersebut banyak dikunjungi mungkin karena dituliskan menggunakan rasa. Hal penting yang tidak maksimal saya kelola di beberapa tulisan saya di beberapa bulan ke belakang.

Menurut Kak Dini Fitria, seorang penulis adalah seorang pembawa pesan yang bisa menyampaikan apapun namun harus memiliki makna bagi pembacanya. 

Kalo pembaca tidak mendapatkan makna atau manfaat dari apa yang ditulis, maka penulis tersebut adalah a bad messenger . Tapi tenang, kita memang butuh pil pahit agar bisa berubah bukan? Hehe

Agar bisa menuliskan tulisan yang ada ‘rasanya’ seorang penulis  harus menguasai teknik menulis dengan rasa. Ada 6 hal yang harus dipatuhi untuk bisa menuliskan dengan rasa :

  1. Pemilihan tema sebelum menulis. Tema dalam menulis boleh tentang hal apapun.
  • Penjabaran premis yang baik dari tema yang dipilih. Premis merupakan pernyataan-pernyataan singkat yang akan menjadi isi dari tulisan kita.
  • Penguasaan berbagai jenis alur cerita. Alur cerita dalam menulis itu bisa macam-macam. Ada alur maju, alur mundur, alur maju mundur (cantik)  hehe bukan ya J dan banyak lagi.
  • Mengandung kebutuhan pembaca dan keinginan dari penulis
  • Mengandung value/makna
  • Tercapai tujuan dari penulis. Ini penting agar tulisan kita tetap punya nilai dan punya manfaat bagi pembaca.

Dan saya pribadi juga masih terus belajar, belum expert dalam hal ini. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai rasa dalam tulisan adalah melahap lebih banyak buku bacaan.

Sudah berapa banyak buku yang kamu habiskan minggu ini?