Kala itu, saat baru lulus kuliah, setelah perayaan kecil bersama sahabat, gelar baru diemban. Pengangguran. Kondisi yang tidak boleh berlangsung lama. Ada banyak hal yang terkait. Selain malu, pulang ke kampung bukanlah pilihan. Demi memperjuangkan soal harga diri dan masa depan, saya memilih untuk melanjutkan perjuangan.  Hal tentang bertahan hidup di tanah rantau jadi prioritas utama.  Irit (sangat pelit bagi diri sendiri) menjadi gaya hidup baru.

Saat seperti itu, kamar kos menjadi tempat perlindungan paling aman. Belasan hingga puluhan surat lamaran dilayangkan setiap minggunya. Berharap akan datangnya sinar terang. Kabar bahagia yang tidak saja menyejukkan hati orang tua. Namun juga bisa memberikan rasa baru pada mikrovili ( kuncup pengecap pada lidah) selain hidangan mi dan telor yang sudah sangat akrab.

-Bukanlah hidup yang seru, jika bukan tanpa perjuangan berarti.-

Siapa suruh merantau!. Pertanyaan yang saya tujukan pada diri sendiri saat hidup terasa semakin berat. Teringat waktu umak melarang untuk pergi jauh, hingga ke tanah Jawa. Cukuplah kau menjejakkan kaki di Padang atau Medan saja. Dekat dengan keluarga. Begitu nasehat Umak.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Hidup harus terus berlanjut.

Kebutuhan tambahan uang semakin meningkat. Saya memutar otak, kira-kira apa yang bisa saya lakukan untuk mendatangkan uang. Tidak harus nunggu sebulan agar dapat uang. Saya memilih untuk mencoba berjualan. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, mau jualan apa, yang (kemungkinan akan) laris, dan tidak perlu modal besar.

Entah dari angin mana yang mengantarkan ide untuk menjual bros saja. Pernik kecil yang menjadi kebutuhan muslimah untuk memperindah penampilan. Bros berbahan apa? Modelnya bagaimana? Pertanyaan demi pertanyaan yang harus segera saya selesaikan.

Kain flannel jadi pilihan kain yang make sense harganya di kantong. Ditambah segala keperluan manik berbagai warna, aneka warna benang sulam sesuai dengan warna kain flannel, dan peniti menjadi teman sepanjang hari dan separuh malam.

Dengan bismillah, Kain flannel kini bermetamorfosa menjadi bros kupu-kupu. Turut serta melambungkan harapan agar terbang jauh dan hinggap di hati banyak perempuan. Rasa harap penuh agar produk disukai dan takut ditolak pasar  berpadu jadi satu. Langkah sudah dimulai, nikmati setiap kepingan rasanya.

Berjualan juga gak bim salabim langsung laris. Satu dua calon pembeli lihat-lihat dulu. Tanya-tanya mulai dari proses pembuatan, alasan kenapa membuat bros bentuk kupu-kupu.  Tapi gak beli juga. Hehe. Ada juga yang baru lihat langsung bayar, datang bagai malaikat penolong.

Tapi cerita hidup tak akan seru jika tak ada ujian menerpa. Salah satu teman kos curhat, Bapaknya sedang sakit. Otomatis kiriman uang terhambat atau tidak sama sekali. Jadi aku gimana ya Kak?

Sebuah pertanyaan yang menohok relung batin. Mengusik hati dengan pertanyaan lanjutan. Aku bisa bantu apa? Untuk berbagi uang, tak mampu. Mungkin saat itu, saya termasuk kategori mustahik.

Baca: Mustahik Move To Muzakki

Namun, teringat nasihat salah satu ulama, berbagi itu tak melulu dengan duit. Berbagi itu bisa dalam bentuk apa saja.

Tenaga, waktu, perhatian, benda dalam bentuk apapun yang rela engkau bagi dengan saudaramu atau siapapun juga dikatakan berbagi.

Setelah mengumpulkan kekuatan dan berusaha memilih diksi yang kiranya tidak menyinggung perasaan, saya memberanikan diri untuk menyampaikan peluang usaha pada Sahabat tersebut. Intinya saya mengajaknya untuk berjualan bros. Seluruh hasil penjualan bros yang bisa dia jual, dipergunakan saja untuk memenuhi kebutuhannya.

Bros kupu-kupu yang dipakai pada momen tertentu saja

Bros kupu-kupu terus diproduksi. Karena memang menyukai dunia jahit-menjahit, stress saya karena belum dapat kerja sedikit teralihkan. Harga bros kupu-kupu yang dijual mulai dari 15.000 hingga 35.000. Harganya ditentukan berdasarkan tingkat kesulitan dan banyaknya pernik yang digunakan. Atas izin Allah, bros kupu-kupu tersebut laris manis. Ya Allah lebih tau hambaNya yang sedang membutuhkan.

Hanya atas rahmatNya, perlahan, urusan keuangan tertambal. Dibilang lebih nggak. Cukup untuk setiap kebutuhan yang saya perlukan saat itu. Dan Alhamdulillah, ada saja cara Allah untuk memenuhi kebutuhan sahabat saya tersebut. Lewat penjualan bros yang dia jual lebih banyak dari penjualan saya. Dalam keharuan saya bersyukur.

Pernah Takut Untuk Berbagi?

Pernah ngerasa takut gak sih sebelum berbagi. Berbagi di saat lapang, tentu tidak susah. Tapiii, berbagi dikala sempit seperti waktu itu, saya merasa sangat diuji. Berusaha percaya pada imbalan yang sudah dijanjikan oleh Sang Maha Kaya. Padahal bentuk kekhawatiran tersebut harusnya nihil , jika yakin akan pertolongan Allah.

Takut, adalah salah satu bentuk respon dalam  pertahanan hidup.Takut ini salah satunya diakibatkan oleh kurangnya ilmu dan kurangnya yakin.

Contoh sederhana saja, orang yang takut menghadapi ujian sekolah atau menyelesaikan tes, biasanya karena kurang membekali diri dengan ilmu yang menyeluruh. Kurangnya  persiapan membuat diri jadi tidak yakin. Sumbernya bisa dari penguasaan bahan yang kurang, atau faktor psikologis. Sehingga sejak awal ujian saja sudah muncul ketakutan akan nilai yang rendah, gagal memenej waktu dalam menjawab soal, segala bentuk kegelisahan termasuk takut gagal tes.

Hasilnya tentu akan sangat berbeda, jika orang tersebut sudah mempersiapkan diri dengan baik. Mulai dari penguasaan dan pemahaman materi, manajemen waktu yang baik, dan punya waktu melakukan pengecekan ulang jawaban di 10-15 menit terakhir sebelum tes usai.

Saya, dengan keterbatasan ilmu tentang berbagi, mencoba belajar tentang ‘imbalan’ janji Tuhan. Sebuah janji Allah yang berbunyi “Jika engkau membantu meringankan beban orang lain, maka Allah sendiri yang akan meringankan beban yang ada di pundak kita.”  

Atas izinNya, saya melewati masa itu. Saya mendapat tambahan perjalanan pengalaman rohani. Saat membantu orang lain, sejatinya kita membantu diri kita sendiri.

-Berbagi tidak membuat saya semakin kekurangan, malah mencukupi seluruh kebutuhan saya-

Berbekal pengalaman tersebut, saya tidak merasa takut lagi untuk berbagi  di setiap ada kesempatan. Bagi saya, berbagi untuk mengurangi atau menghilangkan beban orang lain.

Berbagi adalah cara Allah menyelamatkan saya untuk tidak mengalami penderitaan yang sama.  Berbagi adalah cara termudah mengundang datangnya kebahagiaan kedalam kehidupan kita.

Beruntungnya, Allah menjanjikan balasan 700 kali lipat pada setiap satu hal yang kita bagikan. Janji Allah yang termaktub di ayat 261 di surah kedua Al-qur’an. Balasan pahala yang bisa dalam berbagai bentuk. Dalam bentuk rezeki uang, kesehatan, persahabatan, cinta kasih, kemudahan urusan dan berbagai nikmat lainnya. Masya Allah tabarakalloh.

Banyak cara kita untuk berbagi. Bisa langsung ke tangan penerima atau melalui sebuah lembaga. Jika langsung ke tangan penerima tentu tidak ada keraguan lagi. Tidak khawatir uang yang kita sumbangkan malah untuk konsumsi pribadi. Sudah banyak berita yang menyibak alibi segelintiran orang yang memilih jalan sesat tersebut. Berbeda kalo kita menitipkannya pada sebuah lembaga resmi. Dompet Dhuafa misalnya.

Dompet Dhuafa adalah  sebuah lembaga filantropi islam yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa. Filantropi maksudnya lembaga yang getol banget membantu dan berbuat untuk kaum dhuafa. Lembaga ini sudah menginjak usianya yang ke-26. Dana berupa zakat, infak, sedekah, wakaf dan dana kemanusiaan halal lainnya dikelola secara profesional untuk mengangkat harkat sosial kaum dhuafa.

Penghimpunan dan Penyaluran Donasi yang Dilakukan secara Profesional oleh
Dompet Dhuafa

Dengan usia yang sudah seperempat abad, Dompet dhuafa membuat pengelolaan donasi menjadi lebih mudah. Mau bayar zakat? Bayar infak? Bayar sedekah? Bayar wakaf? Bayar bantuan kemanusiaan? Mudah saja. Lewat satu kanal donasi.

  1. Zakat

Zakat merupakan salah satu kewajiban umat muslim. Zakat punya perhitungan khusus, pada setiap harta yang kita punya. Dan orang-orang yang menerima zakat juga telah ditentukan. Ada 8 golongan : fakir, miskin, amil, muallaf, gharimin, riqab, ibnu sabil, dan fi sabilillah.

Bagi yang masih ragu, seberapa besar zakat yang harus dikeluarkan. Bisa dihitung sendiri melalui laman resmi Dompet Dhuafa. Tinggal klik icon Kalkulator Zakat, maka teman-teman akan dihadapkan pada laman seperti di bawah ini :

2. Infaq/Sedekah

Infaq sifatnya sunah. Infaq yang diberikan kepada orang lain berarti hal yang diberikan tersebut berupa benda. Sedangkan sedekah adalah segala bentuk kebaikan di muka bumi yang kita sampaikan kepada orang lain.

3. Wakaf

Wakaf adalah sedekah dalam bentuk aset kekayaan berupa uang, tanah, masjid, rumah sakit, gedung, dan setiap bangunan yang produktif.

4. Dana Kemanusiaan

Yang keempat ini adalah segala bentuk bantuan yang diperuntukkan untuk kegiatan saat terjadi bencana, gempa bumi, atau kepentingan kemanusiaan lainnya.

Pengelolaan berbagai bentuk donasi sudah dilakukan secara profesional oleh Dompet Dhuafa. Tugas kita selanjutnya adalah bermetaformosa rasa dalam kesediaan dan kerelaan saat berbagi. Berbagi tanpa rasa takut.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Referensi : www.dompetdhuafa.org