Selalu Ada Optimisme Dari Pelosok Negri

Siapa yang lagi membangun bangsa, jika bukan anak negrinya sendiri. Lima tahun yang lalu, saya menikmati perjalanan tugas sebagai enumerator. Sebagai enumerator, saya dan tim bertugas untuk mengumpulkan data kesehatan langsung dari lapangan.

Pekerjaan ini begitu menyenangkan bagi saya pribadi. Berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Menikmati beragam suguhan kuliner dan cantiknya  pemandangan dari setiap desa ke desa. Wilayah yang kami kunjungi adalah kabupaten di lingkup Jawa Barat. Pada saat itu saya merasakan betapa luasnya wilayah Indonesia. Saya yang biasa hidup di tengah kota. Tiba-tiba harus merasakan kehidupan di pelosok desa. Hidup di desa tertinggal itu benar-benar mengajarkan saya untuk lebih banyak bersyukur.

Namanya desa Mulyasari. Salah satu kabupaten di Bogor. Lokasinya masih terlihat di peta google. Tapi, jangan ditanya untuk akses menuju kesana waktu itu. Kami diantar angkot yang sudah disewa sebelumnya. Setelah itu, kami cuma bisa bertahan disana, sebelum ada mobil dari pusat yang dikirimkan untuk menjemput kami.  Seru yak! hehe. Soal hang out, gak bakal ketemu café. Warung makan ada sudah alhamdulillah. Untuk menuju ke kota, kami perlu meminjam kenderaan bermotor milik warga. Namun, tidak dijamin untuk bisa pulang kalo belum tau rute jalannya. Yang ada bakal kesasar. Ya sudah, dinikmati saja dengan semua keramahan bumi dan penduduk setempat.

Soal akses listrik, biasanya kalo setelah magrib, banyak warga sudah tidur. Bersyukur karena kami ditempatkan di rumah Pak RT setempat. Fasilitas listrik terpenuhi. Jangan ditanya tentang kendala sinyal untuk komunikasi. Hanya satu provider yang mampu. Itu pun harus naik ke lantai atas. Dan, bonusnya sinyalnya ilang-ilangan pula. Jadi, kalo ada telpon dari atasan, gak bakal kelar informasinya. Lebih selamat mengirimkan pesan singkat. Jadi tidak terpotong-potong. Untuk urusan pesan sampai atau tidak, banyak berdoa saja kita. Hehe.

Sebagaimana biasanya air di desa, airnya dingiiin. Sedikit memiliki rasa, mungkin karena kandungan mineralnya. Yang paling saya khawatirkan adalah saat mandi. Kami harus saling bergantian menjaga. Letaknya di dalam rumah. Tetapi gak tertutup utuh. Jadi bingung banget mau mandi. Selama mandi, pengen cepet-cepet selesai aja  pokoknya. Khawatir ada orang masuk, dari pintu samping yang langsung akses ke luar. Subhanalloh. Alhamdulillah jadi makin banyak yang harus disyukuri dalam hidup.

Bercengkrama dengan anak setempat membawa saya ke masa kecil dulu. Ketika masih di tinggal di kampung. Dibandingkan desa ini, kampung saya sedikit lebih maju. Saat saya merasa sangat haus akan informasi. Buku-buku apapun genrenya saya lahap. Majalah Bobo yang sudah jadi langganan selesai saya baca dalam waktu 3 jam. Setelah itu saya mencari buku bacaan lainnya. Dengan membaca, saya seperti masuk ke dunia lain. Masuk ke dalam cerita, berada diantara tokoh-tokoh cerita. Berawal dari situ, saya mulai berkhayal. Mengecap ilmu di kota besar, mengaktualisasikan diri, dan merajut mimpi untuk berperan serta membangun kampung saya.

Saya, si Anak kampung yang masih merajut mimpi bisa membangun kota kelahiran.

Terjun langsung ke lapangan, memahamkan saya bahwa betapa pentingnya akses transportasi ke dunia luar. Pentingnya fasilitas pendidikan, fasilitas dan pengetahuan kesehatan, rumah yang sehat dan layak huni, ketersediaan air bersih, agar sekumpulan warga  dpat hidup layak di sebuah wilayah.


Menjembatani Optimis Di Antara Banyak Tantangan Di Daerah 3T

Di dalam satu masalah, ada dua solusi. Begitu saya diajarkan. Kita harus tetap optimis dalam segala permasalahan dalam hidup. Optimis dan terus bergerak, hal yang diajarkan juga oleh Korindo. Korindo, menjembatani optimis diantara banyak harapan masyarakat yang tinggal di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal.

1. Menjembatani Optimis  Melalui Peningkatan Kesehatan

Klinik Asiki menjadi bukti nyata, Korindo mengambil peran. Diresmikan sejak September, 2017, klinik ini banyak membantu  masyarakat Papua. Khususnya masyarakat di Kabupaten Boven Digoel. Tujuan utama didirikannya klinik adalah untuk menurunkan tingkat kematian ibu melahirkan  dan angka gizi buruk. Selain itu, tentu untuk memberi layanan kesehatan secara umum. Dengan hadirnya klinik Asiki, penyakit infeksi tropis seperti TBC, HIV/AIDS, malaria bisa teratasi.

Tenaga medis Asiki diperkuat oleh 5  dokter, 12 perawat, 2 perawat gigi, 2 bidan, analis, dan apoteker dan beberapa staf administrasi. Tim medis ini  memiliki jam operasional kerja selama 24 jam. Keren yaa!

Kegiatan yang dilakukan di Klinik Asiki antara lain :

  • Melakukan penyuluhan kesehatan melalui sekolah dan radio
  • Tenaga medis turun ke kampung 2 kali dalam sebulan
  • Pemberian bantuan obat-obatan dan susu secara cuma-cuma
  • Program klinik mobile sebanyak 4-5 kali dalam sebulan yang turun langsung mendatangi masyarakat di pelosok
  • Naik perahu untuk turun langsung mengobati warga di pelosok

2. Menjembatani optimis melalui usaha berbasis lingkungan

Daerah 3 T adalah daerah yang penuh tantangan. Sudah minim fasilitas, aksesnya juga terbatas. Provinsi Papua adalah salah satu wilayah terdepan bangsa. Sebagaimana daerah terdepan, wilayah ini idealnya menjadi wajah yang pertama kali akan dilihat oleh tamu bangsa.

Melihat potensi alam yang luas dan belum dikelola dengan baik di Papua, Korindo telah turun tangan untuk berpartisipasi dalam mebangun negri. Potensi Papua yang bisa dibangun adalah dari bidang kehutanan dan perkebunan kelapa sawit. Dua potensi inilah yang dikembangkan oleh Korindo. Pengembangan di dua potensi ini, telah menyerap 10 ribu tenaga kerja.

Selain 3 bisnis diatas, juga berperan serta dalam bidang kertas dan hasil kehutanan, konstruksi, logistik, jasa keuangan, dan juga real estate.

3. Menjembatani optimis melalui  pendidikan

Belajar dari novel dan film Laskar Pelangi, kini Belitung menjadi destinasi wisata prioritas di Indonesia. Kelihaian Andrea Hirata dalam menulis dan mengembangkan kisah perjuangan hidup Ikal dalam menempuh pendidikan.

Kisah yang sarat perjuangan, ditambah bumbu kisah romantis dan komedi menarik banyak perhatian. Saya sampai nonton filmnya berkali-kali. Dan juga, menamatkan membaca kisah perjuangan di  tetralogi Laskar pelangi. Bahkan hafal  tiap adegan saat menonton ulang.

Tak pernah bosan melihat indahnya kawasan Pantai Lengkuas, Pantai Punai, Danau Kaolin dipadu dengan keseruan percakapan 10 anak Belitung. Sarat inspirasi.  Terbukti bahwa pendidikan mampu meningkatkan taraf hidup dari segala sisi.

Korindo juga berperan dalam hal pendidikan melalui bantuan dana pendidikan, fasilitas belajar dan bus sekolah.

4. Menjembatani optimis dengan infrastruktur dan sarana pendukung lainnya

Setali tiga uang, desa terluar, terdepan, dan tertinggal yang ada di sepanjang Kepulauan Indonesia membutuhkan infrastruktur yang tidak sedikit.  Pembangunan fasilitas berupa sarana ibadah, pasar, jalan, rumah sakit, taman bermain, kebun masyarakat, balai latihan kerja dan banyak lainnya telah terbantu dengan hadirnya Korindo.

5. Menjembatani optimis dengan meningkatkan perekonomian

Perekonomian, hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan. Jika ekonomi lemah, kehidupan pun akan terancam. Mengingat pentingnya peran ini, Korindo membangun core bisnis yang mendukung perekonomian masyarakat. Mulai dari perikanan, peternakan, dan perkebunan. Diharapkan ekonomi Indonesia akan meningkat jika ekonomi keluarga terjamin.

6. Menjembatani optimis melalui sosialisasi di media sosial

Zaman milenial seperti saat ini, media sosial bisa menjadi senjata untuk kepentingan apapun. Kekuatan media sosial mampu ‘membius’ banyak orang untuk fokus pada satu topik setelah viral. Dan setelah itu, berbondong-bondong orang akan banyak berkunjung.

Mudahnya akses informasi baik dari hashtag Instagram atau pencarian di google, mempermudah informasi meluas. Ditambah lagi jika ada kekuatan sang endorser saat meng-influence followersnya.

Saat ini, perjalanan dan kegiatan Korindo bisa kamu ikuti di :

Facebook : Korindo Group 
Twitter : @KorindoGroup
Youtube : Korindo Group
Instagram : @korindogroup_pr

Tentang Korindo

Korindo adalah sebuah perusahaan Indonesia  yang memiliki konsen terhadap program-program strategis berdasarkan 5 pilar utama : pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan infrastruktur. Bidang usaha yang dijalani antara lain bergerak di palm oil, newspaper print, wind tower dan plywood.

Tahun 2018, Korindo mendapatkan Padmamitra Award. Penghargaan ini diberikan kepada siapapun yang memberikan kontribusi dan perhatian kepada kondisi sosial masyarakat di daerah terpencil.  Korindo yang sudah berumur setengah baya, 50 tahun, semoga tetap menyalakan cahaya di negri Papua khususnya, dan menerangi di sepanjang wilayah Indonesia.

Semenantang apapun hidup yang kita jalani, beri celah optimis untuk menghadapinya.