“Where there is a will, there is a way”, selalu ada jalan untuk menunaikan hak orang lain dalam waktu,  rezeki dan kehidupan  kita. Pun untuk temen-temen yang kesibukannya yang sangat tinggi sekalipun.  Selalu ada celah waktu dan kesempatan yang dapat kita manfaatkan untuk mewujudkan kepedulian tersebut. Saat se-hectic apapun, ada saja yang bisa kita lakukan  untuk orang lain. Boleh liat tulisan saya di sini.

Wujud kepedulian terhadap sesama memang tidak ada batasnya, ada banyak ragamnya. Bisa dalam bentuk materi, jasa, bantuan dalam dunia nyata ataupun maya. Aksi nyata (yang kebetulan di dokumentasikan :)) yang bisa dibilang baru  saya dan teman-teman pengajian lakukan adalah menjual baju bekas layak pakai. Tim intinya berjumlah delapan orang. Tim inti ini kemudian menyebarkan informasi ke teman-teman, tetangga atau siapapun yang kira-kira memiliki kerelaan untuk melakukan sumbangsih. Waktu pengumpulan baju bekas layak pakai tersebut sekitar satu bulan. Kedelapan orang tersebut menjadi penanggungjawab pada masing-masing wilayah, sesuai tempat tinggal. Seluruh hasil ‘jarahan’ hehe bukan, sumbangan menjadi tangggung jawab masing-masing sebelum dikumpulkan kembali di hari H.

Penjualan baju bekas layak pakai ini dilakukan di tanggal muda, di awal bulan, dengan harapan agar lakunya  lebih banyak :). Pemilihan kampung sasaran berdasarkan  pilihan dari ketua tim. Kampung sasaran ini memang sudah biasa membeli baju bekas layak pakai. Salah satu kampung yang letaknya di pinggiran kota Bogor. Setelah melakukan penjemputan baju bekas layak pakai yang berhasil dikumpulkan di beberapa titik temu, kami langsung menuju kampung tersebut.

Pukul 9 pagi, seluruh anggota tim sudah sampai lokasi  dan segera melakukan persiapan. Dengan dibantu pemuda dan ibu-ibu setempat, lapak sederhana mulai dibuka. Saya dan anggota tim lainnya mulai mengklasifikasikan pakaian berdasarkan harga jual. Pakaian yang dikumpulkan mulai dari jenis kaos, gamis, celana panjang, rok, jilbab, pakaian anak kecil,  dan ada juga ‘nyempil’ dua tas. Klasifikasi harga jual pakaian mulai dari Rp. 5000, Rp. 10.000, hingga Rp. 20.000. Pengkategoriannya berdasarkan tingkat kebaruan, kerapian dan corak setiap item. Sebenarnya gak terlalu valid pengkategoriannya, karena masing-masing anggota pasti punya standard yang berbeda-beda, hehe. Semoga dimaafkan para pembeli saat itu :).

Suasana ramai dan riuh memadati setiap lapak sederhana, yang hanya berupa meja dengan timbunan pakaian. Sekalipun harganya sudah ditetapkan di masing-masing meja. Pembeli yang memang kebanyakan ibu-ibu, terasa hambar kalo belum menawar barang pilihannya. Dalam hati, sebenarnya gak tega juga. Tapi.. karena hasil penjualan ini juga akan disumbangkan kembali, teganya dibuang dulu sejenak. Dengan memasang wajah lebih manis, menolak tawaran harga dari ibu-ibu. Hari beranjak siang, strategi pemasaran pun diluncurkan, yaitu Buy 1 Get 1, tapi banting harga. Baju yang harganya Rp.5000 dan Rp. 10.000 disatukan kemudian dijual dengan harga Rp.10.000 namun dapat 3 buah. Seketika, perempuan-perempuan ayu berubah jadi abang-abang jual piring keliling, haha. Sepuluh ribu tiga, sepuluh ribu tiga di masing-masing meja . Sedangkan barang yang harga Rp.20.000 jadi Rp. 10.000 saja. Niatnya biar makin besar nilai sumbangannya.

Saya lupa berapa jumlah tepat dari nilai pendapatan penjualan baju layak pakai tersebut. Uang sumbangan tersebut didonasikan kembali untuk diubah bentuknya menjadi sembako yang akan dibagikan bagi  warga yang tidak mampu, buku dan alat tulis, keperluan sekolah bagi anak-anak  kurang mampu, dan untuk keberlanjutan sekolah  yang dikelola secara sukarelawan oleh beberapa anggota.  Sungguh, nikmat itu lebih terasa saat kita bisa berbagi. Membentuk seulas senyum di wajah sepuh itu, riak tawa anak-anak, dan juga suasana haru yang tercipta saat berbagi. Nikmat Tuhan mana yang kita dustakan kawan 🙂

 

masih sempet narsis masih sempet narsis 2

Tulisan ini diikutsertakan untuk event online 10 Hari dari Blogger untuk Hari Pahlawan