Pernah merasa terjebak dengan kesibukan yang tidak ada ujungnya? Seakan 24 jam itu berasa sangat kurang. Jika boleh meminta, kita ingin satu malam jangan beranjak menuju pagi dulu, karena tugas kantor atau tugas kuliah yang belum selesai. Saat-saat  hectic kayak gini, boro-boro kita bisa mengingat orang lain, bisa ingat waktu makan, gak jadi emosi tingkat tinggi, dan pekerjaan selesai sudah bersyukur banget.

Betapa tidak beruntung dan hambar sekali hidup jika hanya memikirkan urusan kita sendiri.  Dengan segenap kesibukan yang sudah memadati jadwal kita sehari-hari, kita sering punya banyak excuse untuk tidak menceburkan diri dalam kegiatan sosial. Banyak alasan yang kita berikan yang ujungnya adalah wujud pembelaan diri. 24 jam hanya muter-muter di urusan tugas dan tugas saja.

Namun hidup bukan persoalan tentang diri dan pekerjaan kita saja. Hidup adalah tentang seni  menjalin  keterikatan antara kita, orang lain dan Tuhan. Jika  jalinan keterikatan ini  tidak seimbang antara satu dengan yang lain, tunggu saja waktu dimana hatimu akan terasa kering, hidupmu serasa tidak berguna. Bisa nyelesein pekerjaan sendiri saja saya sulit? ditambah dengan urusan orang lain, bisa bikin tambah menderita. Orang itu nyari yang seneng-seneng  kalee bukan nyari yang bermasalah, begitu bukan?

Kondisi itu mungkin bisa dimaklumi jika terjadi beberapa tahun yang lalu, saat dimana dunia internet masih jauh dari keseharian kita. Saat ini, there’s no more excuse untuk tidak turut serta dalam kegiatan sosial. Koneksi internet yang lekat di dunia kita berubah menjadi media perekat. Kita bisa berperan banyak dalam  kegiatan sosial. Misalnya saja, kisah tentang “Hati untuk Cellista”. Grace Amelia, pendiri Rumah Ramah Rubella, menyebarkan informasi betapa seorang Cellista sedang membutuhkan biaya pengobatan transplantasi hati yang menelan biaya hampir 600 juta rupiah. Dengan kekuatan teknologi, jaringan internet, kegiatan sosial ini menjadi lebih mudah. Pengumpulan donasi 20 ribu rupiah dari sekian banyak tangan  menjadi lebih ringan dan lebih cepat. Untuk yang mengaku sangat sibuk di dunia nyata, kesempatan ini menjadi hal yang sangat bisa dimanfaatkan untuk  tetap bisa menyalurkan jiwa sosial.  Banyak tersebar lembaga sosial yang sudah menginformasikan nomor rekening yang berguna untuk menunjang kegiatan sosial mereka. Misalnya saja Dompet Duafa, Daarul Qur’an atau yang lainnya. Lembaga-lembaga terpercaya tersebut bisa menjadi salah satu sasaran penyaluran tanggung jawab sosial kita terhadap yang lain.

Selain dalam bentuk materi, banyak kegiatan sosial yang menerima bantuan seperti buku bekas, pakaian  dan jilbab layak pakai, mukena, sepatu,  serta lainnya.  Informasi tersebut tentu seiring dengan alamat dan tujuan si penerima bantuan.  Begitu banyak informasi kegiatan sosial di dunia maya. Rasanya tidak ada alasan untuk dilema dalam membagi waktu antara kesibukan diri dengan kewajiban sosial. Dengan dunia internet, semua dilema terjawab dengan tetap bisa berderma.

There should be no more excuse, right? ^_^

Tulisan ini diikutsertakan dalam event 10 Hari dari Blogger untuk Hari Pahlawan