Helvy Tiana Rosa, penulis yang saya kenal sejak SMA dulu. Saya baru tau beberapa tahun belakangan ini, kalo beliau adalah kakak kandung dari penulis favorit saya Asma Nadia. Dua kakak beradik ini fokus di dunia kepenulisan dengan dunia yang berbeda.   Helvy Tiana Rosa, si kakak sulung, sekarang menjadi dosen di Fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negri Jakarta. Sedangkan bunda Asma Nadia, begitu panggilan akrab beliau, lebih konsen di dunia penerbitan Asma Nadia Publishing House, dan juga mengkaderisasi KBM. KBM singkatan dari Komunitas Bisa Menulis yang membimbing pemuda maupun yang tidak muda (hihi)  untuk menjadi penulis.

Tanggal 20 September lalu, #maaf late post temans, saya diajak partner in light (bukan   ya)  untuk menghadiri sebuah acara seminar  “Women Days” temanya adalah women that matters to love, to share, to inspire. Seru kan temanya.  Yang buat saya pengen banget banget pake banget kesana, selain ada Bunda Helvy, ada Pak Habibie juga yang katanya memang masih dalam konfirmasi *banyakbanyakdoabiarbisabenerandatang.  Idola yang pengen banget saya temui. Impian ketemu bapak dahsyat bin romantis  ini masuk ke list 100 impian di daftar buku impian saya lho. Namuunn, namanya juga impian, bisa saja langsung terkabul bisa tunggu dulu. Impian yang satu tersebut, masuk waiting list lagi, hiks. beliau tidak bisa hadir karena satu dua hal. Entahlah, hanya panitia seminar yang tau alasan pastinya.

Saya sudah siap2 kostum, bawaan, sampe bekal pagi di kereta  sejak malam hari. Yang saya sayangkan,  panitia  agaknya kurang empati pada peserta. *inimenurutsayalooh. Saya menanti-nanti balasan sms tujuh hari tujuh malam, sampai lumutan, untuk konfirmasi masih bisa ikutan daftar atau kuota sudah penuh. Sampai di pagi hari, tak jua kepastian itu datang *sinetronbanget dah. Saya tanya balik pada panitia, namun juga tak ada balasan. Kalo gak ada pulsa, gak mungkin banget kan ya.. namanya juga lagi gelar acara masa’ seorang contact person kehabisan pulsa. Atauuu, panitianya mungkin lelah apa ya,hehe, entahlah. Pake paket murah juga banyak kan sekarang. Saya juga gak kepikiran untuk nelpon panitia saat itu. Dengan kondisi di cuek bebek-in saya anggap peserta sudah full, jadi kalo dipaksakan takut muntah,* emang lagi makan, peserta jadi gak nyaman.  Akhirnya, saya tidak jadi berangkat. Dengan banyak kecewa, saya melanjutkan nonton TV yang gak jelas juga acaranya. Ya sudahlah, mari nikmati hari ini 🙂

Sekitar pukul 09.50  whatsup hp saya berbunyi. Saya langsung melihatnya, ternyata sohib saya itu nanyain apakah saya jadi datang atau nggak.  Dengan sedikit berat hati, saya membalas WA itu juga. “Gak ada konfirmasi dari panitia, saya gak jadi ikut”, saya jawab. “Oalah, harusnya datang aja, masih bisa kok.”, ia membalas WA dengan cepat. Seketika saya kaget, “kok iso?”, “kamu panitia bukan?” saya balas dengan double question. Sohib saya ini memang mahasiswa pasca UI, jadi saya kepikiran kalo dia bisa jadi salah satu panitia. ” Dan ternyata, bukan panitia  dong. Dia juga datang, tanpa konfirmasi dari panitia. Hadeuh, siapa yang salah ya, panitia yang gak empati atau calon peserta (seperti saya) yang terlalu sensitif.

Akhirnya saya berangkat juga. Alhamdulillaaah, meski rada kecewa kehilangan ilmu di sesi yang kedua. Temanya menurut saya  penting banget buat bekal perempuan. “Mendidik Calon Pemimpin Madani, Investasi Dunia dan Akhirat” yang disampaikan Mbak Septi Peni Wulandani. Beliau adalah pendiri Institut Ibu Profesional. Tapiii, senengnya itu terbayarkan karena masih ada sesi Bunda Helvy.  Insy masih bisa ketemu beliau di sesi berikutnya.

women days

Postingan tentang inspirasi dari Bunda Helvy selanjutnya ada di sini ya 🙂