bni tq

Pertemuanku dengannya tidak disengaja. Sudah ditakdirkan Tuhan. IA-lah yang sudah mendesain dengan sempurna. Pertemuan yang secara alami memberikan sebuah keterikatan.

Bermula dari sebuah langkah yang kupilih untuk menuju tangga masa depan yang lebih baik, saya melabuhkan diri untuk menjemput ilmu di sebuah institusi yang memiliki nama lain sebagai sebuah kota hujan.

Terdaftar sebagai salah sau mahasiswa disana. Yang secara otomatis menjadi nasabah bank yang sudah memiliki umur berkepala tujuh ini. Hal tersebut disyahkan dalam sebuah Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Kartu yang memiliki multifungsi, sebagai kartu ATM, kartu perpustakaan, kartu layak mendapat beasiswa, atau kemudahan lainnya selain sebagai kartu pengenal.

Bagi saya pribadi, kartu ini kartu yang sangat membanggakan. Terimakasih yang tak terhingga untuk kedua orang tua saya yang telah mengizinkan anak perempuannya untuk hidup merantau. Jauh dari pandangan mata keduanya.

Amplop panjang putih perlahan dibuka. Ada kartu ATM dan nomer PIN di amplop lainnya. Khawatir ada bagian yang tak seharusnya robek. KTM yang dominan berwarna kuning dengan tambahan  corak warna merah dan hitam di huruf-huruf yang tertulis disana. Waktu itu, pertama kalinya saya memiliki sebuah kartu multifungsi. Haru dan senang menyatu melihat kartu tersebut. Norak banget dah, maklum baru pertama kali punya kartu dalam dompet. Kuselipkan ia rapi di dalamnya. Ia masuk ke dalam sisi kantong dompet yang memiliki zipper. Khawatir terjatuh.  Takut sekali kartu ‘keramat’ itu hilang. Saya sangat tergantung sekali padamu duhai kartu, bisik saya dalam hati. Kartu yang memiliki kekuatan untuk kelangsungan hidup saya selama di bumi perantauan. Kartu yang menjadi penyambung hidup saya.

Sebulan menimba ilmu, kondisi keuangan mulai engap-engapan. Beli nasi dan lauk di warteg dengan menu sederhana adalah sebuah keharusan. Tapi tetap saja, setiap tanggal tua punya ‘drama’nya masing-masing. Setiap drama tanggal tua memiliki penyelesaian yang berbeda-beda. Jangan sampai posisi lampu kuning yang selama ini bertahan berubah menjadi warna merah sebelum waktunya. Sebelum kucuran dana segar mengisi rekening kembali. Saya anggap semua itu bagian dari sebuah perjuangan.

“Sebuah keberhasilan pasti melewati banyak fase pemantasan dan perbaikan diri”, begitu saya ingat nasihat Nenek. Bersabar adalah solusi terbaik. Akan ada akhir dari masa-masa sulit, Nenek menambahkan.

Kegelisahan saya di awal bulan pertama, tidak punya ilmu menggunakan kartu ‘keramat’ tersebut. Punya kartu ATM tapi tidak bisa menggunakannnya  sama sekali sama saja dengan mencari jarum ditengah sebuah tumpukan jerami, sama dengan hal yang sia-sia bukan?.

Dengan muka sedikit memerah dan bersiap ditertawakan, saya meminta bantuan teman agar mau mengajarkan saya cara mengambil uang tunai dari mesin ATM. Perkiraan saya benar, ia tertawa puas sekaligus memasang muka tak percaya. Ia tidak percaya kalo saya benar-benar tidak tau. Namun dengan bijak, teman tersebut segera bergegas mengantarkan saya menuju ATM. “Begini lho”, dengan logat jawa ia mengajarkan saya dengan perlahan-lahan.   Ia memandu memasukkan kartu, menghafalkan nomor PIN, memilih menu yang tampak di layar, memilihkan jumlah yang ingin diambil hingga kartu ATM tersebut keluar dari mulut mesin tersebut.

Keringat dingin mengucur di pelipis. Khawatir uang di dalam rekening masih kosong, khawatir orang tua saya telat gajiannya, dan khawatir lainnya. Terlebih kalo tanggal 1  di awal bulan baru jatuh pada hari libur. Edisi penghematan bakal jadi lebih lama dari biasanya.

Uang tunai kini sudah ditangan. Khawatir-nya ikut hilang. Detik kehidupan saya kembali berlanjut.

Ngomomg-ngomong tentang kehidupan saat mahasiswa dulu, ada satu hal yang sangat berkesan dengan bank BNI. Mesin ATM 20 ribu rupiah. Mesin ATM yang bak pahlawan bagi saya dan teman-teman mahasiswa lainnya.  Mesin ATM ini sungguhh.. sungguhh.. dan sangat membantu saya untuk lebih mudah melakukan penghematan. Hal yang kedua adalah hal yang paling urgent. Saat uang di rekening hanya tinggal 60 ribu atau kelipatan 20 ribu lainnya, mesin ATM ini bisa melakukan tugasnya dengan baik. Jadi saya bisa menarik uang dari ATM hingga tanpa sisa. Sisa Rp.0  bukanlah sebuah masalah besar. Tuuhh, hero banget kan ni mesin ATM. Roda kehidupan saya bisa berputar kembali.

Posisi antrian mesin ATM 20 ribu akan lebih ramai di tanggal-tanggal mendekati akhir bulan.  Waktu saya kuliah dulu, jumlah mesin ATM 20 ribu ini ada 2 buah diantara 6 mesin ATM lainnya. Waktu saya berkunjung, ke daerah Dramaga beberapa saat yang lalu, kini BNI sudah membangun galeri ATM BNI yang lokasinya tepat di sebelah bank BNI Dramaga. Dan amazing-nya mesin ATM 20 ribu masih ada disana. Aaah , saya senyum-senyum sendiri melihatnya. Teringat masa-masa saat ATM tersebut menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bagi saya sendiri.

Lulus kuliah, sayangnya kartu ‘keramat’ itu juga harus turut dikembalikan kepada pihak BNI. Sedikit menyesal, karna tak sempat narsis terakhir kali bersamanya. Demam narsis memang belum membumi waktu itu. Hadeuuuh, kenapa tiba-tiba saya merasa tua banget yak , hahaha.

Memasuki dunia kerja, tempat saya bekerja juga mewajibkan saya untuk memiliki rekening di BNI saja, agar tidak perlu mengeluarkan biaya administrasi dalam masalah pengiriman gaji. 0261467342 menjadi nomor rekening saya. Sebuah nomor yang mirip nomer telepon bagi saya pribadi. Singkat dan gampang dihafal. Nomor rekening  yang saya gunakan untuk internet banking dan SMS banking saya. Layanan 24 jamnya sangat membantu saya untuk tidak ketinggalan dalam belanja promo-promo buku atau e-commerce. Huwaaa.. thank you banget ya BNI.

Memiliki kesempatan untuk berpindah kerja, saya juga tetap tertakdir bertemu dengan BNI. Saya wajib mendaftarkan akun rekening baru di Bank BNI Syariah. Gak jauh-jauh dari Bank BNI emang. Udah jodoh kayaknya 🙂 . Selama belasan tahun saya sudah hidup berdampingan dengannya. Emang jodoh banget menjadi nasabah BNI, dan selama ini hubungan kita masih baik-baik saja. Doakan awet ya 🙂

 

Di usia BNI yang 70 tahun ini,  saya berharap BNI terus melakukan inovasi yang mampu meningkatkan nilai kehidupan setiap nasabahnya.