Nyaman saat Naik Kenderaan Umum

“Naik kenderaan umum, mana ada yang nyaman Des”.

Sahut sahabat saya saat mengetikkan kalimat tersebut di layar laptop.

“Ya nyamanlah “ Saya langsung menjawab pernyataannya.

Kalo kita naik kenderaan umum, kita bisa melihat view yang berbeda dibanding  kalo kita naik mobil atau motor, secara, posisi mata kita jadi lebih tinggi. Jadi lebih banyak dan lebih luas mata memandang. Kita bisa mengambil hikmah saat secara tak sengaja mendengarkan kisah hidup orang lain. Bonusnya lagi, kita jadi tau tren fashion yang lagi in. Pokoknya banyak banget deh. Oh iya, ada satu lagi, kita bisa berbagi kursi untuk mereka yang lebih membutuhkan. Disitu saya merasa nyaman, Ta.

“Nyaman dari mana? Jadi berdiri sepanjang perjalanan kan kita tadi. Aah kamu mah aneh”, samber Nita.

Sekarang saya balik nanya deh, Kamu yakin bisa duduk nyaman saat ada ibu-ibu lagi gendong anaknya berdiri dihadapanmu. Atau.. ada nenek-nenek yang mencoba bertahan dalam posisi berdiri bergelantungan. Aahh, aku mah gak tega. Langsung inget Ibu di rumah. Atau ingetnya, nanti kita sudah nenek-nenek misalnya ya Nit, insyaAllah akan selalu ada anak muda yang ngasih kita tempat duduk saat kita sedang butuh. Alloh Maha Adil lho, membalas semua kebaikan hambaNYA.

“Iyesslah, baik Ibu Kos. Baso nya udah datang. Ceramahnya udahan ya. Kita makan dulu, udah laper sangat. “ celoteh Nita.

Saya dan sahabat mulai menyantap baso yang udah di depan mata.

Belajar nyaman dengan belajar toleransi

Tidak ada standar ukuran dari sebuah kenyamanan. Karena ukuran kenyamanan akan berbeda pada setiap orang. Mostly, tergantung kebiasaan dan prinsip hidup.  Tak mudah memang belajar toleransi saat masa semua informasi ada di tangan kita. Apalagi saat dibenturkan dengan kebiasaan dan prinsip hidup.

Ada beberapa orang  kalo makan lebih nyaman pake tangan, namun pada sebagian yang lain lebih nyaman menggunakan sendok. Ada beberapa orang yang menganggap bahwa semua keberhasilannya adalah berkat jerih payahnya saja tanpa berkah dari Allah Pemilik Segalanya.

Itulah mengapa kita perlu belajar toleransi. Dengan belajar toleransi, kita memahami bahwa setiap orang punya latar belakang yang berbeda-beda, punya ilmu yang berbeda-beda, dan juga punya tujuan hidup yang berbeda.

Hanya dengan meningkatkan kadar toleransi, kita bisa lebih nyaman saat berada di tempat umum seperti saat naik kenderaan umum. Berjuta kepribadian, berjuta jenis lelah, berjuta karakter, berjuta jenis keburu-buruan yang harus dikejar dalam hiruk pikuk Jakarta berkumpul seketika di dalam satu kenderaan. Terlebih saat kondisi kenderaan umum pada jam-jam sibuk. Harta karun kesabaran dalam diri, butuh lebih banyak digali lagi. Sabaarrrrr ….

Toleransi bagi Tempat Duduk Prioritas

Baik naik busway atau naik KRL, selalu ada tempat duduk bagi penumpang prioritas. Penumpang prioritas itu antara lain: ibu hamil, penumpang dengan membawa balita, lansia dan disabilitas. Bagi kita yang merasa muda dan kuat, disarankan untuk tidak menggunakan tempat duduk prioritas tersebut. Karena empat jenis penumpang diataslah yang berhak untuk mendudukinya. Kalo memang kosong ya silahkan diduduki terlebih dahulu, namun saat penumpang prioritas naik, maka harus lebih legowo untuk berdiri. Beban yang kita rasakan saat berdiri akan jauh lebih kecil daripada beban yang penumpang prioritas rasakan.

Beralih ke kendaraan umum saat ini menjadi pilihan mutlak bagi warga Jabodetabek yang terus berkembang. Kendaraan pribadi menjadi sumber utama kemacetan Ibukota. Setiap tahun selalu ada penambahan jalan baru, infrastruktur secara masif mulai dibenahi, masyarakat pun perlahan tapi pasti mulai beralih ke kendaraan umum. Di Jabodetabek, Pemerintah melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan terus berupaya mengurangi kemacetan dengan menggalakkan kampanye Ayo Naik Bus!

Program pemerintah hanya dapat berlangsung dengan baik, saat warganya berkontribusi untuk berperan serta. Kita, masing-masing diri, dapat membantu pemerintah dalam mengurangi kemacetan, mengurangi polusi, dan membuat hidup makin berkualitas. Dulu kemapanan itu tersimbol dengan mengendarai mobil pribadi. Padahal jaman sudah berubah. Kini sejatinya “mapan” adalah mereka yg mau naik kendaraan umum.

Tentu saja, di kendaraan umum kita tetap punya tata krama.  Tetap belajar bertoleransi. Agar kita lebih nyaman saat naik kenderaan umum.  Kendaraan umum sejatinya adalah milik kita bersama, makanya kenyamanannya juga menjadi tanggung jawab bersama.

Ayo Naik Bus!