Bijak Kelola Kardus dan Plastik dari Belanja Online

“Nak, beli gula sama teh dulu ya ke warung?”

“Sekalian beli cabe sekilo ya Nak, cabe Ibu udah tinggal sedikit”

“Ya, baik Bu”, jawab saya.

Sedikit bergegas saya menuju  warung, ada nenek yang sedang menunggu tehnya disuguhkan.

Kalo zaman dulu, kita harus ke warung, atau ke pasar untuk membeli kebutuhan. Berbeda banget, sejak tahun 2009-an kebiasaan baru mulai merambah Indonesia. Masyarakat Indonesia mulai mengenal belanja online. Awalnya lewat forum jual beli, yang nantinya janji ketemu lebih dulu, cek barang dan transaksi pun terjadi. Sekarang proses jual beli tersebut berpindah menjadi transaksi online,lewat jalur market place. Belanja online perlahan menjadi kegiatan baru yang kini sangat lumrah dalam keseharian. 

Seiring dengan tumbuh dan  berkembanganya dunia market place di Indonesia, kebiasaan belanja online pun tak terhindarkan. Perlahan namun pasti, keberadaan market place mulai menguasai jalur pemenuhan kebutuhan masyarakat. Yang dulunya transaksi dilakukan secara tatap muka, kini beralih dengan transaksi secara online. Yang awalnya masih banyak khawatir  dengan model transaksi online, kini kepercayaan terhadap online seller terus tumbuh.

Tinggal ketik kata kunci sesuai produk yang dicari, ratusan bahkan ribuan produk dengan seketika muncul di beranda pencarian aplikasi market place. Masukkan ke keranjang belanja langsung check out, bayar, dan tinggal tunggu orderan sampai ke rumah. Se-simpel itu!. 

Dari data yang dibawah, keliatan banget kalo masyarakat Indonesia suka banget belanja online. 

Kebiasaan Belanja Online Masyarakat Indonesia Sumber Data : We are Social

By the way, ada yang baru saja checkout belanja hari ini?

Sebagai seorang ibu rumah tangga, kegiatan belanja online sudah jadi rutinitas wajib. Tanggung jawab dalam urusan me-manage semua kebutuhan di dalam rumah berada di pundak ibu.  Rutinitas yang biasanya harus berlelah-lelah karena macet atau antri, sudah tidak lagi.  Berkat peningkatan teknologi, saya sangat terbantu dengan hanya memindahkan isi daftar belanjaan ke daftar produk di keranjang market place langganan.

Belanja online tentunya lebih praktis. Tanpa bermacet-macetan dan berpanas-panasan, tinggal menunggu abang kurir mengantarkan pesanan sampai ke depan pintu rumah. Saat ada teriakan bersahabat “Pakeet!” dari balik pintu terdengar, bahagia pun menghampiri. Semua isi daftar kebutuhan terbungkus rapi dalam kardus dan plastik belanjaan.

Membaca testimoni pelanggan dari beberapa market place, setiap orang merasa sangat terbantu dengan sistem belanja online ini. Kecepatan pengiriman yang ekspress, produk yang original, pelayanan penjual  yang ramah, dan juga ketersediaan berbagai promo gratis adalah beberapa alasan pelanggan jadi lebih loyal belanja online. Diantara banyak alasan tersebut, faktor kenyamanan adalah alasan yang utama. 

Kenyamanan bisa membeli barang kebutuhan hanya dengan duduk di rumah dan bisa bertransaksi online dalam kurun waktu 24 jam adalah faktor utama mengapa ketagihan belanja online. (Global Journal)

Kalo temen-temen, apa alasan utama suka belanja online di market place

Dibalik kebiasaan baru ini, ada sumber masalah baru yang juga menghampiri.  Sumber masalahnya adalah kardus dan plastik yang jadi pembungkus barang-barang belanja online. Semakin meningkatnya permintaan dalam memenuhi kebutuhan secara online, semakin meningkat pula jumlah kardus dan plastik yang menjadi ‘sampah’ belanja online. 

Prilaku Masyarakat Melakukan Transaksi Belanja Online Sebelum Pandemi
Prilaku Masyarakat Melakukan Transaksi Belanja Online Saat Pandemi

Sumber data :Jurnal Teknoinfo 2021

Sebelum Covid 19 melanda, kecenderungan belanja online terjadi hanya satu sampai tiga kali dalam sebulan. Kurang lebih 80 % masyarakat melakukan transaksi secara online.

Saat masa pandemi, kecenderungan belanja online semakin meningkat. Hal ini  seiring anjuran untuk menjaga jarak dengan orang lain sejauh 1-3 meter. Dengan harapan meminimalisasi terjadinya penularan virus. Saat virus corona melanda, 30 % masyarakat semakin sering melakukan transaksi belanja online, kurang lebih 4-7 kali sebulan.

Coba kita hitung saja sejenak, satu anggota rumah tangga punya tujuh sampah kardus atau plastik dalam sebulan.  Keluarga Indonesia  yang dikenal memiliki keluarga besar, sebut saja ayah ibu, dan 2 anak. Empat orang ini akan menumpuk sampah kardus dan plastik sebanyak 30 buah dalam satu bulan. Jika dikalikan dengan jumlah masyarakat warga Indonesia yang kini 280 juta, jumlah sampah kardus dan plastik yang menumpuk sudah mencapai ratusan juta.

Ngeri ya?

 

Bahkan menurut survey online yang dilakukan oleh LIPI, peningkatan belanja online terjadi sebesar dua kali lipat. Yang awalnya hanya 1-5 kali per bulan menjadi 1-10 kali per bulan.

Hampir 96 % nya paket belanja online dibungkus dengan plastik dan atau kardus yang tebal. Ditambah lagi  sampah bubble wrap dan selotip untuk memastikan bahwa paket terjaga dengan aman saat pengiriman. 

Data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa masyarakat di kota besar menyumbang sampah kurang lebih 0,7 kilogram setiap harinya. Pada 2030, produksi sampah diperkirakan sebesar 72,9 juta ton, dan menjadi 79 juta ton pada 2045. Artinya, perlu upaya serius untuk mengelola sampah (KataData).

 

 

 

 

Grafik lingkaran disamping menunjukkan persentase sampah plastik tahun 2020 sebesar 17.1 % dan sampah kardus sebesar 12,2 %. Data ini bersumber dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional KLHK. Sampah plastik yang ditemukan ini berupa kantung pengiriman, tas belanja, dan selotip.
 

 

 

Komposisi Jenis Sampah Tahun 2020

 

Dampak  Terhadap Lingkungan 

Pengiriman paket yang sudah menjadi bagian kehidupan saat ini, juga dapat menjadi penyumbang besaran jejak karbon. 

Jejak Karbon adalah besaran emisi gas CO2 yang dikeluarkan akibat aktifitas individu atau akibat dari sebuah aktifitas. 

Jejak karbon yang dihasilkan dari pengiriman paket melalui jalur udara dan darat menyumbang gas emisi karbon yang  menyebabkan peningkatan  pemanasan global. 

 

 

 

Sumber emisi gas karbon yang berasal dari transportasi adalah salah satunya saja. Masih banyak sumber emisi karbon lainnya.

Berdasarkan data dari International Energy Agency, listrik dan pemanas menjadi sumber  emisi gas karbon yang utama di seluruh dunia. 

Faktor transportasi menduduki sumber emisi gas ketiga  yang juga turut menyumbang pemanasan global. 

Sumber : International Energy Agency

Sampah kardus dan plastik, masing-masing memiliki pengaruh buruk terhadap lingkungan.  Mulai dari proses produksi, konsumsi hingga penguraian, plastik banyak melepaskan gas rumah kaca. Emisi gas karbon juga merupakan salah satu buangannya. Pelepasan gas ini dapat memperparah pemanasan global. 

Kantong plastik sekali pakai banyak mencemari lingkungan. Terlebih lagi, kemasan jenis ini butuh waktu degradasi sekitar 100-500 tahun agar dapat terurai dengan sempurna. Sehingga konsep 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) penting banget diterapkan di seluruh kegiatan harian kita. 

 

Usaha mitigasi atau pengurangan resiko terhadap pemanasan global sedang digalakkan di seluruh negara. Aksi mitigasi setiap individu sangat dibutuhkan sebagai bentuk kecintaan terhadap lingkungan. Hal ini juga sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan hidup kita di bumi. Meski masih banyak yang awam terhadap isu lingkungan ini, satu aksi mitigasi dari kamu yang sudah paham sangat berarti untuk mengurangi dampak pemanasan global. 

Lalu, cara bijak apa yang bisa kita lakukan sebagai pemuda bangsa dalam mengelola kardus dan plastik belanjaan online. 

  • Sebelum memutuskan memilih barang belanja online sampai di rumah, pastikan bahwa kita memang benar-benar membutuhkan barang tersebut bukan sekedar memenuhi keinginan semata. 
  • Manfaatkan kembali plastik yang bisa dipakai untuk kebutuhan lain, misalnya : kumpulkan sampah plastik dan berikan ke warung sayur yang biasanya butuh banyak plastik untuk konsumennya. 
  • Untuk sampah kardus, kardus bisa dikumpulkan terlebih dahulu lalu bisa jual ke abang pemulung dan pilihannya ada dua, dihibahkan saja jadi rezeki si abang pemulung atau menjual kardus saja
  • Mengubah sampah kardus dan plastik menjadi benda kreatif, seperti mainan anak dari kardus, wadah alat tulis, frame, lemari kecil, pot tanaman, rak buku, lampu hias, wadah asesoris, tas belanja, dompet kecil, celengan anak, atau banyak hal kreatif lainnya
  • Membeli barang dari lokasi yang lebih dekat, agar pembungkus plastik yang digunakan juga lebih sedikit serta juga bisa untuk mengurangi polusi udara saat proses transportasi darat
  • Membeli barang-barang kebutuhan dalam kemasan yang besar sehingga kemungkinan perulangan belanja lebih minim terjadi. 
  • Membekali diri dengan ilmu tentang pemilahan sampah. Dan dengan lebih baik lagi bisa membagikan pengetahuan yang dimiliki kepada lebih banyak orang. 
  • Hentikan kebiasaan membakar sampah plastik. Membakar sampah masih jadi kebiasaan di tengah masyarakat. Padahal sejatinya membakar sampah akan meningkatkan emisi karbon ke udara.

Beberapa cara diatas sebaiknya bisa dilakukan sebagai aksi mitigasi nyata setiap harinya. Sebagai wujud kontribusi nyata anak bangsa dan menjadi bagian dari #MudaMudiBumi.  #TimeforActionIndonesia dalam mengurangi tumpukan sampah plastik dan kardus yang jumlahnya terus dan terus meningkat.

Oiya, pas banget nih bulan Oktober, bulannya Sumpah Pemuda. Kita sebagai pemuda Indonesia wajib banget turut ambil bagian berperan serta menjaga kelestarian hidup negeri tumpah darah. Sebagai #MudaMudiBumi wajib banget untuk menyumbangkan kontribusi nyata buat Indonesia. Oiya, ini Supah Pemuda versi saya 🙂 

#UntukmuBumiku saya siap untuk lebih menyayangimu.

#UntukmuBumiku,
Saya Putri Indonesia, mengaku mencintaimu, bumi Indonesia.

Saya Putri Indonesia, mengaku menyayangimu, tempat tumbuh dan hidupku.

Saya Putri Indonesia, berjanji akan lebih bijak dalam mengelola dan memanfaatkan sampah  setiap harinya. 

Yuk, ikut serta dalam aksi mitigasi tumpukan sampah kardus dan plastik hasil belanja online.

Jangan lupa tunjukkan aksi mitigasimu ya!? 🙂

sumber referensi :

Alvin dkk. 2021. Analisa Transaksi Belanja Online Pada Masa Pandemi Covid. Jurnal Teknoinfo.

http://lipi.go.id/berita/peningkatan-sampah-plastik-dari-belanja-online-dan-delivery-selama-psbb/22037

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200524154702-199-506483/lipi-sampah-plastik-paket-belanja-online-meningkat-saat-psbb

https://www.popmama.com/life/health/faela-shafa/cara-bijak-menangani-sampah-bekas-belanja-online/2

https://katadata.co.id/ariayudhistira/analisisdata/6143540c50b02/bahaya-lingkungan-di-balik-maraknya-belanja-online

https://nationalgeographic.grid.id/read/13910651/bahaya-lain-dari-plastik-proses-penguraiannya-ciptakan-gas-rumah-kaca

  1. www,lidbahaweres.com :

    Aku selalu berusaha untuk pilah sampah sejak dari rumah. Tapi sayangnya sih pas udah dikumpulkan bareng malah digabung jadi satu. Kayaknya memang harus ada kesesuaian. Untuk belanja online, kardusnya aku simpan dan aku rapiin untuk digunakan

  2. https://www.reyneraea.com/ :

    Astagaaa semacam tersentil dengan tulisan ini, kardus paketan segunung, dikumpulin, eh diambil ama nakanak, terus mereka mainin, terus kalau udah bosan dibuang gitu aja, ckckckckk.
    Kadang juga dibuat prakarya sih 😀

    Memang haru lebih bijak ya mengelola kardus dan juga plastiknya, yang buble wrap tuh, ampun banyak banget, saya simpan buat kirim paket, tapi jarang juga kirim paket hehehe

  3. Ah bener banget bahkan saat belanja ke pasar bawa tote bag pun penjual kekeuh tetep ngasih kresek dan dua belanja online n endorse ups udah banyak di rumah, biasanya dijadikan mainan anak dan tempat simpan mainan hehe

  4. https://www.trisuci.com :

    Pilih toko yang dekat. Selain hemat kemasan jg hemat ongkir tentunya … hehee
    Klo kardus aku sllu Tarok depan rumah biasa tiap pagi ada tukang Rosok yang ambilin.

  5. https://wahidpriyono.com/ :

    Wah bener nih, saya kadang terpikir gimana ya cara mengelola sampah dari kardus akibat belanja online. Tapi akhirnya yang saya lakukan kujual di tukang rongsok. Mudah2an akan didaur ulang nantinya.

  6. www.sunglowmama.my.id :

    Di rumah banyak bubble wrap nih. Bingung juga mau diapain lagi. Seringnya dijadikan ‘pop it’ haha. Atau suka dipakai untuk bungkus paket yang mau dikirim

  7. https://muthebogara.blog/ :

    Simpel tapi mengenaaaa ini mah tipsnya mba. Pokoknya sekecil apapun kita bisa melakukan banyak hal untuk turut serta memitigasi perubahan iklim. Aku kadang kalo belanja online, karena masih pengiriman Jabodetabek, aku suka kasih notes juga ke penjualnya, “tolong gak usah pakai bubble wrap.” Jadinya ini bisa meminimalisir pemakaian plastik juga mba.

  8. https://www.facebook.com/aq.yeeniechan :

    Bener banget mba. Sejak pandemi saya juga jadi sering belanja online. Suka ngerasa bersalah ikh ama sampah plastik dan dusnya huhuhu. Mau dikumpulin terus kasih pemulung ga ketemu pemulungnya. Tapi memang saya berusaha sebisa mungkin belanja sesuai kebutuhan aja untuk mengurangi sampah

  9. Bener banget gaya belanja yang berubah sebenrnya hanya memindahkan masalah saja. Kalau dulu orang belanja banyak berkerumum di pusat perbelanjaan , pasar, mall dan bisa membawa kantong belanja sendiri tapi resiko nya ya bnyk kemacetan dan kerumumunan masalahnya polusi dan pencemaran lingkungan . Sekarang trend gaya belanja pindah ke online akibat yang terjadi banyak sampah kemasan plastik dari belanjaan online..jadi masalahnya tetep sama pencemaran lingkungan ..gitulah muter2 aja ya hehehe

  10. https://ysalma.com/ :

    Di rumah selalu dipisah sampah kardus dan barang-barang lain yang bisa dimanfaatkan lagi. Kebetulan di tempat tinggal sudah ada bank sampah.
    Nah, benar banget, selama pandemi belanja online jadi lebih rajin, sampah plastiknya yang perlu perhatian khusus banget.
    Semoga kita semua makin bijak dalam mengelola sampah.

  11. Betul banget, Kak. Sampah dari belanja e-commerce itu numpuk, macam kardus-kardus dan bubble wrap. Biasanya aku pilah-pilih juga sebelum membuang, dan biasanya di tempat pembuangan itu sudah ada yang menunggu mengambil sumpah kardus.
    Sudah saatnya kita peduli akan lingkungan, bisa dimulai dari hal kecil di sekitar kita, kan

  12. https://www.talitha-rahma.com :

    MasyaAllah, terima kasih mbak untuk diingatkan kembali untuk bijak mengolah sampahnya. Saya termasuk yang naik turun soal pengolahan sampah ini. Ke depan, semoga saya bisa lebih istiqomah dalam memilah sampahnya, aamiin.

  13. https://www.annienugraha.com :

    Pengen banget bisa disiplin menggunakan kotak sampah sesuai dengan jenisnya begitu. Pernah beberapa waktu begitu tapi pemungutan sampah di kompleks saya masih mencampurkan semua. Jadi rasanya percuma melakukan pemisahan. Jadi manajemen sampah ini harus melibatkan banyak lini/lapisan masyarakat yang terlibat.

    Satu lagi yang saya khawatirkan adalah sampah masker dan kelengkapannya. Gak terbayang itu pasti sudah menggunung dan tak gampang untuk mengumpulkan dan menghancurkannya ya.

  14. Iya ya, plastik dan kardus belanja online jadi sampah yang besar sekarang. Banyak banget. Apalagi kalau di kisaran harbolnas. Sekarang sih istilah ini sudah tidak dipakai, tai intinya adalah saat ada promo besar-besaran.
    Kalau dibuat sesuatu atau didaur ulang lebih baik bagi alam kita.

  15. Hmmm setelah saya baca ini baru sadar juga sama sampah habis belanja online, saya orang yang lumayan sering belanja online tapi karena suami buka bisnis online jadi kardus lumayan di bisa dipakai kembali.

  16. https://www.jajan-nae.com/ :

    Merasa tertampar nih baca ini, sejak sering belanja via online karena pandemi, sampah plastik dan kardus jadi banyak huhu. Tipsnya boleh deh dicoba, siapa tahu bisa ikut membantu mengurangi sampah.


Your email address will not be published. Required fields are marked *