#MenjadiNasabahBijak

Saat ditengah kesibukan kerja, kira-kira pukul 10 pagi tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke smartphone saya. Sebuah gambar dengan menggunakan logo resmi bank. Pesan singkat itu berisi perubahan skema tarif transaksi bulanan. Tarif transaksi yang biasanya sebesar Rp.6500/transaksi akan berubah menjadi Rp. 150.000/bulan dengan unlimited transaksi. Jika  si penerima pesan tidak memberikan konfirmasi maka  dianggap setuju terhadap perubahan tarif transaksi tersebut.  Tak ketinggalan, logo resmi dan tanda tangan dari Kepala Departemen dan Sekretaris tercantum di bagian paling bawah. Pesan itu langsung saja saya abaikan karena tidak ada centang hijau di nomor pengirim tersebut. 

Baru-baru ini, saya juga mengalami  modus penipuan bank.  Sesaat setelah memfollow akun resmi instagram bank BRI. Selang beberapa detik kemudian, saya langsung ditelpon oleh nomor asing. Beruntungnya, saya paham kalo ini bagian dari oknum penipuan. Tak ingin waktu saya terbuang percuma, saya tidak mengangkat nomor telpon tersebut. Tak lama kemudian, saya mendapat pesan singkat di nomor Whatsapp bisnis. Profile instagram pribadi memang sengaja saya cantumkan nomor bisnis untuk layanan online shop yang saya kelola. Tak heran, dengan mudah oknum ini langsung mengirimkan pesan. Isi pesan tersebut menyanyakan apakah saya mengalami kendala atas pelayanan bank. Isi pesan yang tampak seakan-akan care terhadap customer, namun Alhamdulillah  saya tidak terpancing jebakannya. 

Tantangan di Era Digital

Era digital yang dihadapi saat ini memiliki banyak peluang dan juga tantangan. Semakin terbukanya informasi dan mudahnya akses informasi membuka peluang luas bagi siapa saja yang ingin mengeruk keuntungan di dunia digital. Namun, di sisi lainnya, kemudahan ini sekaligus  menjadi tantangan dalam hal penjagaan kemanan data pribadi setiap orang. Hal ini memberi celah bagi pihak pelaku penipuan untuk melancarkan aksinya. Menghadapi tantangan era digital ini, masing-masing kita harus mampu melindungi diri dari kejahatan siber yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. 

Modus penipuan masih marak terjadi saat ini dengan beragam cara jebakannya. Diantaranya dengan cara menelpon calon korban dengan  berlagak sok akrab, mengirimkan pesan singkat yang membuat panik atau butuh diselesaikan secepat mungkin, atau mengisi link form palsu yang mengatasnamakan nama bank atau instansi  resmi. 

Sayangnya, masih banyak dan ada saja  yang menjadi korban penipuan dari oknum yang tidak bertanggungjawab ini. Bagi korban penipuan, bisa langsung melaporkan kejadian ke bank yang  bersangkutan dan selanjutnya akan diproses oleh pihak aparat hukum. Ketidakhati-hatian korban bersumber dari ketidaktauan nasabah dalam membedakan informasi valid atau tidak. Karena pada umumnya pelaku penipuan menggunakan logo dan  tandatangan yang seakan-akan menunjukkan surat tersebut dikeluarkan resmi oleh pihak bank. 

Kejahatan Siber

Kejahatan Siber

Kejahatan siber di dunia perbankan umumnya menggunakan teknik rekayasa sosial atau yang biasa dikenal dengan soceng. Korban penipuan umumnya tidak menaruh curiga atau kurang waspada terhadap beragam bentuk penipuan yang dilakukan oleh pelaku soceng.

Menurut Saragih dan Azis (2020), di dalam RUU tentang Tantangan Penguatan Kemanan Siber dalam Menjaga Stabilitas Keamanan, defenisi kejahatan siber adalah aktifitas kejahatan yang menggunakan komputer atau jaringannya untuk mempermudah kejahatan itu terjadi. Kejahatan siber ini beragam jenisnya. Beberapa modus penipuan yang dilakukan pelaku social enginnering, melalui : 

spam phising

Spam phising dilakukan dengan cara mencoba memanipulasi korban  dengan target korban secara massal. 

Spam phising ini meminta korban untuk melakukan beberapa hal seperti :  mengisi form situs web palsu, membuka link web palsu, mengklik pop up login palsu atau melakukan  unduhan malware yang tanpa sadar dilakukan sukarela oleh korban.

Awalnya dilakukan  pendekatan melalui panggilan telepon, pesan teks, pesan singkat di whatsapp, dan atau melalui email. Cara spam phising ini banyak digunakan pelaku penipuan saat-saat tertentu khususnya seperti momen Ramadhan. Hampir separuh (41%) kasus penipuan dengan cara phising  menyerang lembaga keuangan. Selain itu website e-commerce, akun media sosial dan akun gim online serta aset kripto juga menjadi sasaran oknum ini. Sebaran ini terjadi di kuartal 2 tahun 2022. 

pharming

Modus yang kedua adalah modus pharming. Modus ini dilakukan dengan cara mengalihkan korban dari situs yang resmi ke situs bodong dengan tanpa disadari korban. Modus ini nantinya akan meminta data pribadi korban termasuk data perbankan korban. 

quid pro quo attacks

Modus penipuan ini umumnya dengan memberikan imbalan kepada calon korban setelah meminta korban mengisi form atau kuesioner. Imbalan yang diterima berupa tawaran produk GRATIS,  transfer pulsa atau voucher belanja. Beberapa situs web memang mengirimkan imbalan yang sudah dijanjikan, namun ada beberapa pelaku justru menggunakan data tersebut untuk kepentingan lain. 

Baiting attacks

Sesuai dengan namanya, modus penipuan ini menggunakan emosi keserakahan atau keingintahuan korban pada hal yang ditawarkan oleh pelaku. Tawaran barang gratis berupa software atau produk yang terkadang sudah diincar oleh korban. Modus penipuan ini dilakukan melalui email korban.  

key logger

Kejahatan siber ini dilakukan dengan menggunakan software. Software yang sengaja ditanamkan ke smartphone atau laptop. software ini akan mampu menghafal tombol keyboard yang digunakan oleh korban. Dari hasil ketikan tersebut, oknum penipu dapat  menggunakan informasi tersebut  untuk tujuan kejahatan. 

scareware attacks

Modus penipuan ini menggunakan modus infeksi malware yang palsu atau mengatakan bahwa perangkat smartphone atau laptop kita telah terinfeksi malware palsu. Dengan kondisi  emosional ketakutan atau kekhawatiran akan terjadi sesuatu pada smartphone, maka  tanpa pikir panjang korban mau dimintai data pribadi oleh oknum penipu.  

Pendekatan yang dilakukan dalam modus penipuan di dunia perbankan biasa menggunakan social engineering atau disingkat dengan soceng. Soceng atau rekayasa sosial adalah teknik manipulasi yang memanfaatkan kelemahan manusia untuk mendapatkan informasi pribadi, akses atau data berharga lainnya. 

Manipulasi psikologis biasa digunakan sebagai strategi serangan psikologis yang dibangun berdasarkan cara berfikir atau bertindak. Cara ini digunakan agar korban tidak menaruh curiga sehingga mudah terkelabui oleh pelaku. 

Cara kerja soceng menggunakan media komunikasi. Sebelumnya pelaku akan mengumpulkan informasi atau latar belakang korban terlebih dahulu. Dengan kelihaian pelaku dalam berkomunikasi atau menciptakan kondisi urgent, interaksi antara pelaku dan korban mulai terbentuk. Pada saat sudah mulai terbentuk kepercayaan, di saat itulah pelaku melancarkan aksinya mengorek data pribadi korban khususnya mengenai data perbankan. 

Sisi emosional biasanya  yang akan dijadikan senjata oleh pelaku untuk menarik korban. Misalnya rasa takut, gembira, rasa ingin tau, atau sedih. Kondisi emosional inilah yang dimanfaatkan oleh pelaku dalam melancarkan modus penipuan yang mendesak korban untuk bertindak sesuai permintaan pelaku kejahatan. 

Trus, Bagaimana cara mengenalinya?

Beragam cara yang dipakai sebagai modus penipuan untuk menarik perhatian korban, menawarkan fasilitas GRATIS, memenangkan undian dan banyak cara lainnya.

Waspada terhadap penawaran-penawaran berikut yang mengatasnamakan bank : 

  1. Penawaran menjadi nasabah prioritas. Bagi nasabah terpilih BRI akan secara langsung memberikan undangan resmi kepada nasabah
  2. Pura-pura menawarkan bantuan terkait masalah perbankan yang dialami, seperti yang saya alami di cerita sebelumnya.
  3. Menyarankan nasabah untuk meng-klik link website BRI  palsu atau link website BRImo palsu 
  4. Adanya akun media sosial palsu yang menawarkan layanan untuk menyelesaikan keluhan nasabah
  5. Adanya penawaran atas kemudahan menjadi agen 

Cara Melindungi Diri dari Kejahatan Siber

Dalam menghadapi tantangan era digital, kita wajib punya benteng untuk melindungi diri dari kejahatan siber. Yuk, simak tips lengkap dalam melindungi diri dari berbagai aksi kejahatan soceng : 

  1. Selalu sadar diri dan tidak reaktif dalam merespon  hal seperti mengklik tautan web atau saat menerima ancaman lewat telpon. 
  2. Kendalikan rasa ingin tau pada hal tertentu, rasa takut atas serangan ancaman, rasa tergiur atas sebuah tawaran GRATIS, atau rasa terlalu bahagia saat diberitahukan  memenangkan sebuah kompetisi atau undian. 
  3. Tanyakan pada diri sendiri, apakah pihak yang menghubungi berasal dari pihak resmi atau sumber yang terpercaya. 
  4. Lakukan ricek atau konfirmasi dari pihak terkait mengenai hal yang baru didengar atau dibaca. 
  5. Lakukan pengecekan informasi meskipun foto profil menunjukkan seakan-akan informasi tersebut berasal dari sumber yang  resmi. Kemungkinan duplikasi foto atau pengambilan foto profil dari pihak lain bisa saja terjadi. 
  6. Aktifkan notifikasi real time atau  SMS jika terjadi aktifitas transaksi di aplikasi perbankan
  7. Aktifkan autentifikasi ganda sebagai garda keamanan terdepan pada aplikasi media sosial atau aplikasi perbankan yang ada di smartphone. Langkah ini sangat penting untuk memverifikasi data sebelum masuk ke akun. Kode sandi sementara akan dikirimkan melalui SMS atau whtsapp untuk dapat mengakses akun. 

Keamanan Data Pribadi

Jangan Gampang Tergiur! Lakukan pengecekan ulang ke akun media sosial resmi atau yang verified.

Sebelum menjadi target penipuan, kita wajib sudah melakukan pengamanan atas data pribadi yang kita miliki : yuk lakukan hal ini  : 

  1. Gunakan variasi huruf, angka, simbol atau huruf besar pada kata sandi agar tidak mudah diretas oleh orang lain atau hacker 
  2. Jangan mengklik link atau email yang tidak jelas sumbernya 
  3. Aktifkan otentifikasi ganda pada seluruh akun media sosial dan akun aplikasi  perbankan
  4. Tidak membagikan data pribadi  kepada pihak manapun selain sedang berada di lembaga resmi yang dituju. 
  5. Tidak mempercayai orang asing untuk terhubung dengan jaringan wifi anda. Kemungkinan data terenkripsi bisa saja terjadi. 
  6. Selalu mengunci perangkat komputer atau smartphone anda saat berada di tempat umum termasuk tempat kerja
  7. Lakukan update software smartphone atau perangkat lainnya agar semakin memperkecil kemungkinan dalam  meretas akun. 

Untuk menghindari hal-hal penipuan perbankan seperti diatas, Data penting perbankan yang tidak boleh dibagikan adalah data berupa :  

  1. PIN 
  2. Username 
  3. One Time Password
  4. CVV/CVC
  5. M-token 

Data diatas tidak perlu diberikan kepada pihak manapun termasuk kepada petugas Bank. Ditambah lagi, kita perlu waspada terhadap penipuan yang disampaikan lewat Whatsapp, email, telepon, alamat web yang mengatasnamakan bank. Ada baiknya untuk mengetahui atau menyimpan Nomor Whatsapp resmi bank. Hal terakhir yang bisa dilakukan adalah melakukan koreksi atau pengecekan langsung  ke media sosial resmi bank. 

Umumnya pihak Bank sudah memberikan himbauan peringatan  mengenai modus penipuan yang sedang terjadi. Misalnya saja pemberitahuan melalui akun sosial media instagram atau twitter.  Bank mengingatkan nasabahnya untuk tidak mempercayai modus penipuan yang kerap digencarkan. 

Penyuluh Digital

Penyuluh digital atau agen digital menjadi jembatan solusi bagi siapapun yang membutuhkan informasi atau literasi digital di tengah masyarakat.

Literasi digital diperlukan agar tidak menjadi korban penipuan berikutnya. Melek digital sangat penting di era digitalisasi saat ini. Menurut salah satu sumber, hadirnya penyuluh digital akan menjadi garda terdepan di era digital.  Penyuluh digital adalah agen-agen digital yang diharapkan mampu membantu masyarakat yang belum terpapar informasi digital. 

BRI, salah satu bank terbesar di Indonesia memaksimalkan upaya dalam melakukan pendampingan akses layanan digital melalui penyuluh digital. Edukasi layanan digital perbankan masih sangat diperlukan masyarakat yang masih nyaman menggunakan cara-cara konvensional, seperti melakukan pembukaan rekening tidak perlu langsung dilakukan di bank. Namun, dengan adanya penyuluh digital, masyarakat diharapkan mampu melakukan pembukaan rekening secara online dan mandiri langsung lewat aplikasi. Penyuluh digital ini juga menjadi jembatan dalam hal sosialisasi produk digital, sosialisasi resiko dan keamanan produk digital.  Tiga tugas besar yang diemban oleh  penyuluh digital adalah : 

Tugas pertama

Mengajarkan masyarakat agar mampu membuka rekening secara digital.

Tugas kedua

Mengedukasi masyarakat agar mampu melakukan transaksi secara digital.

tugas ketiga

Mengedukasi masyarakat agar dapat melindungi data pribadi dari beragam jenis kejahatan siber.

Hadirnya penyuluh digital di tengah  masyarakat yang masih awam diharapkan akan  membantu dalam  penyelesaian masalah literasi digital yang dihadapinya. Untuk akses informasi secara online, BRI juga telah membuat hashtag khusus  #BRIEdukasi di akun twitter BRI. Dengan hashtag tersebut,  masyarakat yang membutuhkan informasi bisa dengan mudah mendapatkan kumpulan  informasi penting tentang layanan atau akun resmi dari bank BRI. 

 

 

Dengan mengakses #BRIEdukasi di akun twitter @kontakBRI, BRI terus berupaya untuk mengedukasi nasabah agar tetap waspada dan mendapatkan informasi valid tentang BRI.  Beberapa isi edukasi yang dilakukan adalah mengenai cara membedakan akun whatsapp,  instagram, dan telegram palsu dan banyak tips lainnya. 

BRI tumbuh dan besar bersama usaha ultra mikro, mikro, kecil, dan menengah. Dengan jumlah nasabah yang sangat besar, bank mengajak nasabah untuk terus berhati-hati dan waspada saat menerima pesan apapun yang mengatasnamakan bank dengan menggunakan media apapun. Bank memiliki tanggungjawab dalam berkoordinasi dengan aparat penegak hukum dalam melacak pelaku kejahatan perbankan. Dan selanjutnya pihak aparat hukumlah yang akan melakukan tindakan atau pemberian hukuman terhadap oknum kejahatan ini. 

Jika teman-teman menemukan akun palsu yang mengatasnamakan bank BRI segera laporkan akun tersebut melalui kontak resmi BRI atau dengan mengirim email ke callbri@bri.co.id atau kontak resmi di bawah ini ya.

Yuk, informasi lengkap untuk melindungi diri dari kejahatan siber tidak berhenti di sini atau di temen-temen saja. Sampaikan detail informasinya kepada keluarga lainnya atau lingkup pertemanan agar benar-benar siap menghadapi tantangan di era digital, dengan membekali diri mengenai ragam modus kejahatan siber. Dengan begitu, tantangan era digital akan perlahan bisa dikendalikan dan dikuasai dengan belajar menjadi nasabah bijak. 

Referensi : 

bri.co.id/detail-news

databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/08/23/ada-5-ribu-serangan-phising-terjadi-di-ri-pada-kuartal-ii-2022-ini-lembaga-yang-paling-banyak-diincar

hariansinggalang.co.id/penyuluh-digital-transformasi-kekinian-bri-di-usia-126-tahun/

twitter.com/kontakBRI

www.cnbcindonesia.com/market/20220531105954-17-343151/bri-optimalkan-peran-penyuluh-digital-ini-tugasnya

www.kaspersky.com/resource-center/definitions/what-is-social-engineering

 

  1. https://www.nyiomas.xyz/ :

    hadir di Indonesia sebelum kemerdekaan membuat BRI paham banget dengan dinamisnya masyarakat Indonesia ya?

    hadi r di sektor UMKM , pertanian dan start up

    sekarang membantu masyarakat ,memerangi penipuan siber

  2. https://www.siskadwyta.com :

    Suami saya juga baru beberapa waktu lalu kena modus penipuan dari oknum yang mengatasnamakan BRI. Ada2 saja triknya ya. Bahkan yang boleh dikata melek digital masih bisa jadi korban penipuan. Jadi benar2 harus berhati2 agar terhindar dari kejahatan siber

  3. www.dennisesihombing.com :

    Manfaat banget nih artikelnya kakak. Saya beberapakali ada telpon dengan nomor tidak dikenal. Karena saya tidak angkat dia WA. Lalu dengan gencar dia tawarkan hadiah gratis dan bla-bla-bla, ya aku udah tahu ini pasti penipuan (apalagi nomornya bisa saya lacak) langsung blokir telp dan WA nya. Jadi aman. Terpenting memang jangan dilayani dan tergiur ya kak

  4. https://www.sumiyatisapriasih.com :

    Aku juga sudah menjadi nasabah BRI sejak tahun 2013, karena BRI sangat paham akan kepedulian masyarakat seperti menerbitkan Biaya UMKM, pertanian dan start up

  5. https://www.lendyagassi.com/ :

    Melihat fakta yang terjadi di lapangan, kejahatan siber yang kini merajalela memang meresahkan dengan korban yang beragam.
    Semoga dengan edukasi yang baik mengenai soceng, kita semua bisa terhindar dari kejahatan siber yang meresahkan.

  6. https://www.utieadnu.com :

    Menjadi nasabah bijak kuncinya Ada di diri Kita ya mba… Jangan terlalu cepat percaya Dan selalu waspada y.. aplg terlalu open ttg data diri d media sosial

  7. https://www.wairaa.my.id/ :

    gak ada yang bisa melindungi kita selain diri sendiri yaa.
    Saya salah satu orang yang malas tahu dan langsung menghapus link-link yang dikirim via chat, takut link tersebut adalah virus yang dikirim orang jahat untuk meng-hack akunku

  8. Serem lho ya kejahatan cyber jaman sekarang makin pinter. Kalo saya biasanya klo ada sms/wa dari nomor hp saya biasanya gak peduliin, klo emang dari instansi biasanya nomor hp nya langsung tertulis nama instansinya, contohnya BRI, TELKOMSEL, dll


Your email address will not be published. Required fields are marked *